DATARIAU.COM - Pandemi belum juga lelah berada di negeri ini. Namun manusianya sudah banyak yang lelah bahkan meregang nyawa menghadapi wabah yang Allah kirimkan ini. Bahkan sudah semakin tinggi angka penularan wabah ini hingga pasien yang terkena wabah harus diasingkan dan dirawat di rumah sendiri. Bukan lagi penderita gejala ringan bahkan isolasi mandiri harus dilakukan bagi penderita bergejala berat.
Berdasarkan laporan tim LaporCovid-19, ada sekitar 675 orang yang menjalani isolasi mandiri karena virus Corona dinyatakan meninggal dunia per Juni lalu. Tak hanya itu, ada 206 tenaga kesehatan yang juga turut gugur saat menangani pasien yang terpapar virus Corona.
Ditambahkan oleh Koordinator LaporCovid-19, Irma Hidayana, dalam konferensi pers virtual, Ahad (18/7/2021), jika ditotalkan, ada 1.371 nakes yang meninggal selama 1,5 tahun pandemi mewabah di Tanah Air. Pemerintah melaporkan tambahan kasus baru Corona sebanyak 51.952 kasus positif Corona (COVID-19). Sebanyak 27.903 pasien sembuh dari Corona dan 1.092 kasus meninggal karena COVID-19.
Total positif Corona secara kumulatif sejak Maret 2020 hingga Juli ini berjumlah 2.832.755 dan kasus sembuh kumulatif sebanyak 2.232.394. Sementara itu, hingga Juli ini, tercatat pasien Corona yang meninggal di RI mencapai 72.489 orang. (news.detik.com.18/07/2021)
Maka, penting bagi pemerintah dan kita semua mengevaluasi langkah-langkah yang sudah dilakukan, agar rakyat negeri ini tak banyak lagi yang meregang nyawa.
Kesalahan dalam penanganan wabah
Wabah di negeri ini sudah terhitung lama terjadi, maka harusnya bersegera untuk menyelesaikannya dengan benar-benar solutif. Setiap kebijakan yang dibuat semenjak virus Covid19 ada di negeri ini selalu berubah-ubah. Karena memang terlihat fokus saat ini lebih ke arah perbaikan ekonomi. Padahal sejatinya Pereknomian juga tak ada peningkatan. Bahkan rakyat masih banyak menderita kelaparan karena wabah.
Setidaknya dari fakta yang terlihat ada beberapa kesalahan yang telah diterapkan pemerintah dalam penanganan wabah. Pertama, ketidaksiapan alat tempur salam melawan wabah. Terlihat dari banyaknya rakyat yang tidak dapat ditampung di beberapa rumah sakit, dan banyaknya antrian rakyat dalam membeli oksigen secara pribadi.
Kedua, kebijakan pemerintah yang berubah-ubah. Hal ini berakibat pada semakin sulitnya proses tracing (pelacakan) di masyarakat. Dikarenakan mobilitas masyarakat yang terus berjalan.
Ketiga, kurangnya pemantauan dan perawatan tim media terhadap pasien Isoman. Sehingga banyak di antara pasien yang Isoman dirawat di rumah tidak dengan perlengkapan medis yang memadai, seperti oximer, dsb. Bahkan warga yang Isoman asupan makanannya dipenuhi oleh warga sekitar yang bergotong royong membantu. Lalu, di mana peran negara menjamin kebutuhan pokok rakyat?
Keempat, minimnya edukasi terhadap warga yang menjalani Isoman di rumah. Tak jarang ketika mereka awam terhadap masalah penanganan virus, gejala Covid 19 yang awalnya ringan bisa berlanjut ke gejala berat.
Kelima, pentingnya kesatuan visi dan kerja sama antara pemerintah pusat dan daerah. Persatuan itu, bisa berdampak patuhnya rakyat terhadap pelaksaan protokol kesehatan yang diterapkan oleh pemerintah. Sebaiknya pemerintah baik pusat dan daerah mau bersikap lapang dada terhadap berbagai kritikan dari warga.
Islam Membantu Pemerintah Menghentikan Wabah
Sungguh mulia Allah Ta'ala. Jelas dalam Firman Allah di kabarkan surat Asy-Syuraa ayat 80: "Dan apabila aku sakit, Dialah (Allah) yang menyembuhkan aku".
Begitu juga disebutkan dalam hadits "Ma?anzalallahu daa an, illa anzala lahu syifaan," (HR. Bukhori), artinya "Allah tidak akan menurunkan satu penyakit kecuali Allah turunkan juga obatnya".
Maka selagi pihak medis mengikhtiarkan mendeteksi obat dari wabah ini, maka banyak hal yang bisa dilakukan pihak lain semisal penguasa dan para pengambil kebijakan demi keselamatan nyawa rakyat. Kalau pemerintah peduli seperti seorang bapak kepada anaknya, insyaa Allah rakyat akan taat dan patuh terhadap apapun kebijakan pemerintah.
Pemimpin adalah pengurus urusan rakyat. Ia akan diminta pertanggungjawaban atas apa yang diurusnya. Apakah negara sudah memberikan layanan terbaik kepada rakyatnya? Dalam Islam, satu nyawa manusia sangat berharga.
Dari al-Barra? bin Azib radhiyallahu ?anhu, Nabi shallallahu ?alaihi wa sallam bersabda, ?Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingnya terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.? (HR Nasai 3987, Tirmidzi 1455)
Islam sudah memberikan panduan sahih dalam menangani wabah, yaitu karantina wilayah atau yang biasa disebut dengan lockdown. Namun, solusi ini tidak menjadi pilihan utama bagi pemerintah hari ini. Mereka lebih memilih memprioritaskan pemulihan ekonomi ketimbang pemulihan sistem kesehatan.
Maka ada beberapa saran untuk pemerintah dalam hal penanganan wabah. Pertama, lakukan karantina wilayah (lockdown). Kedua, penuhi kebutuhan rakyat selama karantina. Ketiga, peningkatan 3T (testing, tracing, treatment). Keempat, menyediakan shelter isolasi bagi pasien bergejala ringan atau sedang.
Kelima, memenuhi fasilitas kesehatan yang dibutuhkan RS, shelter isolasi, dan puskesmas. Keenam, pemberian insentif bagi para nakes. Ketujuh, mengedukasi masyarakat agar tetap mematuhi protokol kesehatan. Kedelapan, vaksinasi secara gratis bagi seluruh rakyat.
Jika kedelapan langkah tersebut dilakukan, dengan izin Allah pandemi bisa teratasi. Bila kebijakan salah langkah, pandemi akan terus berlarut-larut akibat sikap dan kepemimpinan yang tidak berbasis ketakwaan.
Maka, jadilah orang cerdas dengan kembali kepada suri tauladan kita Rasullullah dalam mengatasi wabah dan mengatasi seluruh problem kehidupan lainnya. ***
Oleh: Nora Afrilia SPd (Aktivitis Muslimah)