Semangat Hari Tani untuk Meningkatkan Produksi Padi

Ruslan
540 view
Semangat Hari Tani untuk Meningkatkan Produksi Padi
Ilustrasi (Foto: Internet)

DATARIAU.COM - Dampak Pandemi covid19 bukan hanya terjadi pada kesehatan manusia, namun juga berpengaruh pada kegiatan ekonomi. Berkurangnya kegiatan masyarakat membuat beberapa kegiatan ekonomi tidak bisa berjalan secara optimal.

Kondisi ini tercermin dari pertumbuhan ekonomi selama pandemi, dimana Riau selama tahun 2020 mengalami kontraksi sebesar -1,12 persen.

Pada triwulan 1 tahun 2021 perekonomian Riau mulai menggeliat dengan tumbuh sebesar 0,41 persen dibanding triwulan yang sama pada tahun 2020. Perbaikan ekonomi kembali terasa di triwulan 2 tahun 2021 dimana ekonomi Riau tumbuh 5,13 persen dibanding triwulan 2 tahun 2020.

Ketika pandemi covid19 menghantam sektor publik yang cukup vital, seperti perdagangan, transportasi, dan jasa akomodasi serta pariwisata, sektor pertanian masih tumbuh positif.

Sebuah prestasi yang perlu diapresiasi. Selama tahun 2020 sektor pertanian di Propinsi Riau tumbuh 1,75 persen. Pada tahun 2020, kontribusi Sektor Pertanian, Kehutanan dan Perikanan sebesar 26,83 persen dari ekonomi Provinsi Riau.

Tanggal 24 September merupakan tanggal yang penting bagi petani Indonesia. Pada tanggal ini diperingati sebagai Hari Tani Nasional, bertepatan dengan disahkannya Undang-Undang Pokok Agraria No 5 Tahun 1960. Hari Tani Nasional merupakan bentuk peringatan untuk mengenang sejarah para petani dan juga untuk mengenang perjuangan untuk bebas dari penderitaan akibat hukum-hukum kolonial.

Setelah 61 tahun Hari Tani Nasional ditetapkan bagaimana kondisi petani dan produksi pangan di Riau saat ini?

Merujuk hasil Survei Pertanian Antar Sensus (SUTAS) 2018, jumlah rumah tangga yang mengusahakan pertanian sekitar 654.983 rumah tangga. Dari jumlah tersebut mayoritas mengusahakan tanaman perkebunan, sekitar 86 persen.

Masih berdasarkan hasil survei yang sama, mayoritas rumah tangga pertanian menguasai lahan pertanian satu sampai tiga hektar, dan sebagian besar digunakan untuk usaha perkebunan.

Kata Tani secara umum sering diindentikan dengan orang yang bergelut di pertanian tanaman pangan. Ketika disebut kata tani, sebagian orang terbayang tanaman padi dan palawija. Namun di wilayah Riau yang didominasi tanaman perkebunan tidak demikian, rumah tangga yang mengusahakan tanaman padi hanya sekitar 13 persen.

Pertanian di Propinsi Riau bergerak kearah tanaman perkebunan terutama komoditas kelapa sawit. Namun mengingat padi adalah sumber pangan utama maka diperlukan perhatian bersama tentang masa depan kecukupan dan kemandirian pangan. Seperti disampaikan Presiden RI pertama, Ir Soekarno bahwa soal pangan adalah soal hidup matinya bangsa.

Saat ini sebagian besar kebutuhan beras di Riau dicukupi dari pasokan daerah lain. Mengingat luas tanaman padi di Riau yang semakin berkurang akibat beralih komoditas maupun beralih fungsi maka diperlukan beberapa langkah strategis untuk dapat meningkatkan produksi.

Guna meningkatkan produksi padi minimal ada tiga hal yang perlu mendapat perhatian; Pertama luas baku sawah i sedapat mungkin dipertahankan, jangan sampai tergerus oleh peralihan lahan atau istilah lain sawah yang saat ini ada dijadikan sebagai lahan sawah abadi, yang peruntukannya untuk produksi padi. Untuk meningkatkan luas sawah perlu dilakukan pencetakan lahan sawah baru dari lahan yang tidak produktif atau mengotimalkan kembali beberapa lahan sawah yang mungkin terbengkalai.

Seiring dengan program food estate yang dikembangkan pemerintah maka pencetakan lahan pertanian termasuk prasarana yang memadai seperti irigasi menjadi hal yang mungkin dilakukan.

Kedua, luas panen harus ditingkatkan. Bila diamati ternyata indeks panen tahun 2020 yang belum mencapai 200 artinya belum semua lahan sawah ditanami dua kali dalam setahun. Bagaimana meningkatkan luas panen dalam satu tahun, itu yang perlu dipikirkan.

Fakta di lapangan, banyak faktor yang menyebabkan sawah tidak ditanami lebih dari satu kali, seperti faktor cuaca, faktor air (terkait irigasi), atau faktor kultur budaya masyarakat (sawah digunakan untuk melepas hewan ternak selama berbulan-bulan).

Sistem pengairan yang baik dan ketersediaan air yang cukup merupakan faktor penunjang untuk meningkatkan luas panen. Peran penyuluh pertanian dalam hal ini sangat dibutuhkan.

Barangkali perlu dikaji penerapan teknologi budidaya padi salibu yaitu teknik menanam padi dengan memanfaatkan rumpun padi sisa panen sehingga dapat menekan biaya produksi, baik pengolahan lahan maupun biaya tanam.

Langkah ketiga adalah meningkatkan produktivitas padi. Rata-rata produktivitas padi berdasarkan hasil ubinan adalah 4,1 ton/hektar GKP. Karena ini adalah angka rata-rata berarti ada yang produktivitas di atas 4 ton/hektar yang berarti artinya ada peluang meningkatkan produktivitas. Bila produktivitas naik maka secara produksi padi akan naik.

Metode atau cara meningkatkan produktivitas padi, tentu dinas yang berkompeten terhadap masalah pertanian yang jauh lebih paham, baik dari pemilihan bibit, pemeliharaan sampai pada proses panen.

Meningkatkan produksi pangan terutama padi di Provinsi Riau merupakan suatu tantangan. Karena secara ekonomi, budidaya kelapa sawit lebih menggiurkan. Namun bila mengacu pada konsep ketahanan pangan, maka produksi tanaman pangan memang harus ditingkatkan.

Secara besaran Nilai Tukar Petani (NTP) memang tanaman pangan lebih rendah dibanding NTP perkebunan, tapi apakah selamanya kita akan bergantung pada propinsi lain dalam mencukupi kebutuhan pangan? Apalagi di tengah pandemi covid-19 yang sewaktu waktu bisa mengancam sistem distribusi barang, maka kemampuan mencukupi pangan sencara mandiri harus segera diwujudkan. (*)

Penulis
: Joko Prayitno
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)