Menyambut Hari Lanjut Usia Nasional

Admin
456 view
Menyambut Hari Lanjut Usia Nasional
Ilustrasi (Foto: Jernih.co)

DATARIAU.COM - Tanggal 29 Mei diperingati sebagai Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN). Makna dari penetapan tanggal tersebut adalah sebagai wujud kepedulian dan penghormatan kepada orang lanjut usia atau sering disingkat lansia.

Sejarah pemilihan tanggal 29 Mei sebagai Hari Lanjut Usia Nasional merujuk pada kejadian pada tanggal 29 Mei 1945 ketika Dr KRT Radjiman Wediodiningrat yang kala itu telah berusia 66 tahun masih mampu memimpin sidang BPUPKI. Sedangkan pencanangan hari lansia dilakukan pertama kali pada tahun 1996 oleh Presiden Soeharto.

Lalu siapakah yang disebut lansia?

Berdasarkan Undang Undang No 13 tahun 1998 tentang kesejahteraan lanjut usia, lansia adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 (enam puluh) tahun keatas. Menurut konsep tersebut lansia hanya mengacu pada usia, tidak melihat apakah orang tersebut masih produktif atau tidak.

Saat ini seiring dengan meningkatnya kualitas kesehatan, lansia masih ada yang produktif, artinya masih mampu berkarya di bidangnya bahkan menduduki posisi posisi penting baik di pemerintahan maupun perusahaan besar.

Lalu apa esensi dari peringatan hari lansia nasional ini? Sesuai dengan tujuannya adalah penghormatan kepada para lansia, masyarakat diharapkan lebih peduli pada kebahagian para lansia.

Para lansia sebagai pendahulu yang telah membesarkan dan turut andil dalam pembangunan bangsa sesuai dengan porsinya masing-masing.

Sebenarnya jauh sebelum ada peringatan hari lansia, ajaran agama Islam telah mengajarkan bagaimana menghormati orang tua terutama yang melahirkan kita.

Surat Al Isra ayat 23, Allah Subahanahu wa ta'ala memerintahkan manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang tua dan menghindari perilaku kasar walaupun sekadar perkatakan “ah!”.

Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa salam juga bersabda; Bukanlah termasuk golongan kami, orang yang tidak menyayangi anak kecil dan tidak menghormati orang yang dituakan diantara kami”. (Hadits Shahih, Riwayat, At-Tirmidzi)

Lalu bagaimana karakteristik Lansia di Provinsi Riau?

Penduduk lansia di Provinsi Riau berdasarkan Sensus Penduduk 2020 berjumlah 393.868 jiwa atau sekitar 6,16 persen dari total penduduk, dengan komposisi 204.043 laki-laki dan 189.825 perempuan.

Pada saat ini Provinsi Riau sedang mendapatkan bonus demografi, yaitu kondisi dimana penduduk usia produktif lebih banyak dibanding penduduk usia non produktif, namun diperkirakan sepuluh tahun kedepan proporsi penduduk usia non produktif akan naik.

Lalu apakah semua lansia di Riau sudah tidak produktif?

Hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) yang dilakukan pada bulan Agustus tahun 2020 menunjukkan bahwa lebih dari 217 ribu penduduk lansia masih bekerja.

Masih berdasarkan survei yang sama, mayoritas lansia bekerja di sektor pertanian (61,88%) dan sektor perdagangan (12,45%). Hasil Sakernas juga mencatat mayoritas lansia dalam seminggu bekerja selama 15 - 44 jam.

Dan ternyata masih ditemukan lansia yang bekerja lebih dari 45 jam selama seminggu. Berdasarkan status pekerjaannya, sebagian besar lansia berusaha sendiri dibantu buruh tidak tetap/buruh tidak dibayar, yang dimaksud buruh tidak tetap/tidak dibayar ini adalah anggota keluarganya.

Berdasarkan data di atas dapat disimpulkan bahwa lansia di Riau sebagian besar masih produktif dalam rangka memenuhi kebutuhan keluarganya.

Lalu apa yang menjadi harapan dari lansia sendiri?

Dalam sebuah webinar yang diadakan oleh Direktorat Lansia, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Juli tahun lalu, disampaikan bahwa Kondisi yang diinginkan bagi para lansia dapat terdiri dari The AIM SMART Elderly (Sehat, Mandiri, Aktif, Produktif), dimana menginginkan semua lansia untuk mencapai kondisi yang sehat, tidak bergantung pada orang lain dan mandiri, selalu aktif dalam menjalankan aktivitas, dan masih tetap produktif. (fk.ui.ac.id)

Menjalani masa tua dalam kondisi sehat pasti menjadi pilihan semua orang, walau sebenarnya kualitas kesehatan lansia juga tergantung bagaimana pola hidup, pola makan ketika masih muda.

Seiring dengan menurunkan fungsi organ tubuh, maka perlu dilakukan hal-hal yang dapat menjaga kesehatan, seperti berolahraga, dan menjaga pola makan. Olahraga untuk lansia banyak digelar baik oleh pemerintah, lembaga atau masyarakat. Pelayanan kesehatan yang baik, cepat dan mudah juga sangat dibutuhkan oleh lansia.

Kegiatan lain yang secara kejiwaan akan menambah kualitas hidup lansia adalah berkumpul dengan keluarga. Lansia yang tinggal sendiri jauh dari anak cucu tentu relatif lebih kesepian. Hidup tenteram dan damai didampingi anak dan cucu membuat para lansia lebih bahagia. Walau sepertinya sederhana namun kondisi ini kadang sulit terwujud. Kesibukan anak dalam bekerja di tempat yang jauh, kadang membuat para lansia tidak dapat berkumpul dengan anak setiap waktu.

Silaturahim dengan teman dan kerabat juga merupakan hal yang diidamkan semua lansia. Bertemu dengan teman-teman masa kecil dan masa muda, dapat berbagi cerita merupakan hal yang menyenangkan. Tak heran bila dimasa tua, banyak orang yang kembali ke kampung halaman menjalani pensiun dari pekerjaan, agar bisa berkumpul dengan teman dan kerabat masa kecilnya.

Penyaluran hobby untuk kegiatan mengisi hari tua juga menjadi pilihan beberapa lansia. Apalagi hobby tersebut bisa produktif secara ekonomi, hingga harapan lansia mandiri dapat tercapai. Berkebun yang ringan-ringan saja seperti memelihara tanaman hias banyak dilakukan oleh para lansia sebagai sarana menyalurkan hobby yang bersifat produktif.

Yang paling penting adalah kesempatan beribadah. Sebagian besar lansia akan semakin khusu dalam beribadah sebagai bekal di kehidupan akherat nanti. Aktif di beberapa pengajian adalah salah satu hal yang sering dilakukan lansia.

Mempersiapkan diri untuk kehidupan selanjutnya secara lebih intens dengan memperbanyak ibadah.

Beberapa tahun ini pemeritah telah memberikan perhatian yang lebih serius kepada lansia, seperti penyediaan pelayanan kesehatan dan peningkatan kualitas hidup.

Beberapa kegiatan yang bersifat meningkatkan kesehatan dilakukan seperti adanya pemeriksaan kesehatan di posyandu, pelaksanaan senam lansia, dan kegiatan lainnya.

Di bidang ekonomi, salah satu persyaratan penerima Program Keluarga Harapan (PKH) yang memberikan bantuan tunai diantaranya adalah terdapatnya lansia di keluarga yang tidak mampu.

Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, usia harapan hidup terus mengalami peningkatan. Berdasarkan data BPS Provinsi Riau, Usia Harapan Hidup (UHH) pada tahun 2010 sebesar 70,15 tahun dan di tahun 2020 tercatat sebesar 71,60 tahun.

Lalu apa yang mesti dilakukan masyarakat terutama generasi muda sebagai penghormatan kepada lansia pada masa pandemi ini?

Merujuk pada informasi bahwa yang meninggal akibat covid-19 kebanyakan berusia lanjut, sedangkan yang mengalami infeksi virus justru mayoritas penduduk usia produktif, maka menjaga protokol kesehatan merupakan hal yang sangat penting.

Para lansia relatif lebih rentan terdapat virus covid19, sehingga perlu kepedulian bersama untuk menjaga agar para lansia tidak tertular virus. Ini merupakan salah satu wujud langkah dalam menghormati lansia.

Penduduk produktif berusaha semaksimal mungkin untuk tidak menjadi perantara menyebarnya virus covid-19 kepada para lansia.

Semoga kualitas hidup lansia semakin baik, dan usia harapan hidup terus meningkat. Selamat Hari Lanjut Usia Nasional..

Penulis: Joko Prayitno (Statistisi Ahli Madya BPS Propinsi Riau)