Palestina: Di Balik Tirai Kekejian dan Matinya Rasa Kemanusiaan

Oleh: Vivi Nurwida
datariau.com
319 view
Palestina: Di Balik Tirai Kekejian dan Matinya Rasa Kemanusiaan
Ilustrasi. (Foto: int)

DATARIAU.COM - Genosida yang dilakukan entitas Yahudi terhadap umat Islam di Gaza masih terjadi hingga hari ini. Zionis juga menjadikan kelaparan sebagai alat pembunuh dengan melarang warga Palestina di jalur Gaza untuk mendekati pusat-pusat bantuan. Hal ini mengakibatkan dampak yang sangat buruk terhadap kelangsungan hidup perempuan, para lanjut usia, dan juga anak-anak, serta bayi yang sangat membutuhkan makanan pada masa pertumbuhan mereka.

Serangan brutal di hari raya pun tidak berkurang. Sedikitnya 17 warga Palestina dilaporkan meninggal dunia pada hari Sabtu (7/6/2025) dini hari waktu setempat, bertepatan dengan hari kedua perayaan Iduladha, imbas serangan udara dan tembakan militer Israel di wilayah selatan Jalur Gaza, terutama di daerah Khan Younis dan Rafah. Perayaan Iduladha tahun ini menjadi yang ke-4 bagi warga Gaza sejak dimulainya operasi militer Israel, yang disebut-sebut sebagai upaya genosida dan telah merenggut hampir 54.700 jiwa (beritasatu.com, 07-06-2025).

Matinya Rasa Kemanusiaan


Zionis tidak pernah memedulikan aturan dalam peperangan. Mereka dengan keji dan brutal menyerang fasilitas umum seperti rumah sakit, sekaligus membunuh petugas kemanusiaan, tenaga medis, dan jurnalis. Warga sipil, anak-anak dan perempuan juga tak luput dari serangan keji penjajah laknatullah ini. Bahkan, penjajah ini menutup akses bantuan kemanusiaan untuk Palestina.

Sementara itu, negara-negara besar dunia hanya diam. Bahkan, penguasa negeri-negeri Muslim hanya sibuk beretorika tanpa tindakan nyata dengan mengirimkan pasukan untuk mengusir penjajah itu. Mereka diam meski rasa kemanusiaannya terkoyak, padahal rasa itu fitrah yang dimiliki manusia, untuk menolong sesamanya, terlebih bayi yang lemah tak berdaya. Di balik tirai kekejian Zionis, rasa kemanusiaan rupanya telah mati.

Meskipun jutaan kecaman, kutukan, dan peringatan dihembuskan oleh organisasi internasional seperti OKI, juga dilakukan oleh pemimpin negeri Islam , rupanya tidak membuahkan hasil sama sekali atas pendudukan Zionis atas tanah Palestina. Justru, pendudukan Zionis atas tanah Palestina makin masif, pemukiman Zionis semakin melebar berdiri kokoh di atas genangan air mata dan darah para syuhada. Sementara itu, wilayah Palestina semakin sempit, dan penduduknya semakin menderita.

Di balik tirai kekejian Zionis, umat bisa melihat sifat asli para pemimpin negeri-negeri Muslim yang justru mengkhianati umat. Penguasa memiliki kekuatan militer yang besar, namun para pemimpin Islam tetap memilih diam dengan tidak mengirimkan pasukan mereka guna membela darah dan kehormatan kaum muslimin.

Penguasa negeri-negeri Muslim hanya sekedar pencitraan ketika menyerukan pembelaannya kepada Palestina, terlebih solusi yang diberikan tetap mengikuti solusi yang sesuai arahan Barat. Misalnya, solusi dua negara (two state solution) yang juga disetujui pemerintah Indonesia untuk menghentikan kekejian Israil ke Gaza, Palestina. Bahkan, mau melakukan hubungan diplomasi dengan negara penjajah itu dengan alasan tukar guling kemerdekaan.

Buah Kapitalisme


Indonesia sebagai negara Muslim terbesar seharusnya memiliki peran dan tanggung jawab yang lebih besar dalam upaya pembebasan Palestina. Terlebih Indonesia memiliki kekuatan yang luar biasa dengan pasukan militer Indonesia hingga tahun 2024, tercatat ada sekitar 400 ribu orang personel aktif, 400 ribu tentara cadangan, 250 ribu pasukan paramiliter, ditambah kalangan sipil yang siap untuk dimobilisasi jihad, belum lagi pasukan militer dari negeri-negeri Islam yang lain seharusnya sudah lebih dari cukup untuk meluluhlantakkan Zionis.

Menurut data Global Fire Power (GFP) tahun 2024, Israel memiliki 170 ribu tentara aktif, sekitar 465 ribu tentara cadangan dan sekitar 35 ribu unit paramiliter. Jumlah ini jauh lebih sedikit jika dibandingkan potensi yang dimiliki Indonesia, apalagi jika potensi militer negeri-negeri Muslim disatukan. Dengan potensi yang luar biasa itu semestinya bisa membebaskan Palestina dari penjajahan.

Namun, karena menganut dan dibatasi oleh sekat-sekat nasionalime serta penyakit wahn (cinta dunia dan takut mati) yang telah melahirkan rasa takut kehilangan kedudukan dan jabatan, membuat para penguasa negeri muslim ini tidak berani mengirimkan pasukan untuk membebaskan Palestina. Parahnya, sebagian mereka bahkan berkolaborasi dengan Zionis Yahudi untuk membantai saudara-saudara Muslim mereka sendiri di Gaza. Ini merupakan buah penerapan sistem sekuler kapitalisme yang menjadikan potensi yang dimiliki negeri-negeri Muslim seperti tidak ada gunanya.

Barat mendukung penuh pendirian negara Yahudi. Hal ini karena mereka memiliki tujuan politik, yakni menjaga eksistensi sistem sekuler kapitalisme di dunia Islam. Barat memahami betul bahwa kebangkitan Islam sebagai ideologi akan tegak di bawah naungan Khilafah yang berarti akan mengancam eksistensi mereka. Karenanya, Barat mendukung keberadaan entitas Yahudi dengan beragam kejahatannya di Palestina. Jadi, akar persoalan Palestina adalah keberadaan entitas Yahudi laknatullah yang dijaga oleh sistem batil kapitalisme.

Solusi


Solusi menghentikan penderitaan saudara Muslim kita di Palestina dari segala bentuk penderitaan yang disebabkan oleh serangan keji entitas Yahudi hanyalah mengusir penjajah itu dari bumi Palestina dengan jihad. Tidak ada bahasa yang bisa dipahami Zionis kecuali jihad.

Solusi yang diperintahkan oleh Allah Subahanahu wa ta'ala terkait persoalan Palestina hanyalah jihad. Haram berdamai dengan penjajah dan membiarkan eksistensi mereka bercokol di negeri-negeri kaum Muslim, apalagi berkolaborasi dengan mereka.

Allah Subahanahu wa ta'ala telah memerintahkan jihad untuk melawan kaum yang telah menyerang dan merampas wilayah kaum muslim. Namun, jihad tidak akan mungkin terwujud tanpa adanya seruan negara. Sedangkan model negara hari ini tidak mungkin menyerukan jihad, terlebih mereka justru bergandengan tangan dengan penjajah Yahudi.

Seruan jihad hanya mungkin dikumandangkan oleh negara yang menerapkan Islam secara kafah dalam bingkai Khilafah. Oleh karena itu, umat harus bersungguh-sungguh berjuang untuk menegakkan Khilafah. Tegaknya institusi negara ini tidak akan mungkin terwujud ketika umat masih hidup dalam naungan sistem sekuler kapitalisme.

Tugas besar ini tidak mungkin dilakukan oleh segelintir orang. Karenanya harus merujuk kepada tuntunan Allah dalam QS Ali Imran ayat 104, yakni dengan adanya jemaah. Jemaah tersebut haruslah jemaah dakwah yang menyeru kepada al-khair (Islam) dan melakukan aktivitas amar makruf nahi mungkar.

Yang mampu melakukan aktivitas itu hanyalah jemaah dakwah Islam ideologis, yang menjadikan akidah Islam sebagai asasnya serta melakukan aktivitas politik Islam sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam. Jemaah dakwah inilah yang akan membangun kesadaran umat dan menunjukkan jalan kemuliaan bagi umat. Sudah seharusnya umat menjawab seruan jemaah dakwah ini dan berjuang bersama menjemput nashrullah.***

JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)