DATARIAU.COM - Kondisi pandemi yang belum usai ternyata menimbulkan banyak permasalahan baru di tengah kehidupan masyarakat. Tidak hanya di bidang kesehatan, ekonomi, dan pendidikan, kini konflik sosial juga menjadi sorotan di tengah pandemi.
Beberapa kasus yang terjadi di tanah air, seperti baku hantam antar warga dan tenaga kesehatan, yakni tim pemakaman jenazah pasien Covid-19 di Desa Jatian, Kecamatan Pakusari, Kabupaten Jember. Pasalnya warga menolak jenazah tersebut dimakamkan mengikuti protokol kesehatan Covid-19.
Warga berupaya mengambil paksa jenazah untuk dimandikan, karena situasi tidak kondusif, tim pemakaman memutuskan untuk meninggalkan tempat tersebut. Namun, ada sejumlah warga yang menghadang hingga melakukan pelemparan, pemukulan, dan berusaha membanting tim relawan (17/7/2021).
Peristiwa yang senada juga dialami Salamat Sianipar (45), warga Desa Sianipar Bulu Silape, Kecamatan Silaen, Kabupaten Toba, Sumatera Utara. Pasalnya, gara-gara positif Covid-19 dan ingin melakukan isolasi mandiri di rumah, justru warga menolak dan menginginkan pasien tersebut diisolasi di tengah hutan yang jauh dari tempat tinggal warga.
Tidak tahan dan depresi selama isolasi di hutan, akhirnya pasien tersebut kembali ke rumah, namun warga setempat menolak dan melakukan penganiayaan terhadap pasien tersebut (22/7/2021).
Beberapa konflik horizontal yang makin marak terjadi di tanah air sudah tentu ada faktor penyebabnya. Berawal dari menurunnya kepercayaan publik kepada pembuat kebijakan dan pihak tenaga kesehatan. Diperparah adanya oknum yang memanfaatkan situasi seperti ini untuk meraih keuntungan, serta minimnya edukasi kepada masyarakat.
Melihat kondisi seperti ini, seyogyanya negara harus bertanggung jawab penuh menyelesaikan permasalahan yang ada. Memberikan edukasi yang merata di semua wilayah, menjamin kebutuhan rakyat selama masa diberlakukan berbagai macam kebijakan dan menindak tegas oknum yang bermain-main di tengah kondisi sulit seperti sekarang ini.
Kendati demikian, sebagai masyarakat kita juga harus memahami orang yang positif Covid-19 bukanlah sebuah aib sehingga dikucilkan di tengah kehidupan masyarakat. Perlu saling bahu-membahu dan mendukung agar kondisi kembali membaik.
Saat ini masyarakat sangat membutuhkan sebuah sistem perubahan agar pandemi ini segera berakhir. Untuk itu, tidak cukup dengan taat prokes dan menjaga kesehatan, sekaligus kita juga harus kembali taat kepada Sang Maha Pencipta dengan totalitas. Menerapkan aturan dari Sang Maha Pencipta dalam kehidupan sehingga iman dan imun menjadi benteng dalam menghadapi permasalahan yang terjadi selama pandemi.
Wallahua'alam.
Penulis: Reni Adelina (Aktivis Muslimah)