DATARIAU.COM - Financial behavior merupakan bidang ilmu yang relatif baru yang mengintegrasikan teori psikologi perilaku dan kognitif dengan ekonomi konvensional serta keuangan. Bidang ini bertujuan menjelaskan mengapa individu sering kali mengambil keputusan keuangan yang tidak rasional. Financial behavior berkaitan erat dengan tanggung jawab keuangan seseorang, khususnya dalam cara mengelola dan menggunakan uang.
Perilaku penggunaan uang menjadi isu yang sangat relevan, karena kesalahan dalam pengelolaan keuangan dapat memicu berbagai permasalahan, mulai dari kesulitan keuangan, utang berlebihan, hingga konflik dalam keluarga. Financial behavior merujuk pada tindakan nyata individu dalam mengelola uang, termasuk pola konsumsi, kebiasaan menabung, keputusan berutang, serta perilaku investasi. Perilaku ini mencerminkan sejauh mana pengetahuan dan sikap keuangan diterjemahkan ke dalam praktik sehari-hari.
Dalam konteks pengguna uang (money users), financial behavior dapat diamati melalui disiplin dalam pengelolaan anggaran, kemampuan mengendalikan pengeluaran, preferensi antara konsumsi jangka pendek dan perencanaan jangka panjang, serta respons terhadap risiko keuangan. Perilaku keuangan yang rasional umumnya ditandai dengan pengambilan keputusan yang terinformasi dan berorientasi pada keberlanjutan finansial.
Namun, permasalahan perilaku pengguna uang (financial behavior problems) masih menjadi isu yang sering muncul, baik pada tingkat individu maupun rumah tangga. Permasalahan ini tidak semata-mata disebabkan oleh keterbatasan pendapatan, tetapi juga oleh pola perilaku yang tidak rasional dalam mengelola keuangan. Beberapa permasalahan utama yang kerap ditemui antara lain:
1. Perilaku konsumtif berlebihan
2. Rendahnya disiplin pengelolaan keuangan
3. Ketergantungan pada utang
4. Minimnya perilaku menabung dan investasi
5. Pengambilan keputusan keuangan yang tidak rasional
Fenomena ini semakin diperkuat oleh maraknya narasi “cuan cepat” di media sosial Indonesia. Konten yang menjanjikan keuntungan instan melalui trading spekulatif, aset kripto berisiko tinggi, judi berkedok investasi, maupun skema tanpa dasar fundamental mendorong pengguna uang untuk mengambil keputusan secara impulsif. Paparan berulang terhadap konten semacam ini membentuk ekspektasi keuntungan yang tidak realistis dan melemahkan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaan keuangan.
Dalam perspektif perilaku keuangan, kondisi tersebut berkaitan dengan berbagai bias kognitif, seperti overconfidence, herd behavior, dan present bias, yang pada akhirnya meningkatkan kerentanan finansial individu. Oleh karena itu, permasalahan perilaku pengguna uang menunjukkan bahwa peningkatan literasi keuangan tidak cukup hanya berfokus pada pengetahuan, tetapi juga harus diarahkan pada perubahan perilaku serta pembentukan kebiasaan keuangan yang sehat dan berkelanjutan.***
*) Penulis merupakan Mahasiswi Pascasarjana Magister Manajemen Universitas Lancang Kuning