KARANGANYAR, datariau.com - Seiring majunya bidang ekonomi serta pariwisata di Kabupaten Karanganyar, ternyata masih menyisakan pekerjaan besar bagi pemangku kebijakan di kabupaten yang berada di lereng Gunung Lawu ini. Di sudut-sudut daerah yang mengangkat slogan 'Karanganyar Tentram' ini masih ditemukan potret kemiskinan warganya.
Wajah kemiskinan di Karanganyar ini terlihat dari kehidupan pasangan Harjowiyono-Warsinah, warga Ngemplak Rt2/RW 4 Karangpandan, Karanganyar. Pasutri yang sudah berusia lanjut ini tinggal di gubuk reot nyaris ambruk.
Kondisi rumah yang berada di tengah-tengah rimbunan pohon bambu sudah ditinggali mereka berdua bertahun-tahun lamanya ini jauh dari kata layak. Dinding rumah terbuat dari bambu, lantainya hanya berupa tanah. Bahkan genting rumah terlihat sudah tua dan tak pernah diganti. Bila malam tiba, rumah tersebut gelap gulita, karena tak ada listrik di sana.
Bahkan untuk tidur pun, keduanya hanya beralaskan tikar saja. Tak ada dipan apalagi springbed bermerek. Tidak ada perabotan rumah tangga, hanya ada lemari butut serta tumpukan barang-barang bekas.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Warsinah dan Harjowiyono selama belasan tahun mencari barang-barang bekas yang disetorkan pada pengepul barang rongsokan. Untuk jerih payahnya itu, mereka mendapatkan hasil sebesar Rp15 ribu-Rp25 ribu per hari yang mereka pakai untuk kehidupan sehari-hari. Pendapatan besar mereka dapat bila ada tetangga ingin dipijat atau kerok. Hasil pijat dan kerok mereka di bayar Rp30 Ribu-Rp45 ribu.
"Niku gih boten mesti wonten sing pengen dipijet Nopo kerok. Gih sing pasti mung golek rongsokan mawon kangge urip (Itu juga tidak pasti ada yang pengen dipijat atau kerokan. Yang pasti hanya mencari rongsokan saja untuk hidup)," ungkap Warsinah dengan logat Jawa saat ditemui Okezone di kediamannya, Sabtu 1 September 2018.

Di dalam rumahnya yang reot itu, keduanya bertahun-tahun menahan dinginnya udara malam. Belum lagi bila hujan, justru keduanya malah memilih berada di luar rumah. Mereka ikhlas kehujanan karena setiap hujan mereka takut rumahnya ambruk.
"Saya takut keambrukan (rumah). Kalau keambrukan saya mati. Saya takut mati. Jadi kalau hujan, saya pilih di luar rumah. Tidak masalah basah kuyup. Yang penting selamat. Kalau sakit, tinggal dibawa ke puskesmas," kata dia.
Sebenarnya mereka sudah mengajukan permohonan untuk perbaikan rumah. Namun, jangankan rumahnya diperbaiki, kartu raskin pun tak mereka dapat.
Tak heran bila saat ditanya apa harapannya pada Pemkab Karanganyar terutama pada Bupati Karanganyar Juliyatmono, Warsinah pun mengaku lupa nama bupatinya.
"Saya sudah lupa namanya siapa," ujarnya lugu.
Kisah pilu yang dialami oleh pasutri ini akhirnya viral di media sosial setelah ada warga yang memposting potret kehidupan keduanya. Akhirnya, beberapa pihak berbondong-bindong datang untuk membantu memperbaiki gubug reotnya, salah satunya dari Banser NU.
"Kami prihatin dengan kondisi pasutri yang hidup tanpa sanak saudara ini. Melalui swadaya, semampu kami akan membangunkan rumah baru untuk mereka berdua tempati," Triyanto salah satu anggota Banser NU Ngemplak, Karangpandan, Karanganyar.
Sementara itu Ketua RT 2 Samin mengaku senang akhirnya rumah Harjowiyono dan Warsinah mendapatkan perhatian luas dari masyarakat. Menurut Samin, tak hanya dari Banser NU saja yang datang membantu memperbaiki kediaman warganya ini, sejak menjadi viral, banyak pihak mulai dari relawan, Bimas Polres hingga Dinas Sosial Karanganyar datang membantu.
Bahkan, Dinas Sosial pun telah melakukan survei ulang untuk diajukan sebagai penerima Rumah Tidak Layak Huni (RTLH).
"Sebenarnya dulu pernah diajukan. Namun karena salah sasaran, jadi mereka tidak dapat. Dan sekarang mereka akan dimasukkan lagi untuk bisa menerima RTLH," terangnya.