DATARIAU.COM - Sampai saat ini, Covid-19 masih berstatus pandemi. Artinya, penambahan kasus penyakittidak berkurang dan berkembang semakin cepat. Semakin disadari, Covid-19 bukanlah penyakit biasa yang bisa dianggap sebelah mata. Virus ini menimbulkan reaksi yang berbeda-beda pada manusia. Yang paling rentan, anak-anak dan lanjut usia.
Tidak ada negara yang tidak bingung dan panik dengan kehadiran covid-19 ini. Tidak ada yang menyangka bahwa virus ini begitu mematikan. Bukan lain karena ia sangat mudah menular dan menyebar, baik itu melalui bersin, bersentuhan, bahkan tanpa bersentuhan sekalipun bisa
saja tertular.
Ada berbagai alasan yang masuk akal membuat banyak orang panik atas munculnya Covid-19. Pertama, virus itu bisa menyebar dengan sangat cepat dan menimbulkan gejala yang
bisa berujung pada kematian.
Kedua, belum ada anti-virus atau vaksin rangka penyembuhan virus yang masih sekeluarga dengan SARS ini.
Menurut World Health Orhanization (WHO), virus ini dapat mudah menyebar melalui batuk atau bersin. Oleh sebab itu, ketika sedang bersin atau batuk, kita diwajibkan menutup
mulut dan alat pernapasan. Juga sebaiknya senantiasa menggunakan pelindung/masker.
Usaha sudah dilakukan oleh berbagai pihak, namun virus masih suka menyebar. Konon, virus juga
menyebar bebas di udara. Namun, hal ini masih menjadi perbedaan pendapat di antara kalangan ahli medis dan kedokteran.
Masalahnya, Masih Ada yang Tidak Percaya
Yang mengeherankan, masih banyak orang-orang yang tidak percaya dan meragukan keberadaan virus ini. Ada yang mengatakan, virus Covid-19 hanya hoax.
Ada juga yang mengatakan bahwa ini hanyalah bagian dari konspirasi global. Penyebaran virus ini adalah murnirekayasa atau dibuat-buat.
Kecenderungan masyarakat mencari informasi yang kurang dan terpotong-potong menjadi penyebab fenomena tersebut. Kurangnya edukasi kepada masyarakat juga menjadi faktorpendukung. Ditambah, pemerintah yang kurang tegas memberantas penyebaran virus seperti membiarkan orang asing masuk ke Indonesia. Padahal, situasi ini genting dan nyata di depan mata.
Yang membuat masyarakat semakin lama semakin kritis yakni mereka hanya cenderung melihat orang-orang sekitar dan tidak terinfeksi bahkan baik-baik saja. Keadaan seperti itu semakin membuat mereka memperdebatkan apakah virus ini nyata atau tidak.
Perilaku Denial Masyarakat terhadap CoronaFenomena ketidakpercayaan tersebut diistilahkan sebagai perilaku denial.
Denial adalah konstruksi yang digunakan seseorang atau masyarakat secara psikologis terhadap suatu realitas.
Menurut Eve Whitmore, seorang psikolog dari Ohio, pengabaian terhadap virus corona ini termasuk perilaku denial. Artinya, masyarakat mengonstruksi dalam diri mereka bahwa virus ini sebenarnya tidak ada.
Penyangkalan ini terwujud dalam banyak hal, seperti menolak tidak ingin memakai masker hingga tetap mengadakan atau menghadiri acara-acara yang mengumpulkan banyak orang.
Banyak faktor yang membuat mereka semakin tidak yakin dengan adanya virus Covid-19 ini. Salah satu faktor utama, banyaknya pejabat bahkan orang-orang terpandang di dalam pemerintahan yang berkumpul tanpa menjaga jarak bahkan tanpa menggunakan masker.
Ironisnya, justru rakyat biasa yang dilarang untuk berkerumun. Bukankah kita sama. Sama-sama manusia biasa yang bisa saja kapan pun akan terinfeksi virus Covid -19 tersebut.
Banyak juga wisata-wisata yang masih dibuka bahkan itu sangat mengundang perhatian banyak orang. Membuka wisata beresiko besar terjangkit virus Covid-19. Yang menjadi
pertanyaan kenapa sekolah-sekolah, kampus sampai saat ini masih dilarang untuk dibuka. Bahkan sudah berlangsung sangat lama.
Jadi yang perlu kita lakukan saat ini yaitu dengan menaati peraturan di negara kita, demi keamanan dan keselamatan kita bersama. Tidak perlu kita perdebatkan hal-hal yang tidak patut diperdebatkan. Sehat itu dimulai dari diri kita sendiri.
Wabah virus Corona ini yang sedang terjadi diantara kita semua. Sangat banyak sekali hikmah yang paling besar adalah bahwasanya dengan wabah yg allah berikan kepada kita, kita menjadi semakin sadar bahwa Allah lah segala pencipta langit, bumi dan seisinya.
Dilansir The United Nations Environment Programme, menjaga kebersihan diri dan lingkungan sangat diperlukan. Terlebih lagi saat penyebaran virus ini sudah dimana-mana.
Kita juga dilatih untuk senantiasa menjaga kebersihan diri juga lingkungan. Bahkan adanya virus inimenuntut kita untuk lebih sering mencuci tangan menggunakan air bersih dan mengalir. Kitajuga diharapkan untuk tak lupa selalu membersihkan lingkungan sekitar kita agar tetap terjagakesterilannya. (*)
*Penulis merupakan Mahasiswi Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia di UIN Suska Riau.