Harga Beras Semakin Tinggi, Rakyat Terus Terbebani Ekonomi, Petani Tak Juga Kunjung Sejahtera

Penulis: Yuliana, S.Sos
datariau.com
1.761 view
Harga Beras Semakin Tinggi, Rakyat Terus Terbebani Ekonomi, Petani Tak Juga Kunjung Sejahtera
Ilustrasi.

DATARIAU.COM - Country Directur For Indonesia and Timor Leste World Bank (Bank Dunia) Carolyn Turk mengatakan harga beras Indonesia menjadi yang paling tertinggi dibandingkan dengan negara-negara di Asean, selisihnya hingga 20 persen.

Apakah dengan kenaikan harga beras ini petani diuntungkan?, nyatanya tidak demikian. Nasib petani sama halnya dengan masyarakat lainnya, sama-sama mengalami kesulitan dan kesusahan, karena dengan kenaikan harga beras, barang-barang lainnya juga mengalami kenaikan drastis.

Berdasarkan survey terpadu pertanian, kesejahteraan petani Indonesia masih di bawah rata-rata, bahkan pendapatannya kurang dari US$1 perhari, atau senilai Rp 15.207 dan setahun di bawah US$ 341 Dolar AS atau Rp5 juta. Pendapatan ini dinilai tidak sebanding dengan biaya produksi yang dikeluarkan oleh petani.

Beberapa faktor penyebab kenaikan harga beras yaitu, kenaikan harga BBM, biaya produksi yang tinggi, Bulog sulit menyerap beras petani, data produksi dan konsumsi yang kurang jelas, banyaknya tengkulak serta campur tangan pengusaha swasta.

Masalah kenaikan harga beras seharusnya bisa diredam jika ada data yang jelas. Selama ini harga beras sering mengalami kenaikan karena data produksi dan konsumsi yang kurang jelas, jadi kebijakan pangan didasarkan data yang tidak akurat, dampaknya merembet kepada kebijakan impor beras yang akhirnya merugikan petani lokal.

Belum lagi pemerintah mengizinkan pengusaha swasta terjun langsung membeli padi kepada petani dengan proses yang mereka atur sendiri, dengan harga label yang mereka buat sendiri, sehingga beras masuk market dengan harga yang tinggi.

Negeri agraris yang miris, beras tergantung impor?

Hal tersebut wajar dalam sistem kapitalisme, dimana negeri yang dalam cengkeraman dan arahan kapitalistik dicegah untuk bisa swasembada terutama sektor pangan.

JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)