JAKARTA, datariau.com - Warga Gedung Hijau tersentak kaget mengetahui salah seorang tetangganya menjadi korban perampokan disertai penyanderaan. Keluarga Asep Sulaeman dikenal sangat ramah dan disebut-sebut memiliki penghasilan Rp200 juta setiap bulan.
Ketua RW 13 Indra Roesman mengatakan, di wilayahnya itu belum pernah disatroni kawanan rampok. Kejadian ini pun baru sekali ini dan dia tidak mengetahui apakah korban memang sudah diincar sebelumnya oleh dua perampok tersebut.
"Saya tidak tahu apakah Pak Asep pernah memiliki suatu masalah dengan seseorang atau tidak selama ini. Sebab, selama ini, korban pun selalu bersikap ramah selama tinggal di sini," kata Indra kepada wartawan, Sabtu (3/9/2016).
Sementara itu, salah seorang petugas kemanan, Muhasim (65) menjelaskan, sosok Asep merupakan orang yang ramah dan baik. Muhasim kerap dimintai tolong oleh Asep untuk membantu mengurus KTP dan Kartu Keluarga (KK).
"Setahu saya dia memang pensiunan ExxonMobil dan gajinya Rp200 juta-an," tuturnya.
Saat disuruh itu, kata Muhasim, Asep pun kerap memberikan uang padanya sebagai ongkos membantu. Namun memang, Asep lebih banyak menghabiskan waktu di rumahnya sendiri dibandingkan dengan masyarakat sekitar.
Dia menambahkan, selain anaknya yang bernama Safira yang menjadi korban penyanderaan, Asep juga memiliki anak perempuan lagi di Australia karena sedang mengenyam pendidikan di sana.
"Pak Asep ini memang tergolong mewah. Kalau tak salah kan dia baru beli mobil lagi belum lama ini," ujarnya.
Dua perampok dan penyandera keluarga Asep Sulaeman di Pondok Indah, Jakarta Selatan, saat dikepung dan ditangkap polisi menangis di hadapan para korban. Mereka menangis lantaran takut melihat ratusan polisi yang mengepung rumah tersebut.
Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Moechgiyarto mengatakan, kedua tersangka yakni, AJ dan S itu sempat menangis sesenggukan di hadapan para sanderanya. Keduanya menangis karena merasa ketakutan melihat ratusan polisi datang hendak menggeruduk rumah korban.
"Tersangka itu sempat menangis di hadapan pemilik rumah. Kami juga saat itu kan menyampaikan peringatan-peringatan pada tersangka yang sedang menyandera korban itu," ujarnya pada wartawan, Sabtu (3/9/2016).
Saat itu, tambah Moechgiyarto, kedua pelaku itu membuat skenario untuk bisa membebaskan mereka dari jeratan hukum yang mungkin terjadi nantinya. Keduanya lalu memaksa korban untuk membuat surat pernyataan kalau pelaku dengan korban itu sejatinya memiliki suatu hubungan keluarga. Namun, itu semua merupakan modus pelaku belaka.
"Mereka buat suatu skenario seolah mereka berkeluarga. Ada hubungan persaudaraan. Buat pernyataan yang ditandatangani pemilik rumah, istri, anak, dan tersangka kalau tak terjadi apa-apa. Karena mereka ini panik. Padahal, korban pun tak mengenal kedua tersangka," ujarnya.