DATARIAU.COM - Panas terik mengawali siangku pulang ke kampung halaman setelah berperang otak dengan menjawab soal ujian. Yah ini hari terakhir ujian semester. Walaupun ujian tidak menguras otak karena sekarang semua sudah canggih berkat mbah Google yang bisa menjawab pertanyaan secepat kilat, tetapi perlu kemampuan sedikit untuk mengedit data yang kita dapatkan agar tidak sama persis dengan yang asli. Karena gak mungkin udah nyontek copas lagi. Sekarang maling udah kreatif, gak tinggal copas lagi melainkan copy edit, kata milenial sekarang.
Setelah selesai ujian aku pun langsung tancap gas pulang ke kampung, tak peduli panas terik yang membakar wajah, debu-debu yang bertebaran mengisi rongga hidung, asap kendraan yang mengganggu pernapasan serta bunyi kendaraan yang memisingkan telinga. Tanpa menghiraukan itu semua tekadku sudah bulat pulang kampung.
Aku pulang dengan perasaan lega dan senang, bagaimana tidak? Besok hari libur telah tiba. Tidak ada lagi tugas kuliah yang menguras otak, kejar-kejar waktu mengirim tugas karena sudah di ambang batas pengumpulan, dan yang paling parahnya kena PHP (Pemberi Harapan Palsu) dari dosen yang mengajar di kelas.
Yang biasanya pagi-pagi udah buru-buru ke kampus dan lupa untuk mengisi kantong tengah yang perlu juga nutrisi untuk melancarkan otak berpikir. Malam hari yang biasanya digunakan untuk istirahat jiwa dan badan malah nonstop depan laptop sambil jari-jari menari dengan indah di atas keyboard-nya guna menyelesaikan tugas kuliah yang semakin dibiarkan semakin menumpuk seperti cucian kotor saja.
Mulai siang ini semua berakhir untuk sementara waktu, walau beberapa bulan kedepan bisa jadi lebih parah dari semester ini. Tetapi aku tetap mensyukuri ini semua walaupun tak bertahan selamanya. Ingat kata Ariel Noah "tak ada yang abadi".
Yah, aku Yesi Amalia seorang mahasiswi Ilmu Komunikasi UIN Suska Riau. Anak kedua dari empat bersaudara. Aku dilahirkan di sebuah kampung bernama Desa TJ Bungo yang sangat indah dan ramai akan penduduknya, walaupun namanya kampung, tapi gak kekampungan karena daerahnya dekat dengan kota, butuh waktu 30 menit ke kota.
Di kampung inilah aku menghabiskan masa liburan kuliah ku, kampung yang masih asri dan terjaga kelestariannya serta penduduk yang ramah dan saling menghormati satu sama lain.
Setelah 40 menit melewati teriknya matahari yang menggrogoti tubuh ini, aku sampai di kampung halaman. Rumah yang menjadi tempat pulangku serta menjadi pelindung di saat teriknya matahari dan dinginnya air hujan juga sebagai saksi pertumbuhan hidupku.
Aku memasuki rumah yang telah menjadi tempat tinggalku selama ini dan langsung mencari ibu ku ke dapur, karena jam segini beliau masak untuk makan malam nanti. Betul, ternyata ibuku sedang memasak untuk makan malam nanti.
Setelah itu, akupun langsung masuk ke kamar yang sudah lama kutinggali, kamar yang menjadi saksi segala kegilaan dan kecerobohanku. Di kamar inilah aku sering menangis dan ketawa terbahak-bahak hanya dengan menonton drama yang selalu bertengger indah di laptop ku. Yahh, aku merindukan kamar ini, tampaknya sederhana tapi ini lebih sempurna dari apapun.
Ku lepas pakaian kebangsaan ujianku yakni putih hitam, lalu langsung berbaring santai menghilangkan kepenatan yang menguras tenagaku tadi. Karena saking capeknya siap ujian langsung pulang kampung akupun tertidur.
Tak terasa akupun tidur cukup lama, senja mulai menampakkan wujudnya. Aku terbangun dari tidur siangku bergegas untuk mandi. Niat awal ingin mandi di sungai tapi karena telat bangun jadi niat itu aku kubur untuk besok pagi.
Adzan mulai berkumandang, setiap orang mulai mengerjakan kewajibannya sebagai seorang muslim, ada yang ke masjid bahkan ada yang sholat di rumah. Selesai sholat kami sekeluarga makan malam bersama sambil menceritakan aktifitas masing-masing. Karena sibuk bercerita tak terasa waktu Isya datang. Setalah sholat kamipun langsung masuk kamar masing-masing dan mulai bertamasya ria di alam mimpi masing-masing.
Matahari mulai menampakkan wujudnya dari ufuk timur setelah semalaman sinarnya diganti dengan sang bulan. Aku terbangun dengan perasaan yang nyaman karena bisa menghirup udara yang masih segar dan bebas polusi tidak seperti pada kota umumnya.
Para petani mulai berlalu lalang pergi ke kebun untuk melakukan aktivitas seperti biasanya. Ibu-ibu mulai sibuk membersihkan rumah dan ada juga yang ke sungai untuk menyuci pakaian. Di kampung ini, para ibu masih banyak menyuci pakaian dan mandi di sungai, bukan tidak punya mesin cuci atau pun kamar mandi, tetapi mereka lebih suka melakukannya di sungai.
Ingat dengan niat semalam yang belum terpenuhi, akupun langsung bergegas ke sungai untuk mandi pagi. Sampai di sungai, tanpa aba-aba aku langsung terjung bebas dan mulai mempraktekkan ilmu renang yang sudah lama tidak kupakai.
Inilah yang aku rindukan, mandi pagi dan berenang di sungai yang masih terjaga airnya tanpa dicemari oleh limbah pabrik. Tak terasa sudah sejam aku berendam dengan dinginnya air sungai. Perut mulai mengeluarkan alarmnya pertanda minta nutrisi. Akupun bergegas pulang ke rumah dan segera menuntaskan permasalahan bunyi alarm tersebut biar aman.
Siang harinya, aku habiskan membantu ibu membuat ketupat. Dalam system keluarga kami, libur kuliah ataupun sekolah, uang jajan ikut libur. Daripada suntuk tidak ada kerjaan dan duit saku sehelai pun, aku mulai menganyam daun kelapa untuk dijadikan kusung ketupak bagi penjual sate.
Sedih? Pasti, setiap liburan duit jajan ikut libur juga. Tapi bagiku tidak masalah juga, toh aku juga jarang jajan sembarangan di rumah. Kalau lapar ya makan. Kalau pengen sesuatu ya bikin sendiri selagi mampu agar lebih terjaga kebersihannya. Liburan ku memang sederhana, berdiam diri di kampung halaman saja. Bukan sombong dan tidak mau membaur dengan lingkungan dan tetangga sekitar, satu prinsip hidup yang saya gunakan "lebih baik berdiam diri di rumah dari pada keluyuran tidak jelas di luar sana".
Aku,
Yesi Amalia.