DATARIAU.COM - Silent treatment dapat didefinisikan sebagai tindakan seseorang yang secara sengaja menolak untuk berkomunikasi atau berinteraksi dengan orang lain. Ini bisa melibatkan penolakan total untuk berbicara, mengabaikan keberadaan seseorang atau hanya memberikan respon minimal yang tidak berarti.
Perilaku ini seringkali muncul sebagai reaksi terhadap konflik atau ketidaksetujuan. Dalam menghadapi masalah secara langsung melalui komunikasi terbuka, pelaku silent treatment memilih untuk menarik diri dan mendiamkan lawan bicaranya.
Penting untuk dipahami bahwa silent treatment berbeda dengan kebutuhan seseorang untuk menyendiri atau menenangkan diri sejenak setelah pertengkaran. Hal yang membedakan adalah durasi dan intensitas, serta niat di baliknya. Silent treatment biasanya berlangsung lebih lama dan memiliki tujuan untuk menghukum atau memanipulasi.
Ada berbagai alasan mengapa seseorang mungkin memilih untuk melakukan silent treatment, yaitu untuk menghindari konflik. Beberapa orang merasa tidak nyaman dengan konfrontasi langsung dan memilih untuk mendiamkan sebagai cara menghindari pertengkaran. Ketidakmampuan mengekspresikan emosi, terjadi pada seseorang yang mungkin kesulitan mengungkapkan perasaan mereka secara verbal sehingga memilih untuk diam.
Keinginan untuk menghukum adalah silent treatment yang biasa digunakan sebagai bentuk hukuman emosional terhadap orang yang dianggap telah menyakiti atau mengecewakan. Manipulasi ialah silent treatment sebagai taktik untuk mendapatkan apa yang diinginkan atau mengontrol situasi. Pola asuh juga menjadi alasan seseorang melakukan silent treatment. Hal ini terjadi karena seseorang mungkin telah mempelajari perilaku ini dari lingkungan keluargaa saat tumbuh besar.
Mengenali silent treatment bisa menjadi langkah pertama dalam mengatasi masalah ini. Ciri-ciri umum dari perilaku silent treaatment, yaitu adanya penolakan komunikasi. Pelaku secara konsisten menolak untuk berbicara atau merespon bahkan ketika diajak bicara secara langsung. Pengabaian fisik, dilakukan dengan cara menghindari kontak mata, berpaling atau bahkan meninggalkan ruangan ketika orang yang menjadi target memasuki area yang sama.
Respon minim adalah hal yang dilakukan oleh seorang silent treatment dengan cara hanya memberikan jawaban singkat seperti “ya” atau “tidak” tanpa penjelasan lebih lanjut. Bahasa tubuh negatif, dilakukan oleh seseorang yang mungkin menunjukkan sikap tubuh yang tertutup seperti melipat tangan atau memalingkan wajah. Selektivitas ialah seseorang yang mungkin berkomunikasi normal dengan orang lain tetapi tetap mengabaikan target silent treatment mereka.
Penolakan untuk menjelaskan juga menjadi ciri-ciri perilaku silent treatment yang mana ketika ditanya mengapa mereka bersikap demikian, orang tersebut mungkin menolak untuk memberikan alasan yang jelas. Penggunaan media sosial, silent treatment bisa meluas ke penolakan untuk berinteraksi melalui teks, media sosial atau bentuk komunikasi lainnya.
Silent treatment tidak hanya mempengaruhi dinamika hubungan, tetapi juga dapat memiliki dampak psikologis yang mendalam pada individu yang menerimanya. Efek psikologis yang mungkin dialami oleh korban silent treatment yaitu perasaan ditolak. Korban sering merasa ditolak secara emosional yang dapat memicu rasa sakit yang mendalam. Selain itu, penolakan sosial dapat mengaktifkan area otak yang sama dengan rasa sakit fisik.
Depresi juga menjadi efek psikologis yang dialami oleh korban silent treatment dimana perasaan terisolasi dan tidak berharga yang sering menyertai silent treatment dapat berkontribusi pada gejala depresi. Penurunan harga diri, korban mungkin mulai meragukan nilai diri mereka sendiri dan berpikir bahwa mereka tidak layak untuk diperhatikan atau dicintai. Perubahan perilaku, korban mungkin mulai mengubah perilaku mereka dalam upaya untuk menghindari silent treatment di masa depan, hal ini dapat menyebabkan hilangnya keaslian diri.
Gangguan kognitif ialah stres dari menghadapi silent treatment yang dapat mempengaruhi konsentrasi dan kemampuan membuat keputusan. Kecemasan dan ketidakpastian, tidak mengetahui mengapa seseorang mendiamkan mereka atau berapa lama hal ini akan berlangsung dapat menyebabkan tingkat kecemasan yang tinggi. Trauma emosional, jika silent treatment terjadi secara berulang maka dapat menyebabkan trauma emosional yang mempengaruhi kemampuan seseorang untuk membentuk dan mempertahankan hubungan yang sehat di masa depan. Gangguan tidur, stres dan kecemasan yang disebabkan oleh silent treatment dapat menyebabkan gangguan tidur yang pada akhirnya dapat memperburuk masalah kesehatan mental.
Cara mengatasi silent treatment ialah dengan memberikan ruang. Terkadang, orang membutuhkan waktu untuk menenangkan diri, berikan mereka ruang tetapi jelaskan bahwa kamu siap untuk berbicara ketika mereka siap. Fokus pada diri sendiri, selama periode silent treatment maka fokus pada perawatan diri dan aktivitas yang membuat kamu merasa baik. Praktikkan empati, cobalah untuk memahami apa yang mungkin dirasakan oleh orang yang melakukan silent treatment. Ini tidak membenarkan perilaku mereka, tapi bisa membantu kamu merespons dengan lebih efektif.
Menjaga komunikasi juga menjadi cara mengatasi silent treatment. Meskipun sulit, cobalah untuk tetap berkomunikasi secara tenang dan terbuka. Ungkapkan perasaan kamu tanpa menyalahkan atau menuduh orang lain. Jangan membalas dengan silent treatment, membalas dengan perilaku yang sama hanya akan memperburuk situasi. Kenali pola, cobalah untuk mengidentifikasi pola kapan dan mengapa silent treatment terjadi. Ini dapat membantu kamu memahami pemicu dan mungkin mencegahnya di masa depan. Cari dukungan, bicaralah dengan teman, keluarga, atau tenaga profesional tentang apa yang kamu alami. Dukungan emosional sangat penting.
Mengatasi silent treatment bukan hanya tentang menghentikan perilaku negatif, tetapi juga tentang membangun pola komunikasi yang lebih sehat. Mengekspresikan diri dengan jelas, cobalah untuk mengkomunikasikan pikiran dan perasaan kamu secara jelas dan langsung tanpa menyalahkan atau menghakimi orang lain. Bersikap jujur dan terbuka, kejujuran adalah kunci dalam komunikasi yang sehat. Jangan menyembunyikan perasaan atau informasi penting.