PEKANBARU, datariau.com - Kepolisian Resor Kabupaten Kampar Provinsi Riau menyatakan peristiwa kebakaran Pondok Pesantren (Ponpes) Al Ihsan di Desa Kubang Jaya, Kecamatan Siak Hulu pada Selasa (1/5/2015) dini hari menyebabkan dua orang santri meninggal dunia.
"Dari informasi anggota yang turun ke lokasi kejadian, ada dua santri meninggal dunia akibat peristiwa itu," kata Kapolres Kampar Ajun Komisaris Besar Polisi Ery Apriyono, Selasa (12/5/2015).
Informasi warga sekitar lokasi kejadian, peristiwa kebakaran berlangsung pada pukul 00.40 WIB, saat para santri yang seluruh pengajar serta pihak pengelola tidak lagi menjalankan aktivitas.
Kejadiannya menurut sejumlah warga berlangsung begitu cepat, menghanguskan sejumlah bangunan gedung termasuk pemondokan yang ada di kompleks pendidikan Islam tersebut.
"Saat ini dua santri yang tewas terbakar sudah dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Polda Riau untuk kepentingan otopsi. Kemungkinan akibat luka bakar yang parah," kata AKBP Ery.
Data kepolisian menyebut, dua santri yang meninggal dunia itu masing-masing adalah Musa Alimulhaq (16) dan Arsadi Rabbani (16).
Kebakaran hebat ini telah menghabiskan dua asrama dengan 12 kamar. Kondisi bangunan Ponpes yang terbakar semipermanen.
Sejauh ini, pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan untuk mencari tahu penyebab terjadinya peristiwa tersebut.
"Penyebabnya masih dalam identifikasi. Akan ada tim forensik dari Medan yang turun melakukannya," kata dia.
Bangunan Pondok Pesantren Al Ihsan Boarding School ini berada di Jalan Pesantren RT06 RW06 Desa Kubang Jaya Kecamatan Siak Hulu Kabupaten Kampar.
Kebakaran tersebut menghanguskan gedung Makkah yang dihuni oleh kelas IX SMPIT. Gedung ini dalam keadaan kosong lantaran para santri tengah melakukan kunjungan edukatif ke Sumbar.
Selain itu, gedung Madinah yang berada tepat di bawah gedung Makkah juga terkena rembesan. Bangunan itu juga dalam keadaan kosong karena para siswa kelas XII sudah pulang ujian. Lalu kebarakan juga menghanguskan gedung Madinah lantai atas, yang terdiri dari dua kamar yang dihuni 34 Santri.
"30 Santri kita pastikan selamat, dua santri izin pulang, sedangkan dua santri lainnya meninggal dunia karena kebakaran ini," ungkap salah seorang pengurus Ponpes, Hadid Suyatno.
Sementara itu, informasi dari pihak kepolisian resort (Polres) Kampar mengatakan, bahwa penyebab kebakaran berasal dari ruang tengah (Madinah) yang dalam keadaan kosong. "Yang jelas asal api dari ruang tengah. Sementara penyebab kebakaran masih kita selidiki," kata Humas Polres Kampar, Deni Yusra.
Kepolisian Sektor (Polsek) Siak Hulu Kampar menduga penyebab kebakaran pondok pesantren Al Ihsan Boarding School disebabkan korsleting listrik.
Kapolsek Siak Hulu, Kompol Hermawi menyebutkan, hasil laporan sementara ini, penyebab kebakaran karena arus pendek. "Diduga arus pendek yang berasal dari ruang tengah (Madinah) yang dalam keadaan kosong. Karena bangunan semi permanen, maka api cepat menyebar," katanya.
Dua korban tewas ini ditemukan di dua lokasi terpisah. Satu korban ditemukan berada di dalam barak gedung Madinah, dan satunya ditemukan di bawah tangga.
Isak tangis pecah ketika keluarga korban melihat kondisi jasad yang tewas di RS Bhayangkara akibat musibah kebakakaran ini. Pihak keluarga menolak untuk dilakukan bedah dalam (Autopsi) dan memilih membawa anak mereka pulang ke rumah duka.
Tampak pagi itu belasan pihak keluarga didampingi pengurus Pondok Pesantren dan Kapolsek Siak Hulu berkoordiniasi dengan kedokteran RS, untuk mengenali jasad kedua korban.
Hasilnya, keluarga meminta kepolisian supaya tidak melakukan autopsi (bedah dalam, red) terhadap dua jasad ini. Maka dari itu, kedokteran RS Bhayangkara hanya melakukan visum luar berdasarkan ciri-ciri tubuh dan pengenal berdasarkan tanda fisik. Setelahnya, perwakilan keluarga diperkenankan masuk ke ruang jenazah.
Disinilah kemudian isak tangis pecah. Orang tua dari kedua korban tak sanggup membendung kesedihan usai menyaksikan kondisi tubuh anak mereka yang hangus terpanggang akibat kebakaran itu. Bahkan abang salah satu korban sempat dibopong keluar ruang jenazah karena hampir tak sadarkan diri.
Sekitar tiga jam berada di ruang kamar jenazah RS Bhayangkara Polda Riau, dua jasad korban kebakaran di Pondok Pesantren (Ponpes) Al Ihsan Boarding School kemudian dibawa ke rumah duka. Isak tangis pecah saat keluarga menjemput kedua jenazah ini.
Dengan menggunakan dua mobil ambulance, santri korban kebakaran dibawa ke rumah duka, sekitar pukul 13.30 WIB. Sebelum itu korban disholatkan di masjid di dekat kawasan Ponpes.
Saat petugas menggiring peti jenazah, keluarga yang menyaksikan tak mampu membendung airmata. Ibu dari Arsadi Rabbani yang terlihat lemah sempat menemani peti jenazah anaknya di dalam mobil ambulance. Ia juga mengusap peti kayu cokelat tersebut dengan diiringi doa.
Menurut Yulia Safriani, ibu dari Rasyd (peserta Hafidz Alquran,red) yang merupakan teman kedua santri tersebut mengatakan, anaknya Rasyd pernah memotivasi kedua santri ini sewaktu mengadakan seminar beberapa minggu lalu.
"Kebetulan anak saya Rasyd belum tahu kejadian ini, karena sedang berada di sekolah," ujar Yulia.
Menurut Yulia, kedua santri ini merupakan penghafal Alquran, yang duduk dibangku kelas X Madrasah Aliyah (MA) atau setara dengan kelas 1 SMA. "Kedua santri ini teman akrab Rasyd anak saya. Mereka penghafal al-Quran, tapi saya tidak tahu persis sudah berapa Juz yang dihafalnya," kata Yulia.
Menurut keluarga, untuk korban Musa akan dimakamkan di kawasan rumahnya, jalan Sumber Sari No 12 RT 02 RW 05 Kelurahan Tj Rhu Kecamatan Limapuluh. Sedangkan Arsadi rencananya dimakamkan di dekat rumahnya di Pandau Permai blok C55 No 3 Desa Pandau Jaya Kecamatan Siak Hulu.
Atas kejadian ini, pihak Ponpes Al Ihsan Boarding School menyampaikan permintaan maafnya atas musibah kebakaran yang menewaskan dua orang santri. Ponpes yang memiliki 750 murid inipun siap bertanggung jawab.
Kejadian tragis yang menewaskan dua santri bernama Musa Ali Mulhab (16) dan Arsadi Rabbani (16) ini adalah sebuah musibah. Pihak pengelola pesantren mengaku sudah berkoordinasi dengan anggota keluarga dan telah menyampaikan permintaan maaf secara langsung.
"Kami sudah menyampaikan permintaan maaf yang sebesar-besarnya atas kejadian ini. Dan kami siap bertanggung jawab sepenuhnya, baik dari proses penyelidikan kepolisian hingga berupa santunan dari yayasan, terhadap keluarga yang ditinggalkan," ujar kuasa hukum Ponpes, Armilis.
Sementara dari pihak keluarga mengaku sudah ikhlas atas kejadian ini. Mereka beranggapan bahwa musibah terjadi tanpa ada unsur kesengajaan. "Pihak keluarga dengan lapang hati sudah menerima kejadian tersebut. Yang jelas kita sudah musyawarahkan bersama," tukasnya. (rik)