Masyarakat Palu Takut Makan Ikan, Ini Alasannya..

775 view
Masyarakat Palu Takut Makan Ikan, Ini Alasannya..
Ilustrasi. (Foto:Int)

DATARIAU.COM - Masyarakat Palu, Sulawesi Tengah khawatir untuk makan ikan pasca terjadinya gempa dan stunami. Mereka takut ikan yang akan dikonsumsi sempat makan jenazah yang terbawa arus tsunami.

Terkait ikan yang makan jenazah, Ketua Umum Asosiasi Rantai Pendingin Indonesia (ARPI) Hasanuddin Yasni menjelaskan bahwa pada dasarnya ikan tidak masalah dikonsumsi asalkan saat ditangkap masih hidup.

"Ikan punya daya larut. Misal, kalau kita kasih pestisida, ikan kan bisa mati. Andaikan ikan masih hidup, selama 1-2 hari, kandungan toksik (zat beracun) masih ada pada ikan. Setelah dua minggu dan ikan ternyata tetap hidup. Kandungan toksiknya sudah ternetralisasir di dalam ikan," papar Hasanuddin.

Jangka waktu toksik yang ternetralisir pada ikan minimal dua minggu. Artinya, ikan bisa aman dikonsumsi selama ikan itu hidup. "Kalau yang ditangkap mati ya jangan dimakan ikan itu. Enggak perlu diresahkan juga. Sifatnya ikan kan bukan pemakan darah tapi makan daging," lanjut Hasanuddin.

Adanya kecemasan tentang ikan yang makan jenazah juga tak perlu resah. Intinya, kalau ikan yang ditangkap mati, jangan dimakan.

"Kalau ikan mati berarti mungkin ikan makan jenazah dan terkontaminasi. Kandungan toksik di dalam ikan berarti masih ada (tidak ternetralisir). Ada racunnya," Hasanuddin menambahkan.

Ikan yang bertahan hidup dan masih hidup saat kita tangkap aman dikonsumsi."It's okay. Enggak masalah dimakan. Kalau ikannya mati ya jangan dimakan," tambah Hasanuddin. Ikan yang bertahan hidup dari toksik tak hanya dari segi kemampuan daya larut tubuh ikan terhadap toksik.

Ini juga dipengaruhi proses sekresi--proses pengeluaran zat sisa pada tubuh--selama ikan masih hidup. "Ikan juga ada proses sekresi, yang mengeluarkan kotoran. Ikan pun terus bergerak dan mencerna makanan," imbuh Hasanuddin. (*)

Editor
: Nazmi
Sumber
: Liputan6.com
Tag:ikan
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)