DATARIAU.COM - Jutaan jumlah kaum muslimin yang melaksanakan ibadah haji kembali berkumpul di Arafah pada tahun ini. Mereka berasal dari seluruh penjuru dunia. Semuanya bersatu melaksanakan rukun haji dalam memenuhi ketaatan kepada Allah Subahanahu wa Ta'ala. Tanpa memperhatikan lagi latar belakang ekonomi, perbedaan bangsa, suku, warna kulit, bahasa bahkan mazhab fiqih. Semua fokus ibadah, berharap ridho Allah atas setiap pengorbanan yang luar biasa.
Begitulah seharusnya persatuan kaum muslimin. Persatuan yang hanya didasari kesatuan aqidah. Persatuan yang menghapus segala sekat-sekat duniawi. Kaum muslimin dipersaudarakan oleh aqidah Islamiah. Seperti yang disampaikan dalam Al Qur'an yang mulia, Allah berfirman,
اِنمَا الۡمُؤۡمِنُوۡنَ اِخۡوَةٌ فَاَصۡلِحُوۡا بَيۡنَ اَخَوَيۡكُمۡ ۚوَاتقُوا اللهَ لَعَلكُمۡ تُرۡحَمُوۡنَ
"Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat." (Q.S Al Hujurat: 10)
Di lain tempat, kita masih menyaksikan kondisi memilukan saudara muslim Palestina. Palestina masih berduka. Zionis Israel seolah gelap mata, terus melakukan genosida. Sasarannya bukan hanya kelompok bersenjata. Tetapi para masyarakat sipil, orang tua, wanita bahkan anak-anak yang tidak berdosa. Tidak terhitung lagi berapa jumlah korbannya. Sampai kapan?
Sementara itu, para penguasa negeri kaum muslimin hanya pandai memainkan kata-kata. Sampai hari ini, tidak ada satupun penguasa yang memobilisasi tentara ke Palestina. Bak mimpi di siang bolong, berharap Palestina bakal merdeka. Mereka hanya mencukupkan pada diplomasi dan ide two state solution (solusi dua negara). Padahal, tanah Palestina adalah tanah milik kaum muslimin. Tanah yang dibebaskan melalui jihad dan tetesan darah para syuhada. Bagaimana bisa dibagi dua dengan zionis penjajah?
Seharusnya, kaum muslimin dalam hal saling menyayangi, saling mengasihi laksana satu tubuh. Ketika satu bagian yang sakit, maka bagian yang lain ikut merasakannya. Sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam,
"Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, mengasihi dan menyayangi diantara mereka adalah ibarat satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga (tidak bisa tidur) dan panas (turut merasakan sakitnya)." (HR. Muslim)
Sungguh! fakta yang sangat menyedihkan. Miliaran jumlah kaum muslimin di dunia, tapi mereka seolah tidak memiliki daya. Persatuan saat Idul Adha seolah hanya sesaat lalu lupa. Mereka kembali tercerai-berai dalam sekat negara bangsa. Melupakan kondisi saudara seiman di negeri lainnya.
Karena itu, kaum muslimin butuh persatuan hakiki. Persatuan sejati yang semata dilandasi akidah Islam. Persatuan dalam ukhuwah Islamiah. Namun, persatuan hakiki ini tidak akan terwujud kecuali kaum muslimin memiliki satu komando kepemimpinan. Kepemimpinan yang satu dalam institusi politik global yang akan mengembalikan 'izzah kaum muslimin sebagai pemimpin peradaban.
Idul Adha seharusnya mengajarkan kepada kita bahwa ketaatan mutlak itu hanya kepada Allah Subahanahu wa Ta'ala. Ketaatan yang seharusnya mendorong umat untuk patuh sepenuhnya hanya kepada syariat Islam. Bukan hanya pada aspek spiritual, tetapi dalam seluruh aspek kehidupan. Baik dalam kehidupan keluarga, bermasyarakat bahkan bernegara.
Bersatunya jutaan kaum muslimin di Arafah, menunjukkan bukan sesuatu hal yang mustahil kaum muslimin juga bisa bersatu dalam satu kepemimpinan. Seperti yang pernah dicontohkan oleh Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam dan Khulafaur Rasyidin. WalLaahu A'lam Bis Shawwab. ***