KEPULAUAN MERANTI, datariau.com - Pernyataan oknum pejabat Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti Saiful Ikhram yang merupakan Kabag Kominfo, menyebut kedatangan oknum wartawan ke kantornya dengan tujuan memeras, mendapat tanggapan serius wartawan di Meranti yang tergabung dalam Organisasi Pers PWRI-B.
Ketua Pembina PWRI-B Meranti, Zainuddin Hs SAg secara tegas mengatakan bahwa komentar Kabag Kominfo Meranti tersebut tidak mencerminkan sikap seorang ASN. Seharusnya saat pejabat merasa ada kejanggalan dalam penulisan berita wartawan, langkah yang diambil harus menempuh jalur yang ada, tidak serta merta menuding wartawan ingin memeras.
"Jujur saja, melihat statetment itu saya sangat tersinggung. Kalau memang maunya seperti itu, kita akan lawan. Mau sampai kemanapun akan kita lawan, karena ini termasuk pencemaran profesi," tegasnya, Rabu (8/5/2019).
Pertikaian yang saat ini kian viral di media sosial Facebook tersebut, kata Zainuddin, dianggap telah melukai hati para kuli tinta di Indonesia, terkhusus wartawan yang bertugas di Kabupaten Kepulauan Meranti.
Ketua PWRI-B Meranti, Fadli mengatakan, tindakan dan kata-kata yang ditulis oknum pejabat dalam kolom komentar itu sangat tidak mencerminkan sikap seorang ASN. Padahal, Aparatur Sipil Negara (ASN) memiliki aturan dan sikap memberikan contoh yang baik ke publik.
"Seharusnya, oknum pejabat yang mengacu pada aturan tidak menuliskan bahasa seperti itu ke wartawan. Itu terlalu menunjukkan bahwa dia tidak menghargai ataupun terlalu menganggap rendah wartawan," kata Fadli dalam rapat keanggotaan di kantor PWRI-B Meranti, Jalan Banglas, Selatpanjang Timur, Selasa (7/5/2019).
Atas kejadian itu, Fadli menilai wartawan semakin dikesampingkan oleh pemerintah. Padahal, untuk kemajuan daerah semua tidak terlepas dari peran seorang wartawan yang terus mempublikasikan potensi yang ada.
"Saya secara pribadi sangat terluka, dengan statetment oknum pejabat Meranti itu. Saya harap Kepala Daerah tidak menganggap sepeleh permasalahan ini," tegas Fadli.
Hal senada juga diutarakan Sekretaris PWRI-B Meranti, Dedi Yuhara Lubis, ia berpendapat bahwa wartawan dan pemerintah adalah mitra kerja yang baik. Seharusnya hal-hal yang terbilang tidak perlu dikatakan jangan dikatakan.
Pria yang berhasil maju menjadi Wakil Rakyat pada Pemilu 2019 itu secara pribadi sangat menyayangkan pertikaian yang terjadi antara wartawan dengan oknum pejabat yang ditugaskan mengakomodir kerjasama yang baik dengan media.
"Kita sangat menyayangkan apa yang diucapkan Kabag Kominfo tersebut, seharusnya beliau harus lebih familiar dengan rekan-rekan wartawan, walaupun bagaimana juga, tanpa wartawan, perkembangan suatu daerah akan sulit diketahui perkembanganya oleh masyarakat luas," katanya.
"Wartawan itu seharusnya dijadikan partner kerja, bukan dimusuhi, wartawan bukanlah seorang pemeras, tugas dan fungsi wartawan salah satunya juga turut membangun dan mengembangkan potensi yang ada di daerah, atas nama organisasi wartawan yang di dalamnya terdiri dari berbagai media dan owner, kita sangat mengecam keras perkataan memeras dan memaki wartawan tersebut," sambungnya.
Perihal itu, Dedi sempat memberikan saran dan masukan. Dijelaskannya, etos kerja akhir seorang jurnalis adalah bekerja dengan hati nurani. Menurutnya, selagi permasalahan itu tidak merugikan banyak orang atau negara, jurnalis harus berpedoman pada hati nurani.
"Dalam pokok pers ada menyebutkan, selain keterampilan gagasan yang harus dikuasai, seorang jurnalis juga harus berpedoman pada hati nurani atau rasa prikumanusiaan, jadi perihal ini dijadikan semua pelajaran dan dorongan untuk kita dalam mengungkap fakta-fakta di lapangan," pungkasnya. (put)