DATARIAU.COM - Sejak Virus Corona COVID-19 muncul pada November tahun lalu, ilmuwan telah putus asa mencari sumber virus tersebut. Bahkan pernah ada spekulasi bahwa virus itu dibuat di sebuah laboratorium. Studi mengatakan tidak ada bukti jika virus itu adalah buatan laboratorium.
Dilansir dari situs Mirror, Kamis, 19 Maret 2020, analisis mereka malah menunjukkan bahwa Virus Corona adalah evolusi alami. Kristian Andersen dari kelompok peneliti Scripps Research memastikan mereka telah melakukan penelitian.
"Dengan membandingkan data urutan genom yang tersedia, kita menjawab tegas bahwa SARS-CoV-2 berasal dari virus yang alami," ujarnya. Saat virus itu mulai menyebar di China, ilmuwan mengurutkan genomnya dan membuat data tersedia untuk diteliti ilmuwan di dunia. Dalam studi ini yang mereka teliti adalah genom untuk 'spike protein'.
Analisis mengungkap bahwa protein ini sangat efektif mengikat sel manusia, menandakan mereka hasil dari seleksi alam. Dibuktikan juga dengan hasil keseluruhan struktur molekul virus.
"Jika direkayasa mereka akan membuatnya dari tulang punggung virus yang menyebabkan penyakit. Tapi kami tidak menemukan itu, kebanyakan malah menyerupai virus pada kelelawar dan trenggiling," jelas Andersen.
Kemungkinan virus berasal dari hewan dan menularkannya ke manusia. Perlu penelitian lebih lanjut untuk mengkonfirmasi dari mana asal virus. Mereka berharap penelitian selanjutnya bisa menghancurkan klaim bahwa virus itu buatan manusia.
Sebelumnya, orang dengan golongan darah A lebih rentan terhadap infeksi Coronavirus baru, COVID-19. Sementara orang dengan golongan darah O lebih resisten. Hal ini berdasarkan studi pendahuluan terhadap pasien di China yang tertular Virus Corona.
Peneliti medis di China mengambil pola golongan darah dari sekitar 2.000 pasien yang terinfeksi virus di Wuhan dan Shenzhen, dan membandingkannya dengan populasi sehat setempat. Mereka menemukan bahwa pasien dengan golongan darah A menunjukkan tingkat infeksi yang lebih tinggi, dan gejala yang lebih parah.
Meski peneliti mengatakan studi ini masih terlalu dini, mereka mendesak pemerintah dan fasilitas medis untuk mempertimbangkan perbedaan golongan darah, ketika merencanakan langkah-langkah mitigasi atau merawat pasien COVID-19.
"Orang-orang dari golongan darah A mungkin perlu secara khusus memperkuat perlindungan diri untuk mengurangi kemungkinan infeksi," tulis para peneliti yang dipimpin oleh Wang Xinghuan dengan Centre for Evidence-Based and Translational Medicine di Zhongnan Hospital, Universitas Wuhan.
"Pasien yang terinfeksi, dengan golongan darah A mungkin perlu menerima pengawasan yang lebih waspada dan perawatan yang agresif," tulis Wang, dilansir dari The Star.
Sebaliknya, menurut makalah yang diterbitkan di Medrixv.org pada 11 Maret lalu, menyebutkan golongan darah O memiliki risiko yang secara signifikan lebih rendah untuk penyakit menular dibandingkan dengan golongan darah non-O.(*)