KEPULAUAN MERANTI, datariau.com - Seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) di Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kepulauan Meranti membuat alat penyemprot disinfektan dalam bilik atau bilik disinfektan. Alat yang diberinama Disinfection Chamber tersebut diharapkan berguna untuk mensterilkan tubuh dan mengurangi penularan dari corona virus disease atau Covid -19.
Disinfection Chamber tersebut adalah hasil karya Fikri Jasman bersama temannya Zulkarnain.
Ide untuk membuat Disinfection Chamber itu berawal dari semakin banyaknya yang terinfeksi virus ini sehingga mereka mengira perlu untuk ikut andil dalam penanggulangannya.
"Awalnya hanya iseng-iseng saja, dimana kami melihat di daerah lain banyak yang membuat dan didaerah kita waktu itu tidak ada sehingga kami beranggapan tidak ada salahnya juga kita membuatnya," kata Fikri
"Ini juga kami buat bagi yang usai bekerja diluar untuk mensterilkan tubuh dari paparan Covid-19 yang saat ini masif penyebarannya. Selain itu kami pikir ini juga bagian dari kami untuk ikut andil mengambil peran dalam penanggulangan penyebaran virus," kata Fikri lagi.
Lebih lanjut, Fikri mengatakan alat tersebut akan menyemprotkan disinfektan keseluruh tubuh atau pakaian, harapannya dapat membunuh kuman atau virus yang menempel pada tubuh atau pakaian.
Dikatakan bilik disinfektan buatannya itu ada keunggulan tersendiri, dimana untuk membuat kabut disinfektan, ia menggunakan enam buah Mist Nozzle sehingga ketika masuk didalam bilik tersebut tidak terasa basah seperti menggunakan blower air.
Proses pembuatan bilik disinfektan ini memakan waktu 4 hari dibuat dengan sesederhana dan semurah mungkin. Dengan modular sehingga mudah dipasang dan diaplikasikan di berbagai tempat.
Berdasarkan pantauan, bilik berukuran tinggi 2 meter dan lebar 1 meter tersebut dibuat secara sederhana dari rangka kayu yang ditutupi plastik. Hal itu agar cairan/uap disinfektan tetap berada dalam bilik
"Kami membuat Disinfection Chamber dengan biaya yang murah. Alat penyemprot seperti Mist Nozzle dipesan melalui online seharga Rp 400 ribu sedangkan kerangka bilik yang terbuat dari kayu seharga Rp 300 ribu," ujarnya.
Saat ini Disinfection Chamber masih berada dirumahnya mengingat waktu itu ada imbauan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Indonesia yang memperingatkan publik untuk tak menyemprotkan atau memakainya langsung ke tubuh manusia.
"Setelah mendengar adanya imbauan dari WHO, makanya alat ini masih disini dan sempat dibongkar lagi, awalnya kami punya niat untuk diletakkan di mesjid. Selanjutnya ini akan dihibahkan kalau memang dibutuhkan," pungkasnya.(Put)