PEKANBARU, datariau.com - Setelah mendengar kabar dari beberapa kenalan tentang masjid baru ini, pada Ramadhan hari pertama ini saya mendatangi Masjid Abu Ad Darda' yang terletak di belakang Polsek Tampan, Jalan HR Soebrantas, Panam.
Masjid ini sebenarnya masih dalam tahap pembangunan. Terlihat halamannya masih gersang dan baru saja diratakan agar mobil jamaah dapat diparkir dengan rapi. Begitu memasuki pekarangan masjid, seorang pria berbadan kekar dengan janggut hitam tebal, segera memandu kami untuk parkir di antara deretan mobil lain yang sudah duluan datang.
Begitu selesai parkir, kami segera menuju ke masjid yang tampak megah itu. Ruang untuk jamaah laki-laki ada di lantai satu sementara untuk jamaah perempuan berada di lantai dua. Pintu masuk bagi jamaah perempuan terpisah dari jamaah laki-laki.

Masjid Abu Ad Darda' tampak depan masih dalam proses pembangunan.
Untuk menuju lantai dua, jamaah disediakan eskalator. Ruangan masjid terasa nyaman dan sejuk. Ada dua karpet panjang membentang dari ujung ke ujung. Tampak beberapa jamaah sedang Shalat Tahyat Masjid sementara yang lain membaca Al Quran.
Di beranda, ada meja panjang yang menghidangkan aneka makanan untuk berbuka bagi jamaah. Di depannya, dibentangkan beberapa lembar karpet segi empat tempat jamaah berbuka puasa. Begitu waktu Mahgrib tiba, seorang petugas masjid melalui pengeras suara mempersilakan jamaah untuk berbuka.
Di bagian perempuan, jamaah dipersilakan mengambil sendiri makanan yang telah disediakan. Ada kurma, bakwan, puding, pisang dan teh serta air mineral. Kamipun berbuka puasa dalam iringan lantunan adzan.
Sementara di tempat jamaah laki-laki, hidangan berbuka telah disiapkan dalam piring-piring yang dibungkus dengan plastik. Hidangan seperti ini biasa saya lihat di meja-meja VIP dalam acara-acara penting. Di sini, para jamaahlah tamu-tamu penting itu.

Suasana buka bersama di Masjid Abu Ad Darda'. (foto: riauterkini.com)
Setelah berbuka, Shalat Maghrib berjamaah pun dilangsungkan. Di tempat laki-laki, terlihat lima shaf penuh oleh jamaah. Itu artinya, jamaah Shalat Maghrib itu sekitar lima ratus orang. Di lantai atas tempat jamaah perempuan, ada dua shaf yang penuh.
Usai shalat, jamaah dipersilakan makan dengan tertib. Di bagian laki-laki, makanan telah disediakan di atas nampan-nampan besar. Satu nampan bisa untuk makan maksimal empat orang. Sementara di bagian perempuan, jamaah dipersilakan mengambil sendiri nasi sebanyak yang dibutuhkan. Misalnya, bila nasi satu nampan akan dimakan oleh empat orang, petugas masjid akan memberikan empat potong lauk.
Di masjid ini, Shalat Tarawih dilakukan delapan rakaat ditambah tiga rakaat Shalat Witir. Imam akan membacakan Al Quran sebanyak satu juz. Malam itu, adalah pelaksanaan Shalat Tarawih hari kedua. Imam membacakan Juz 2 yaitu Surah Al Baqarah. Suasana yang sejuk dan nyaman, membuat jamaah betah berlama-lama di masjid ini.
Seperti seorang jamaah perempuan, mengaku sudah dua malam datang ke masjid itu. Walau ia sedang berhalangan sehingga tidak bisa shalat, namun ia tetap datang untuk mendengarkan imam membacakan kalamullah.
Di bagian laki-laki, sedikitnya ada sembilan shaf jamaah yang melaksanakan shalat di sini, mulai dari Isya hingga Witir. Sementara di bagian perempuan ada dua shaf penuh.
Tak ada ceramah agama di malam kedua Ramadhan itu. Namun karena shalat yang dilaksanakan cukup lama, ibadah itu berakhir sekira pukul 21.30 WIB. Shalat Tarawih dilaksanakan dua-dua rakaat. Antara shalat dua rakaat pertama ke dua rakaat berikutnya, imam memberi waktu istirahat agak lama. Kesempatan itu akan dimanfaatkan jamaah untuk membaca Al Quran dan kegiatan lainnya.
Jamaah Puas
Petugas masjid juga sangat memperhatikan kenyaman dan kepuasan jamaah. Salah seorang petugas di tempat jamaah laki-laki sempat menanyakan pada salah seorang jamaah, apakah mereka suka dengan menu berbuka yang mereka hidangkan. Perlu dicatat, semua hidangan itu diberikan gratis kepada jamaah. Setiap hari, pengurus masjid menyediakan hidangan berbuka untuk 500 jamaah.
Menariknya, tak terlihat satupun kotak infak di masjid ini, seperti lazimnya masjid-masjid lain di Indonesia.
Saat akhirnya shalat usai, ada kepuasaan dan kebahagiaan tersendiri yang terasa. Betapa sejuknya rasa hati melaksanakan shalat di tempat itu. Masjidnya bersih, sejuk, nyaman dan bersahabat pada jamaah segala usia. Tidak membeda-bedakan jamaah.
"Saya merasa puas shalat di sini. Masjidnya bersih, nyaman dan shalatnya tidak buru-buru. Imam membaca satu juz Al Quran memang lumayan lama, tapi itu saya anggap melatih fisik," kata seorang jamaah Abdul.
Ia juga merasa terkesan karena pelayanan pengurus masjid yang begitu paripurna. "Bahkan mobil jamaahpun dijaga dengan baik," tambahnya.
Sekilas tentang Masjid Abu Ad Darda'
Dikutip dari abudaddarda.com, diketahui bahwa visi Mahad Abu Ad Darda Pekanbaru ini adalah mewujudkan hafizh-hafizh yang bersanad, berkualitas, dan berakhlak Qur’ani. Misinya mencetak penghafal tangguh untuk mengisi kebutuhan kaum Muslimin di Bidang Al Qur’an. Membantu orangtua untuk mewujudkan impian mendapatkan anak yang Hafizh. Mempersiapkan generasi-generasi penjaga Al Qur’an yang istiqomah dan Berakhlak Qur’ani. Mencetak Generasi Penghafal Hadits.
Bagi warga Pekanbaru dan sekitarnya yang ingin melaksanakan sholat Tarawih 1 Juz/malam bisa datang ke masjid yang beralamat di Jalan Merak Sakti Panam ini setiap hari. Waktu pelaksanaan sholat Isya adalah 19:50 WIB, Sholat Tarawih pukul 20:20 WIB dengan Imam Ustadz Murtadho Habibi Lc Al Hafizh.
Masjid ini diresmikan penggunaannya oleh Wakil Walikota Pekanbaru Ayat Cahyadi SSi pada 3 Juni 2016 lalu.
Masjid Jami’ Abu Ad Darda Ashshohabiy memiliki program-program umum dan takhasshush. Program takhasshush adalah program terbatas hanya untuk siswa sederajat SMP/MTS.
Untuk orang dewasa ada program umum. Program ini antara lain Tahsin dan Tahfizh. Program ini bisa diikuti oleh seluruh kalangan usia. Mulai dari siswa kelas 4 SD sampai orang dewasa boleh mengikuti kegiatan ini di Masjid Jami’ Abu Ad Darda.
Untuk program Tahfizh yang umum, dibutuhkan waktu 10 tahun untuk menghafal 30 Juz Al-Qur’an. Masjid Jami’ Abu Ad Darda juga siap membantu pemerintah dalam mensukseskan Visi dan Misi Riau untuk menjadi kota metropolitan yang madani.
"Masjid Jami’ Abu Ad Darda siap melahirkan generasi-genarasi yang hafal, faham dan cinta Al-Qur’an," kata Mudir Ma’had Abu Darda Ustadz Murtadho Habibi Lc Al Hafizh dalam kata sapatah katanya saat peresmian lalu.
Selama Ramadhan, Masjid Jami’ Abu Ad Darda membuat program Tahsin, Tahfizh dan I’tikaf. Sampai saat ini sudah 508 orang yang mendaftar untuk kegiatan Tahsin dan Tahfizh selama Ramadhan, diperkirakan masih akan ada lagi yang mendaftar nanti ketika bulan Ramadhan sekitar 200-300 orang.
Selama Ramadhan Masjid Jami’ Abu Ad Darda juga membuka relawan Ramadhan yang akan membantu mensukseskan kegiatan-kegiatan di Masjid. Berdasarkan data pada panitia, sudah ada 130 orang yang ikut menjadi relawan Ramadhan di masjid itu.