Aduan MBG Ada Belatung Malah Disebut Kurang Bersyukur

Oleh: Rut Sri Wahyuningsih
datariau.com
1.239 view
Aduan MBG Ada Belatung Malah Disebut Kurang Bersyukur

DATARIAU.COM - Dalam acara diskusi soal MBG di Ruang Belajar Alex Tilaar, Dewan Pakar Badan Gizi Nasional, Ikeu Tanziha, mempertanyakan apa keuntungan bagi murid yang mengunggah masalah di menu makan bergizi gratis (MBG) di media sosial, seperti misalnya unggahan ada belatung di menu MBG (tempo.co, 23-12-2025).

Anak yang membagikan temuan buruk di menu MBG, menurut Ikeu justru mencerminkan karakter yang kurang baik dan membentuk jiwa tidak bersyukur dari anak-anak. Harapannya, anak segera melaporkan kepada guru di sekolah sehingga akan ditemukan solusi, semisal diganti dengan porsi lain. Karena hanya ada satu porsi yang mengandung belatung, sehingga tak ada perlunya diposting.

Harapan Ikeu yang lain, seluruh murid, wali murid maupun masyarakat yang menemukan masalah terkait MBG, dapat mengadukan langsung kepada pemerintah. Saat ini pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) tengah membuat sistem pengaduan agar masyarakat dapat mengadukan langsung kepada pemerintah.

Gak Viral Gak Bakal Ada Solusi

Apa yang tidak diunggah di media sosial hari ini? Bahkan konten sampah berserakan, sehingga konten baik hingga suara rakyat harus “berebut” tempat dengan mereka untuk bisa mendapat perhatian. Sepertinya dewan pakar MBG kita lupa bahwa segala sesuatu di negeri ini harus viral dulu baru bisa mendapatkan pelayanan dari negara.

Fakta yang miris, mengapa unggahan anak soal menu MBG-nya yang berisi belatung dianggap sebagai ungkapan tidak bersyukur? Lantas bagaimana dengan kasus keracunan di berbagai daerah yang mencapai ribuan orang, data per September 2025 menunjukkan angka di atas 5.000 hingga 6.000-an korban, terutama di Jawa Barat, akibat isu higienitas, SOP, dan kualitas bahan makanan.

Banyak pihak mendorong BGN untuk mengadakan evaluasi, bukan sekadar mendorong pendirian dapur SPPG (Satuan Pemenuhan Layanan Gizi). Yang kini, akibat viral di media sosial pula terbukti, bukan sekadar pemenuhan janji kampanye calon presiden dan Program Prioritas Nasional (PPN) sekaligus Proyek Strategis Nasional (PSN). Namun lebih dari ambisi proyek para pengusaha makanan, bahan baku mentah, hingga produk pelengkap.

MBG digadang proyek yang bakal membuka lapangan pekerjaan yang luas bagi rakyat, memutar roda ekonomi bagi petani, nelayan dan UMKM. Namun, sekali lagi di lapangan, terbukti siapa yang mampu melakukannya jika bukan mereka yang bermodal besar? Hingga viral pula di media sosial, anak seorang wakil DPR di usianya yang ke-20 tahun sudah memiliki 40 dapur SPPG. Viral pula, program MBG tidak akan libur meski anak-anak libur sekolah dan Nataru. Demi apa? Tentu demi perputaran uang yang sudah terjadi agar terus menghasilkan keuntungan.

Dunia generasi hari ini adalah ruang digital, bagi mereka media sosial bukan sekadar kebutuhan akademis tapi juga pelampiasan isi hati. Mereka branding diri, memuaskan eksistensi dan penerimaan atas bahagia dan sedih adalah di media sosial. Satu sisi memang ada negatifnya, karena banyaknya informasi yang berseliweran justru memberikan efek ambigu dan bahkan hilang identitas sejati mereka sebagai seorang muslim.

Namun juga tak bisa dipungkiri ada sisi positif yang harus kita perhatikan untuk kemudian diarahkan. Pernyataan salah satu dewan pakar BGN di atas sejatinya menunjukkan bagaimana pemerintah merespon setiap sisi positip itu dengan buruk. Dan memang, sejak awal program MBG adalah program yang buruk. Tidak tepat sasaran (jika yang ditarget adalah perbaikan gizi dan ketahanan pangan) juga pemborosan anggaran APBN.

Bahkan diputuskannya program MBG di masa liburan padahal bisa dialihkan kepada kepentingan yang lebih darurat yaitu penanganan bencana, semakin menunjukkan sikap nirempati penguasa yang sesungguhnya. Suara rakyat hanya berharga saat pemilu, namun saat rakyat lapar, menderita, kehilangan harta benda hingga nyawa, hanya bergerak ala kadarnya. Haus validasi bahkan ada upaya menutup akses media sosial meliputi dan mengabarkannya ke dunia luar bahwa bencana masih belum beranjak membaik.

Beginilah Sistem Kapitalisme sekuler bekerja, kekuasaan yang ada di tangan penguasa bukan dianggap amanah yang kelak dipertanggungjawabkan di hadapan Allah tapi lebih untuk memperkaya diri sendiri, partai dan pengusaha yang sudah mendukung mereka duduk di tampuk kekuasaan.

Padahal Rasûlullâh Shalallahu alaihi wa sallam mendoakan para pemimpin yang zalim sebagai berikut, “Ya Allah, siapa saja yang mengurusi urusan dari umatku, lalu ia membuat susah umatku, maka susahkanlah dia. Dan siapa saja yang mengurusi urusan dari umatku, lalu ia sayang pada umatku, maka sayangilah ia.” (HR. Muslim no. 1828).

Islam Lahirkan Pemimpin Bertakwa dan Lembut Hati

Jika para penguasa dan pejabat itu muslim, semestinya takut dengan isi doa Rasûlullâh Saw. Di atas dan mulai muhasabah. Jangan sampai ia tergolong pemimpin yang dilaknat Allah karena tidak menyayangi rakyatnya.

Satu suara saja terdengar dari rakyat, seharusnya sudah membuat hati pemimpin bergetar. Bukan menunggu viral. Hal itu sebagaimana kisah Khalifah Umar bin Khattab yang menerima aduan seorang kakek Yahudi karena rumahnya digusur salah satu walinya di Mesir, Amru bin Ash, untuk pembangunan masjid.

Mendengar aduan itu, Khalifah Umar mengambil sepotong tulang kering, menggoreskan garis lurus dengan pisaunya di atas tulang tersebut, dan membungkusnya rapat-rapat. Dia kemudian meminta kakek itu untuk memberikannya kepada Amru bin Ash. Dan wajah Amru bin Ash seketika berubah pucat serta badannya gemetar, sebab ia paham makna dibalik tulang yang dikirim Khalifah Umar bin Khattab.

Tulang kering tersebut melambangkan bahwa Amru bin Ash, dan semua manusia, pada akhirnya akan menjadi tulang belulang yang kering. Pesan ini dimaksudkan untuk mengingatkan sang gubernur akan kematian, kekuasaan yang sementara, dan pentingnya menegakkan keadilan serta tidak berlaku sewenang-wenang terhadap rakyatnya.

Pemimpin sebagaimana Khalifah Umar bin Khattab tak akan lahir dari sistem sekuler, yang memisahkan agama dari kehidupan sebagaimana saat ini. Beginilah seharusnya seorang pemimpin, tak hanya menghitung nyawa sebagai kumpulan angka semata, kelaparan sebagai fenomena dan bertindak jika viral.

Setaraf negara, dalam sistem Islam bukan juga menggenjot program MBG tapi melalaikan ketahanan pangan yang berkelanjutan. Sebab, kekayaan alam yang berlimpah yang dimiliki negeri ini sejatinya adalah hak milik rakyat sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam ”Kaum Muslim berserikat dalam tiga perkara yaitu padang rumput, air dan api.” (HR Abu Dawud dan Ahmad).

Maka, syariat mewajibkan negara sebagai wakil rakyat mengelola kekayaan alam ini kemudian mengembalikannya kepada rakyat baik dalam bentuk zatnya, semisal air, BBM, listrik atau pun pelayanan publik dengan pembangunan rumah sakit, jalan, sekolah, dan lainnya. Negara wajib memudahkan akses rakyat dalam memenuhi kebutuhan pokoknya individu perindividu. Sehingga keadilan dan kesejahteraan terwujud secara nyata.

Pengaturan ini, hanya bisa diwujudkan jika seluruh kaum muslim memiliki kesadaran penuh bahwa agama yang ia imani bukan sekadar agama pengatur akidah dan ibadah, melainkan sebuah cara pandangan terhadap kehidupan atau ideologi sebuah negara. Sejarah panjang kegemilangannya sengaja dikubur dalam-dalam oleh kafir dan para pembenci Islam.

Bahkan sejatinya ucapan syukur terbaik kita sebagai hamba Allah adalah bersikap taat dan tunduk dengan segala aturan syariat, sebagaimana dalam Al-Quran Surat Al-Baqarah: 208 kita diperintahkan untuk masuk Islam secara kâfah atau keseluruhan. Tidakkah kita rindu pemimpin yang cinta rakyatnya dan rakyat mencintainya? Wallahualam bissawab.***

Tag:MBG
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)