DATARIAU.COM - Nuansa kompetisi perpolitikan tanah air jelang pemilihan umum yang sebentar lagi akan diselenggarakan sudah mulai kian terasa di tengah-tengah masyarakat kita khususnya di kabupaten Indragiri Hilir yang dihuni dari berbagai kalangan suku, agama, golongan, profesi serta strata pendidikan.
Berbagai poster, spanduk, baleho, pamflet, brosur hingga kalender bahkan status dibaranda media sosial pun sudah mulai memenuhi ruang-ruang publik dengan segala program, ide serta gagasan dan janji-janji para calon yang akan berkontestasi di ajang pemilu yang sebentar lagi akan diselenggarakan.
Politik sendiri secara sederhana bermakna sebagai suatu keinginan dengan rancangan strategi untuk memperoleh sebuah tujuan.
Dalam perjalanannya dengan begitu banyaknya partai politik membuat para calon peserta pemilu itu sendiri memainkan berbagai peran untuk meraih suara dari rakyat.
Trik dan intrik bisa saja digunakan sebagai suatu cara untuk meraih hati para pemilih di tatanan grassroot atau akar rumput.
Tidak jarang para calon peserta pemilu mulai dari pemilihan kepala daerah setingkat Legisatif, Bupati, Gubernur hingga Presiden akan memberikan angin segar bak seorang pahlawan yang ingin menawarkan perubahan pada negeri ini.
Tentu saja hal itu bukanlah sesuatu yang salah, masyarakat sungguh benar-benar berharap suara mereka yang notabenenya adalah Suara Tuhan bukan saja untuk didengar namun juga wajib diimplementasikan oleh para pemimpin yang kelak terpilih oleh konstituen masing-masing sebagai bentuk dari perpanjangan tangan yang telah diamanatkan rakyat kepadanya.
Sedikit ironis memang terkadang begitu mereka sudah terpilih, banyak rakyat kecewa, semua janji yang diucapkan, visi misi yang digembar gemborkan ternyata hanyalah retorika belaka, semua perlahan tenggelam seiring berjalannya waktu.
Lalu apakah kemudian rakyat masih percaya? sudah pasti masyarakat tetap pecaya, karena kita berkiblat pada sistem demokrasi namun mereka mempunyai catatan khusus dalam relung hatinya, karena bagi mereka pengalaman adalah sesuatu yang sangat berharga untuk dilupakan.
Diera keterbukaan saat ini teknologi berbasis informasi sudah mendominasi mulai dari pelosok desa hingga ke pusat kota sekalipun bahkan semua jenis informasi yang diinginkan oleh para pemilih berada di ujung jari.
Rakyat sudah melek teknologi, mereka sudah tentu sangat bisa menentukan mana calon yang berkualitas dan mana calon yang hanya ingin mengecewakan mereka kembali dengan segala janji dan beribu argumentasi.
Walaupun demikian barangkali masih saja ada sebagian kecil diantara para pemilih yang mungkin saja cinta buta terhadap calon yang diusungnya karena ada kepentingan secara finansial atau janji-janji untuk menduduki sebuah jabatan yang strategis atau hanya sebatas aktualisasi diri ketika jagoan yang diusungnya nanti bisa memenangkan kontestasi tersebut.
Bagi mereka yang memiliki kantong tebal tentu akan menggunakan segala sumber daya mulai dari menyiapkan konsultan politik, konsultan komunikasi, bahkan hingga konsultan strategi untuk merumuskan rencana dan langkah strategis apa yang akan diambil agar bisa memenangkan pemilu tersebut.
Namun kembali lagi rakyat sudah bukan objek yang bisa dirayu ataupun diiming-imingi dengan janji manis apalagi politik uang. Mereka sudah banyak makan asam garam selama beberapa dekade, itulah yang kemudian menjadi tolak ukur mereka untuk memutuskan siapa yang bisa dipercaya untuk mewakili suara mereka.
Bagi para kontestan peserta pemilu, dinamika yang akan dihadapi pada pemilu yang akan datang bukanlah sesuatu yang mudah untuk bisa dimenangkan karena polanya sudah tidak sama seperti tahun-tahun sebelumnya.
Mereka yang memiliki team dengan akselerasi tajam serta mempunyai kapasitas dan kapabilitas yang mumpuni akan dengan lebih mudah membaca signal diakar rumput secara dinamis dan dengan itu pula mereka akan mengambil langkah-langkah strategis sesuai dengan kondisi yang terjadi secara riil di lapangan.
Para team sukses di lapangan akan memetakan strategi pemilih berdasarkan segmen, dimulai dari pemilih pemula, pemilih muda atau millenial, pemilih intelektual, pemilih berdasarkan kelompok atau gender, pemilih dengan latar belakang tradisi atau budaya hingga pemilih yang didasarkan atas pendidikan rata-rata.
Semua poin-poin tersebut akan dijadikan pertimbangan yang kemudian diakumulasi untuk memutuskan langkah dan strategi apa yang akan diambil sesuai dengan segmentasi para pemilih untuk dapat diraih suaranya.
Sebagai bangsa yang peduli dan sadar akan pentingnya pemilu untuk memilih putra dan putri terbaik bangsa ini kita berharap kontestasi yang akan dilaksanakan 5 tahun sekali ini bisa berjalan dengan jujur dan adil serta aman dan damai tanpa harus melihat suku agama ras dan golongan.
Sebab siapapun dia, dari suku apapun mereka dan berbagai latar belakang apapun juga berhak untuk memilih dan dipilih sesuai dengan amanat konstitusi negeri ini. Sepanjang gagasan dan ide yang mereka gaungkan dapat dengan sungguh-sungguh untuk direalisasikan agar negeri ini bisa terus bangkit dan bertumbuh ke arah yang lebih baik lagi. (fit)