DATARIAU.COM - Rencana pembangunan Patung Soekarno setinggi 100 meter di Kabupaten Bandung layak untuk dikritisi. Tak tanggung-tanggung biaya yang harus dikeluarkan untuk merealisasikannya sebesar Rp 20 triliun. Pasalnya patung ini dibangun bersama dengan pengembangan kawasan wisata dan Kotabaru/Kota Mandiri (Tamam Asia Afrika).
Bupati Bandung Hengki Kurniawan memang menyatakan biaya besar itu tidak ditanggung oleh APBD, tetapi murni investasi dari pihak luar, yakni konsorsium Ciputra dan PTPN VII. Namun rencana itu tetap melukai hati nurani rakyat miskin, mubazir. Apalagi patung Soekarno yang rencananya akan dibangun ini bukanlah yang pertama. Sepanjang masa pemerintahan Joko Widodo, pembangunan patung-patung Soekarno terjadi secara massif.
Di Blitar patung Soekarno berdiri di Simpang Herlingga, Kota Blitar. Patung perunggu tersebut menghabiskan dana sebesar Rp 1,9 miliar. Patung Soekarno juga didirikan di pintu 5 kawasan Stadion Gelora Bung Karno. Pada 7 Februari 2020 Megawati meresmikan patung Soekarno di Kompleks Ksatria Akademi Militer di Magelang, Jawa Tengah. Patung Soekarno juga berdiri di Lembaga Pertahanan Nasional (Lemhanas). Sosok patung Soekarno yang menunggang kuda juga berdiri di Kantor Kementerian Pertahanan. Terbaru, 23 Agustus yang lalu Megawati meresmikan Patung Soekarno setinggi 6 meter di Sleman, Yogyakarta.
Itu belum termasuk monumen patung Soekarno dan Burung Garuda di setiap Pos Lintas Batas Negara (PLBN). Kedua patung disebut selalu ada dalam masterplan pembangunan PLBN di seluruh Indonesia. Menurut Plh Sekretaris Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP), Robert Simbolon, biaya pembuatan patung berkisar Rp 120 miliar sampai Rp 130 miliar, tergantung lokasinya.
Pembangunan patung Soekarno yang jor-joran, bukan merupakan aspirasi, kepentingan dan kebutuhan masyarakat, serta dinilai menghambur-hamburkan anggaran di tengah sulitnya perekonomi masyarakat.
Jika tujuan pembangunan patung Soekarno adalah karena ia berjasa terhadap negeri ini, tentu akan banyak sekali patung yang harus dibangun, karena tokoh dan pahlawan bangsa ini sangat banyak. Tetapi hal ini kan tetap tidak diperbolehkan. Lagi pula apakah menghormati tokoh bangsa dengan cara membangun patung dan biaya besar-besaran itu cara yang benar?
Sesungguhnya menghormati dan memuliakan para pahlawan dan tokoh bangsa tidak harus dengan membangun patung. Patung tak memberi manfaat kepada orang-orang yang masih hidup ataupun kepada tokoh pahlawan yang sudah meninggal. Menghormati jasa pahlawan adalah dengan meneladani perjuangannya. Apalah artinya patung dibangun di mana-mana, tetapi kedaulatan negeri digadaikan dengan harga murah.
Harusnya kita bercermin pada sejarah, betapa banyak tokoh bangsa di dunia yang dibanggakan dengan membangun patungnya, tetapi lewat satu atau dua generasi kemudian patung mereka dirobohkan dan dihinakan. Seperti patung Stallin dan Lenin, juga patung Saddam Husein.
Akan lebih baik dana pembuatan patung dialokasikan kepada program-program yang lebih penting, seperti memberi perumahan bagi kaum miskin, memberi modal bagi pedagang kecil, membiayai pendidikan anak yatim dan fakir miskin, dan program-program pembangunan kemanusiaan lainnya. Hal tersebut, sangat berguna untuk mempercepat kesejahteraan rakyat.
Berbicara mengenai hukum Islam sebagai agama mayoritas di Indonesia, membangun patung terlarang dalam syariat Islam. Para ulama sepakat membangun patung manusia secara utuh hukumnya haram. Pertama karena jelas-jelas kemubaziran harta. Kedua, karena membuka potensi pengkultusan yang menjurus kepada pemujaan. Ketiga, karena seakan pembuatnya mampu menjiplak makhluk ciptaan Allah padahal ia tidak akan sanggup mencipta rohnya.
Dalam catatan sejarah Islam, pembuatan patung pertama kali terjadi pada masa pertengahan Nabi Nuh Alaihissalam. Pada masa itu, kaum Nabi Nuh membuat patung orang-orang saleh yang telah meninggal dengan tujuan untuk mengenang orang-orang saleh tersebut. Di antara patung itu bernama Wadd, Suwa', Yaghutsz, Yau'uq, dan Nasr. Seiring waktu, kaum Nabi Nuh justru menyembah patung-patung itu. Mereka melupakan Allah dan memohon pertolongan kepada patung-patung itu.
Sejak saat itu, penyembahan terhadap berhala menyebar dan terus-menerus terjadi hingga zaman Rasulullah. Bahkan, penduduk Arab kemudian menempatkan sebanyak 360 patung di sekitar Ka'bah dan menyembahnya.
Harusnya pemerintahan negeri ini belajar dari sejarah kaum 'Ad yang gemar membangun proyek-proyek raksasa untuk mereka banggakan. Lalu mereka berani membangkang kepada Allah serta para Nabi dan Rasul yang Dia utus. Akibatnya, Allah membinasakan mereka. Semoga para pemimpin negeri ini diberi hidayah oleh Allah agar lebih menggunakan uang negara secara baik dan benar, tidak mubazir. Wallahu a'lam bi ash-shawab. (*)