Tragedi Dokter Internship dan Gagalnya Sistem Kapitalisme Menjaga Kemanusiaan

Oleh: Siti Aminah, S.Pd
datariau.com
335 view
Tragedi Dokter Internship dan Gagalnya Sistem Kapitalisme Menjaga Kemanusiaan
Ilustrasi. (Foto: Int.)

DATARIAU.COM - Dunia kedokteran Indonesia tengah diselimuti duka mendalam. Dalam waktu yang berdekatan, publik dikejutkan dengan kabar meninggalnya sejumlah dokter muda yang sedang menjalani Program Internship. Salah satu yang menjadi sorotan ialah wafatnya dr. Myta Aprilia Azmy di Rumah Sakit Mohammad Hoesin (RSMH) Jambi setelah sebelumnya bertugas di RSUD KH Daud Arif Kuala Tungkal. (TribunPekanbaru.com, 2/5/2026)

Dokter muda lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya itu sempat menjalani perawatan intensif sebelum akhirnya meninggal dunia. Kondisi kesehatannya disebut terus menurun, bahkan kadar saturasi oksigennya dilaporkan sempat berada di bawah 80 persen. Kepergian dr. Myta tentu bukan sekadar kabar duka bagi keluarga dan rekan sejawatnya, tetapi juga menjadi alarm keras bagi sistem kesehatan di negeri ini.

Baca juga:Jangan Salah Pilih, Dokter Sunat Pekanbaru Terbukti Nyaman


Program internship sejatinya bertujuan membentuk dokter yang matang secara kompetensi dan pengalaman. Dalam tahap ini, dokter muda menjalani praktik pelayanan kesehatan di bawah bimbingan dokter pendamping sebelum memperoleh izin praktik penuh. Namun, dalam praktiknya, tidak sedikit dokter internship justru menghadapi beban kerja yang sangat berat. Pakar kesehatan masyarakat, Tjandra Yoga Aditama, bahkan menegaskan bahwa tragedi ini harus menjadi momentum penting untuk menata ulang program internship secara menyeluruh agar lebih manusiawi dan bermartabat. Ia merujuk pada jurnal internasional Medscape edisi 24 April 2026 berjudul “The Health Worker Paradox: When Caregivers Become Patients” yang mengungkap tingginya tekanan kerja tenaga kesehatan. Jam kerja panjang, jadwal jaga malam yang padat, hingga tekanan psikologis berkepanjangan dapat memicu burnout dan menurunkan kesehatan fisik maupun mental. (mediaindonesia.com, 10/5/2026)

Kondisi tersebut tentu tidak boleh dianggap wajar. Dokter memang memiliki tanggung jawab besar terhadap keselamatan pasien, tetapi dokter juga manusia yang memiliki keterbatasan fisik dan mental. Ketika tubuh dipaksa bekerja melampaui batas, yang dipertaruhkan bukan hanya kesehatan dokter, tetapi juga keselamatan pasien yang ditangani.

Di sinilah persoalan mendasarnya muncul. Dalam sistem kapitalisme yang mendominasi tata kelola layanan kesehatan hari ini, tenaga kesehatan kerap dipandang sebagai bagian dari mesin pelayanan yang harus terus bekerja demi memenuhi kebutuhan sistem. Ukuran keberhasilan lebih banyak bertumpu pada produktivitas layanan, efisiensi kerja, dan kemampuan memenuhi tingginya kebutuhan pasien.

Akibatnya, eksploitasi tenaga kerja menjadi sesuatu yang sulit dihindari. Dokter internship yang berada pada posisi junior sering kali tidak memiliki banyak ruang untuk menolak beban kerja berlebih karena program tersebut merupakan syarat penting untuk memperoleh izin praktik. Dalam situasi seperti ini, relasi yang semestinya bersifat pembinaan justru berpotensi berubah menjadi tekanan.

Padahal, sekalipun masih berada dalam tahap internship, para dokter muda tetaplah manusia yang memiliki hak atas kesehatan, waktu istirahat, dan perlindungan kerja yang layak. Tidak semestinya semangat pengabdian dijadikan alasan untuk membiarkan mereka bekerja tanpa batas.

Ironisnya, negara kerap hanya hadir sebatas membuat aturan administratif tanpa pengawasan yang benar-benar kuat di lapangan. Ketika terjadi persoalan serius, evaluasi biasanya baru dilakukan setelah muncul korban. Padahal, sistem pengawasan seharusnya berjalan sejak awal untuk memastikan bahwa beban kerja, jadwal jaga, hingga kondisi kesehatan dokter internship tetap berada dalam batas aman.

Kondisi ini menunjukkan adanya masalah yang lebih mendasar dalam cara negara memandang pelayanan kesehatan. Dalam sistem yang berorientasi material dan keuntungan, profesi dokter perlahan diposisikan layaknya pekerja produksi yang harus terus menghasilkan layanan sebanyak mungkin. Akibatnya, aspek kemanusiaan sering kali terpinggirkan.

Pandangan seperti ini tentu berbahaya. Dunia kesehatan bukan sekadar persoalan target layanan atau angka produktivitas. Di dalamnya ada nyawa manusia, ada kesehatan mental tenaga medis, dan ada tanggung jawab moral yang besar. Ketika dokter dipaksa bekerja dalam kondisi kelelahan ekstrem, maka risiko kesalahan medis juga akan meningkat.

Baca juga:Libur Sekolah Jadi Momentum Ideal Sunat Anak dengan Nyaman di Dokter Sunat Pekanbaru


Karena itu, peristiwa meninggalnya dokter muda tidak boleh berhenti sebagai kabar duka yang lewat begitu saja. Pemerintah perlu melakukan evaluasi serius terhadap sistem internship, termasuk pembatasan jam kerja, penguatan pendampingan, pemeriksaan kesehatan berkala, serta pengawasan ketat terhadap rumah sakit penyelenggara.

Lebih dari itu, perlu ada perubahan paradigma dalam memandang profesi dokter. Dokter bukan alat produksi layanan kesehatan, melainkan manusia yang menjalankan amanah besar untuk menolong sesama. Karena itu, keselamatan dan kesejahteraan mereka wajib menjadi prioritas.

Islam sendiri memberikan perhatian besar terhadap perlindungan manusia dari segala bentuk bahaya. Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda, “Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh membahayakan orang lain.” Hadis ini menunjukkan bahwa segala bentuk kebijakan yang berpotensi mencelakakan manusia harus dicegah.

Bahkan terhadap hewan saja, Islam melarang pemberian beban kerja yang berlebihan. Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam pernah menegur pemilik unta yang membiarkan hewannya kurus karena terlalu berat bekerja. Jika terhadap hewan saja Islam mengajarkan kasih sayang dan perlindungan, maka terhadap manusia tentu harus jauh lebih besar lagi.

Baca juga:8 Menu Sarapan untuk Asam Lambung Agar Perut Nyaman

JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)