PEKANBARU, datariau.com - Pasca dilaporkan Hengki (24), warga Cipta Karya ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polda Riau, Senin (5/9/2016) lalu, Aiptu (bukan Aipda seperti diberitakan sebelumnya) Hm membuat hak jawab atau klarifikasi.
"Saya bukannya ingin membela diri, tetapi nanti silahkan cross check ke TKP (tempat kejadian perkara, Red), apakah benar saya memukul dan mengejar pelapor (Hengki) pakai parang," katanya saat menghubungi riauterkinicom melalui telepon genggamnya, Rabu (7/9/2016) pagi.
Menurut dia, apa yang dilaporkan Hengki merupakan upaya pemutarbalikan fakta. Aiptu Hm menyebutkan ketika itu dia baru saja keluar di Perumahan Melati Indah dengan menggunakan Toyota Yaris, di Jalan Melati Pekanbaru, Senin lalu (5/9) sekira pukul 07.15 WIB.
Hengki langsung berhenti di sebelah kanan mobil. Kemudian Aiptu Hm membuka kaca mobil. Hengki yang memakai helm tengkorak membuka kaca helmya sambil memarahi Hm, "Kenapa tak diangkat telepon saya? Saya jawab untuk apa saya angkat sementara kamu mengirim SMS dengan bahasa tak sopan," terangnya.
Kemudian Hengki emosi dan mengeluarkan kata-kata "Berantam aja kita, kau kira aku takut dengan polisi." Aiptu Hm turun dari mobil dan meletakkan baret di atas tempat duduk mobil.
"Mungkin saat saya buka pintu terkena helm dan dalam laporan polisi saya dituduh memukul. Dan ketika saya menaruh baret di tempat duduk, dibilang saya mengambil parang. Untuk membuktikan saya berbohong atau tidak, silahkan nanti cari dan wawancarai pedagang kelapa muda yang berada TKP saat itu dan menyaksikan peristiwa ribut saya dengan Hengki," katanya.
Ayub (70), pedagang air kelapa muda yang ditemui di kedainya, membenarkan ada kejadian ribut antara Hm dengan Hengki. Menurut kakek dengan tujuh cucu ini, saat itu dia melihat Hm mau berangkat tugas keluar mengemudi mobil. Lalu datang seseorang memakai sepeda motor warna merah dan berbicara dengan pengemudi mobil Yaris yang memakai pakaian dinas (Polri).
"Saya lihat (Hm) mau pergi tugas. Lalu datang seseorang lelaki pakai sepeda motor warna merah. Setelah itu mereka ribut dan kejar-kejaran," ucapnya.
Namun Ayub tidak melihat pria yang berpakaian dinas Polri (Hm) memukul dan mengejar pakai parang. "Saya tidak melihat itu," tuturnya.
Utang Piutang
Aiptu Hm yang dikonfirmasi soal masalahnya dengan Hengki, mengakui memang ada kerjasama pembiayaan pekerjaan penimbunan tanah.
"Awalnya Hengki meminjam uang saya Rp25 juta. Sebelum uang dipinjamkan, saya terlebih dahulu menghubungi orangtuanya, Marizon alias Jhon Bob. Ayah Hengki merestui dan menjamin agar uang itu dipinjamkan kepada anaknya," ungkapnya.
Lantas, uang pinjaman itu diserahkan kepada Hengki dengan menggunakan kwitansi pada Nopember 2015. Janjinya, Hengki akan membayar dalam waktu satu bulan. Tapi hingga kini pinjaman itu belum dibayar.
Seperti diberitakan sebelumnya, Hengki melaporkan Aiptu Hm ke bagian SPKT Polda. Kepada wartawan, Hengki mengaku dirinya memang ada kerjasama dengan Aipda Hm untuk sebuah pekerjaan penimbunan. Dalam kerjasama itu, Aipda Hm sudah menyetorkan uang sebesar Rp20 juta.
Telah enam bulan proyek selesai, uang proyek belum juga dibayarkan kontraktor. Saat Hengki menanyakannya, sang kontraktor menyebut Aipda Hm meminta agar pembayaran pekerjaan penimbunan itu ditahan.
"Pihak kontraktor bilang temui dulu Aipda Hm, karena dia bilang uangnya ada yang belum saya bayarkan sebanyak Rp40 juta,'' tuturnya.
Hengki pun merasa heran. Seingat dia, uang Aipda Hm yang dipinjamnya untuk menjalankan proyek hanya Rp20 juta. Ditambah lagi ada pekerjaan proyek Aipda Hm yang dikerjakan Hengki tapi belum dibayarkan. Nominalnya mencapai Rp8 juta.
Hengki langsung bertanya ihwal uang Rp40 juta yang dikatakan kontraktor kepada Aipda Hm. Pertanyaan itu diduga langsung disambut "bogem" mentah di bagian pipi kanan yang menyebabkan lebam. Tidak sampai di situ, Henki pun mengaku diburu oknum anggota Polsek Tampan itu dengan menggunakan sebilah parang.
Marizon, ayah Hengki yang ikut mendampingi anaknya membuat laporan SPKT Polda Riau sangat menyayangkan perbuatan Aipda Hm tersebut. Dikatakan, apa yang dilakukannya sudah melewati etika. Apalagi Aipda Hm sendiri sudah mengenalinya dan anaknya secara baik.
"Dia kenal saya. Apa yang yang dilakukannya sudah tidak etis. Apalagi dia memukul anak saya dan mengejarnya pakai parang masih menggunakan pakaian dinas," tukas pria yang akrab disapa Jon Bob ini.