Panjat Pinang: Tradisi Belanda Menyiksa Pribumi Untuk Hiburan Penjajah di Indonesia, Masih Pantaskah Dilestarikan?

datariau.com
2.927 view
Panjat Pinang: Tradisi Belanda Menyiksa Pribumi Untuk Hiburan Penjajah di Indonesia, Masih Pantaskah Dilestarikan?
Ilustrasi. (Foto: Internet)
Tradisi panjat pinang, peserta saling bekerja sama untuk menggapai hadiah di puncak, bahkan sampai menginjak kepala.

DATARIAU.COM - Setiap bulan Agustus, saat peringatan hari kemerdekaan Indonesia diramaikan dengan berbagai perlombaan tradisional, termasuk lomba panjat pinang.

Perlombaan ini melibatkan peserta yang berusaha memanjat pohon pinang licin yang dilumuri minyak untuk meraih hadiah di puncaknya. Peserta yang berjumlah beberapa orang ini saling injak-menginjak untuk mengantarkan perwakilan tim sampai ke atas puncak batang pinang yang ada hadiah, tak jarang kepala diinjak, jatuh dan menjadi bahan sorak tawa penontonnya.

Meskipun panjat pinang sering kali menjadi daya tarik utama saat 17 Agustus, ada kisah pilu di balik sejarah lomba ini yang jarang diketahui masyarakat.

Menurut Mang Dayat, seorang pemerhati sejarah dan budaya dari Sumatera Selatan, lomba panjat pinang pertama kali diperkenalkan di Indonesia pada masa penjajahan Belanda.

Pada waktu itu, lomba ini dikenal dengan nama "Deklimas" atau panjat tiang. Bangsa Belanda mengadakan lomba ini pada 31 Agustus, bertepatan dengan hari ulang tahun Ratu Wilhelmina, namun kegiatan ini juga sering dilaksanakan pada hari-hari besar lainnya serta pesta pernikahan Belanda.

Mang Dayat menjelaskan, pada masa penjajahan, orang Belanda menyelenggarakan lomba panjat pinang dengan tujuan untuk hiburan mereka. Berbagai hadiah seperti sembako, pakaian, dan makanan diletakkan di pohon pinang, yang dilumuri minyak pelumas. Bagi warga pribumi, hadiah-hadiah tersebut merupakan barang mewah yang sangat dibutuhkan, namun sulit dijangkau karena tantangan licinnya pohon pinang.

“Lomba ini dilaksanakan oleh Belanda untuk memeriahkan acara mereka sambil mengejek kesulitan yang dihadapi oleh masyarakat pribumi. Barang-barang hadiah yang diletakkan di pohon pinang adalah kebutuhan pokok yang sangat berharga bagi rakyat Indonesia saat itu,” ungkap Mang Dayat.

“Pemandangan warga pribumi yang berjuang keras demi mendapatkan barang-barang murah tersebut menjadi tontonan hiburan bagi orang Belanda,” imbuhnya.

Sejarah kelam ini menyisakan kontroversi di kalangan masyarakat Indonesia. Beberapa pihak merasa bahwa melanjutkan tradisi lomba panjat pinang dalam perayaan kemerdekaan seakan mengabaikan nilai-nilai perjuangan dan martabat bangsa.

Mereka berpendapat bahwa lomba ini mengingatkan pada masa penjajahan yang penuh penderitaan dan menjadikannya sebagai hiburan bagi penjajah.

Dengan adanya informasi ini, masyarakat diharapkan dapat lebih memahami latar belakang sejarah dari lomba panjat pinang dan mengkaji ulang apakah perlombaan tersebut masih relevan dan pantas dipertahankan dalam rangka menyemarakkan kemerdekaan Indonesia.

Artikel asli: rri.co.id

JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)