DATARIAU.COM - Para peneliti kecerdasan buatan, kembali menggetarkan Dunia. Bukan dengan produk baru, tetapi dengan sebuah peringatan. Ratusan peneliti AI terkemuka, termasuk yang dijuluki "Bapak AI" dunia, menerbitkan riset bersama yang mewanti-wanti pemerintah di seluruh dunia untuk bersiap menghadapi "ledakan kecerdasan" atau intelligence explosion.
Peringatan ini bukan isapan jempol. Mereka mengakui, AI memang menjanjikan lompatan besar bagi kemanusiaan. Di bidang medis, AI mampu mendiagnosis penyakit lebih cepat dan akurat. Di bidang teknologi, ia mempercepat riset dan efisiensi. Namun di balik harapan itu, ada kekhawatiran yang jauh lebih besar.
Riset tersebut menyebut tiga risiko eksistensial; Pertama, ancaman biologis dan siber yang bisa diciptakan AI; Kedua, hilangnya kendali dan keterlibatan manusia atas sistem yang ia buat sendiri; Ketiga, ancaman perang antarnegara yang dipicu oleh perlombaan supremasi AI.
Inilah wajah ganda teknologi. Memberi kemudahan sekaligus menyimpan bahaya. Sebuah pisau bermata dua. AI bisa digunakan untuk kebaikan, menyelamatkan nyawa, memudahkan pendidikan, dan membantu pekerjaan manusia. Tapi sangat mungkin pula ia digunakan untuk kejahatan: pembuatan senjata biologis otomatis, serangan siber massal, penipuan mendalam, hingga alat peperangan yang dehumanisasi.
Pertanyaannya kemudian bukan lagi apakah AI akan berkembang, melainkan di tangan siapa dan dengan aturan apa ia akan dikendalikan. Di sinilah perspektif Islam menjadi sangat relevan.
Allah Subahanahu wa Ta'ala telah memuliakan manusia dengan akal. Dengan akal itulah manusia mampu memahami tanda-tanda kekuasaan Allah dan mengemban amanah sebagai khalifah fil ardhi (pengelola bumi). Teknologi adalah salah satu buah dari kemuliaan akal tersebut.
Namun Islam dengan sangat cermat membedakan hasil pemikiran manusia. Ada yang disebut hadharah yaitu produk pemikiran yang terikat dengan ideologi atau pandangan hidup tertentu. Dan ada madaniyah, yaitu produk kebendaan dan teknologi yang bersifat netral dan universal.
AI pada hakikatnya adalah madaniyah dari sisi alatnya, tetapi ia menjadi sangat kental dengan hadharah dari sisi konten dan cara kerjanya. AI bukanlah makhluk yang berpikir sendiri dari nol.
Ia adalah mesin yang memproses jutaan informasi, pemikiran, ideologi, nilai, dan kepentingan yang dimasukkan manusia, lalu mengolahnya menjadi satu keputusan. Artinya, AI akan merefleksikan siapa yang menciptakannya dan nilai apa yang ditanamkan padanya.
Maka, ledakan kecerdasan buatan tanpa kendali akidah dan syariat Islam sangat berisiko pada kehancuran kehidupan manusia.
AI di tangan manusia yang memiliki akidah yang kokoh dan ketundukan penuh pada syariat akan berorientasi pada kemaslahatan. Ia akan digunakan untuk menguatkan dakwah, memajukan kesehatan umat, memudahkan pendidikan Islam, dan mengelola sumber daya bumi sesuai perintah Allah. Ia terkendali, karena penciptanya paham batas halal-haram dan pertanggungjawaban di akhirat.
Sebaliknya, AI di tangan manusia yang tidak beriman, yang hanya mengejar keuntungan materi dan hegemoni kekuasaan, akan mendatangkan bahaya dan kerusakan. Ketika akal dilepaskan dari wahyu, teknologi tidak lagi menjadi pelayan manusia, melainkan menjadi tuhan baru yang menindas tuannya sendiri. Inilah yang hari ini kita saksikan: AI dipakai untuk industri pornografi, penipuan, pengawasan zalim, dan pengembangan senjata pemusnah massal.
Karena itu, solusinya tidak cukup hanya dengan regulasi teknis dari pemerintah Sekuler-Kapitalistik. Seluruh sistem kehidupan manusia harus diatur dengan syariat Islam secara kaffah agar selamat. Syariatlah yang akan memastikan teknologi tetap berada pada posisinya sebagai alat untuk meraih ridha Allah, bukan alat untuk menghancurkan peradaban. Wallahu'alam bisshawab.***