Berani Beda, BAS Unjuk Kemanpuan Dengan Alat Perkusi Seadanya

datariau.com
884 view
Berani Beda, BAS Unjuk Kemanpuan Dengan Alat Perkusi Seadanya
PEKANBARU, datariau.com - Bertuah Akshara Sympony atau yang lebih dikenal dengan sebutan BAS merupakan group perkusi yang dinaungi oleh 12 personil yang terdiri dari Handika, Uyek, Rian, Fayet, Noval, Abdul BSN, Hafiz, Yola, Fea, Niko, Deri dan Biby. BAS tampil dalam sebuah event yang didakan oleh Yamaha tepatnya di Mal SKA Pekanbaru, Sabtu (23/3/2019).

Menceritakan tentang BAS tidak lengkap jika tidak mengetahui asal muasal group ini bisa terbentuk. Handika Ilsa merupakan salah satu anggota group perkusi ini menjelaskan bahwa group ini terbentuk dengan sendirinya, karena alasan yang masih sering ngumpul.

"Jadi kami tercetuslah memutuskan untuk membentuk suatu group perkusi yang sebenarnya sudah lama kami rencanakan agar basic yang kami dapatkan dari marching band bisa berguna dan agar kami bisa mengeksplor diri lagi dalam kegiatan berseni. Karena di BAS sendiri kami tidak hanya menunjukan kemapuan dalam hal marching band saja, namun kami juga belajar dari kesenian lainnya seperti pacak silat dan tari modren," ujarnya.

Group ini terbentuk sejak Desember 2018. Namun mulai dikenal dan mengikuti event sejak awal tahun 2019. Group perkusi yang dinaungi oleh binaan Indonesia Marching Arts Association (IMAA) dan diasuh Rahma Dul Wahid (Amek). Dengan latar belakang yang sama yaitu kecintaan mereka terhadap marching band. Membuat mereka tidak sulit untuk menyatukan ide dan pemikiran akan pembentukan BAS sendiri.

"Kami tidak seumuran, namun kami berasal dari hobi dan latar belakang yang sama yaitu marching band. Kami 12 personil memiliki latar belakang pendidikan yang berbeda, ada yang masih pelajar dan ada juga yang sudah mahasiswa," tambahnya.

Hal ini menyatakan bahwa umur atau latar belakang pendidikan tidak selalu penting dalam pembentukan komunitas atau gagasan lainnya, yang terpenting adalah tujuan setiap individu sama. Sibuk dengan kegiatan masing-masing tidak membuat mereka menjadi lalai akan BAS. Mereka punya komitmen sendiri dengan group perkusi-nya ini, sampai sesi latihan sendiri mereka telah membuat jadwal rutin setiap minggunya.

Saat ditanya tentang sesi latihan, Handika menjelaskan bahwa dalam seminggu melakukam 3 kali latihan. Pertama di hari Rabu latihan fisik 15.00-17.30 wib, di hari Sabtu sendiri ada 2 kali sesi latihan, mulai pukul 13.00 wib latihan body language dan sorenya latihan basic. Hari Minggu pukul 06.00-09.00 wib program pengumpulan sampah diarea cfd, hasil dari program ini akan dimasukan ke kas BAS guna untuk keperluan penampilan.

Yang membedakan group perkusi BAS dengan perkusi lainnya ialah mereka memanfaatkan barang-barang bekas yang mungkin dianggap sudah tidak berguna bagi segelintir orang. Namun mereka bisa memanfaatkan dan menjadikan bahan bekas itu menjadi nilai seni dan memiliki nilai jualnya sendiri.

"Kami menggunakan alat yang berasal dari barang bekas seperti panci bekas, galon bekas, botol, drum, vleg, ember cat dan barang bekas lainya. Kami juga menambahkan alat tradisional yaitu saluang. Dalam setiap penampilan kami mengkombinasikan permainan perkusi dengan pancak silat dan tarian modern," lanjut pria yang akrab disapa Dika ini.

Dika dan teman-teman berharap apa yang dilakukan mereka bisa dicontoh oleh anak muda lainnya. Bahwa keterbatasan bisa dijadikan suatu peluang. Tak harus menggunakan alat perkusi yang modern untuk bisa unjuk kemampuan dan keterampilan. Justru berani beda itu adalah daya jual yang sebenarnya untuk bisa mendapatkan peluang. (rls)
Penulis
: Niza Nurfajriah
Tag:musik
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)