DATARIAU.COM - Semenjak kasus Mario Dandy anak pejabat Pajak mencuat, satu persatu pejabat negeri ini terkuliti kebiasaan pamer kekayaan (flexing). Hal ini tentu semakin membuka mata publik betapa hedon-nya kehidupan para pejabat. Mereka hidup bergelimang harta dengan barang branded mewah seolah membuktikan bahwa mereka layak memamerkannya di depan rakyat jelata.
Jiwa miskin siapa yang tidak meronta menyaksikan tas mungil seharga ratusan juta yang ditenteng bangga oleh istri pejabat. Rakyat jelata mana yang tidak teriris hatinya dipamerkan outfit (setelan pakaian) anak pejabat senilai puluhan juta. Rakyat mana yang tidak merasa dikhianati ketika mengetahui ternyata pajak mereka justru dinikmati oleh para mafia berdasi.
Sungguh aneh memang, Indonesia yang kekayaan alamnya berlimpah mulai dari pertambangan, laut, kehutanan, pertanian, perkebunan dan sumber kekayaan alam lain namun rakyatnya tidak merasakan berkahnya. Justru hasil kekayaan alam yang berlimpah hanya dinikmati oleh pejabat, korporat dan para konglomerat. Kenyataannya masih banyak rakyat yang melarat bahkan untuk makan saja harus bergelimang keringat.
Pamer kekayaan yang menjangkiti pegawai pajak dan bea cukai di media sosial (medsos), ternyata juga menjalar hingga pejabat di daerah. Salah satunya yang sedang viral adalah pamer kekayaan (flexing) istri dan anak pejabat di Pemprov Riau.
Salah satu yang bikin hingar-bingar di ranah medsos, pamer kekayaan istri Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Riau, SF Haryanto. Berlawanan dengan perilaku Haryanto yang gencar mengkampanyekan hidup sederhana di lingkungan Pemprov Riau (inilah.com, 18/03/2023).
Dikutip akun Twitter @PartaiSocmed, Sabtu (18/3/2023), netizen banyak yang kesal melihat glamournya gaya hidup istri Anto, sapaan akrab SF Haryanto yang sempat menjabat Inspektur VI, Inspektorat Jenderal Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Lantaran seneng betul memperlihatkan barang-barang mewah, mulai dari tas, sepeda brompton hingga koper mahal. Tak berhenti di situ, sang istri kerap pamer momen-momen plesiran ke luar negeri. Setelah menjadi sorotan warganet, akun Instagram istri Sekda Provinsi Riau segera menghilang. Diperkirakan, ia menonaktifkan akun Instagram tersebut akibat kecaman yang diterimanya.
Tak hanya istri Sekretariat Daerah Provinsi (Sekda) Riau SF Hariyanto yang menjadi sorotan, bahkan pesta ulang tahun anaknya yang ke-17 sungguh mengoyak rasa keadilan. Pesta yang berlangsung di hotel Ritz Calton itu, terlihat sangat gemerlap. Warna emas mendominasi dekorasi peringatan ulang tahun anak SF Hariyanto semakin memancarkan kemewahan (kilat.com, 20/03/2023).
Bahkan saking totalitasnya, anak SF Hariyanto mengenakan gaun rancangan desainer internasional untuk hari spesialnya. Gaun yang dikenakan merupakan rancangan Anaz Khairunnas yang merupakan desainer langganan ajang beauty pegeant seperti Miss Universe.
Perlu diketahui, dalam SK yang ditandatangani Gubernur Riau dengan Nomor: Kpts.1945/XII/2022, Besaran Tambahan Penghasilan Aparatur Sipil Negara di Lingkungan Pemerintah Provinsi Riau tanggal 30 Desember 2022, Sekdaprov SF Hariyanto menerima Tambahan Perbaikan Penghasilan (TPP) sebesar Rp 90 juta lebih. Sementara itu, sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) eselon 1 B, SF Hariyanto menerima gaji pokok sebesar Rp 4.375.000.
Penyebab Gaya Hidup Hedonis (Flexing)
Sebenarnya budaya pamer kekayaan sudah ada sejak dahulu, namun sosial media membuat perilaku ini semakin terlihat. Unggahan sosial media pelaku flexing biasanya dipenuhi barang-barang dari merek ternama, mulai dari tas Hermes, mobil sport, hingga liburan mewah di kapal pesiar.
Dalam ilmu psikologi, pamer merupakan bentuk perilaku narsisme. Faktor utama yang mendorong perilaku ini adalah perasaan insecure. Psikolog klinis Mary Kowalchyk dari New York University mengatakan bahwa "narsisme dipahami sebagai adaptasi kompensasi untuk mengatasi dan menutupi harga diri yang rendah."
Menurut Kowalchyk orang narsis merasa insecure dan mereka mengatasi perasaan ini dengan flexing. Perilaku pamer membuat orang lain kurang menyukai mereka dalam jangka panjang, ini membuat pelaku flexing semakin memperparah rasa insecure mereka sehingga ini menjadi lingkaran setan perilaku tersebut. (cnbc.com, 20/03/2023).
Orang Bermoral Menggindari Flexing
Rachel Sherman, seorang profesor sosiologi di New School for Social Research, New York, telah mempelajari kebiasaan belanja di kalangan orang kaya. Riset itu menemukan bahwa banyak di antara mereka yang sangat berhati-hati dalam membelanjakan uangnya. Dalam bukunya, Uneasy Street: The Anxieties of Affluence, Sherman mewawancarai 50 orang kaya di New York. Ternyata banyak di antara mereka yang menjalani hidup hemat dan membelanjakan uang dengan "normal." Menurutnya kebiasaan hemat adalah salah satu cara kita menilai apakah orang kaya itu baik secara moral atau buruk secara moral.
Belajar dari Kesederhanaan Umar bin al Khattab Radhiyallahuanhu
Siapa yang tak tahu Umar bin Khattab? Khalifah setelah Abu Bakar as Siddiq radhiyallahu anha, dan sahabat Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam yang kaya raya. Namun, sepanjang hidupnya ia tak pernah memamerkan kekayaannya maupun hidup dalam kemewahan. Justru, sebaliknya ia begitu sederhana, tidur siangnya bahkan hanya beralaskan tikar dan batu bata di bawah pohon kurma, dan dia hampir tidak pernah makan sampai kenyang.
Khalifah Umar radhiyallahu anha paham betul hakikat harta dan kepemimpinan dalam Islam. Harta dan kepemimpinan hakikatnya adalah amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban tidak hanya di dunia tapi juga di akhirat. Suatu saat, Umar terlambat hadir untuk menyampaikan khutbah salat Jumat. Ketika hendak naik mimbar, Umar menyampaikan permohonan maaf atas keterlambatannya kepada para jemaah. Ternyata, keterlambatannya karena disibukkan menjahit satu-satunya pakaian yang ia miliki. Padahal, saat itu ia sudah menjabat sebagai khalifah, bisa saja ia membeli baju bagus yang baru, namun Umar memilih tetap memakai pakaian yang masih bisa ia pakai.
Umar bin Khattab juga mengajarkan prinsip kesederhanaannya itu kepada keluarganya. Umar langsung menegur anggota keluarganya yang hidup dalam kemewahan, ia takut salah satu dari orang yang dicintainya kena fitnah karena harta kekayaan. Salah satu anak Umar bernama Abdullah bin Umar sempat menggunakan pakaian dan alas kaki yang terbilang mewah saat masih kecil. Umar langsung menghampiri dan memukul ringan Abdullah hingga menangis. Tindakan itu Umar lakukan agar anak-anaknya tidak memiliki sifat sombong.
Suatu ketika Khalifah Umar diundang ke Yerusalem. Saking sederhananya, sampai warga di sana terkecoh dibuat Umar. Dari Madinah, Umar hanya ditemani oleh seorang pembantunya. Mereka berdua mengendarai seekor unta secara bergantian. Saat memasuki Yerusalem giliran Umar yang kebagian jatah memegang tali kekang Unta, sementara sang pembantu naik di punggung Unta. Warga Yerusalem pun mengira bahwa yang berada di atas unta tersebut adalah Khalifah Umar bin Khattab, sementara laki-laki berbaju tambalan yang menarik unta itu adalah pembantunya.
Demikianlah sebagian contoh kesederhanaan yang dilakukan oleh Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu anha yang telah mendapat jaminan surga namun hidupnya sangat sederhana dan jauh dari kata mewah. Lantas siapa kita yang tidak mendapat jaminan surga dan amalnya sangat jauh jika dibandingkan Umar namun begitu bangga seolah lupa bawa jabatan hanya titipan. Sewaktu-waktu jabatan pasti akan ditinggalkan dan akan menjadi penyesalan di kemudian hari. Wallahu a’lam bish shawab. ***