SELATPANJANG, datariau.com - Sejak sebelum Maghrib, Kamis (25/8/2016) kondisi dan situasi Kota Selatpanjang mulai kondusif. Tidak ada lagi bentrok antara masyarakat dan polisi. Selain itu, konsentrasi massa juga sudah menghilang dari jalanan sekitar Mapolres.
Dari pantauan, meskipun mulai kondusif namun kesan mencekam belum sepenuhnya sirna. Sebagian masyarakat masih merasa khawatir kerusuhan kembali terjadi. Karena itu, suasana kota lebih sepi dari malam-malam sebelumnya. Terlebih hampir semua toko tak buka lagi sejak ditutup lebih cepat dari biasa.
Untuk menghindari serangan warga susulan, Jalan Pembangunan yang merupakan akses menuju Mapolres ditutup polisi. Personil Polres Meranti dibantu 2 SST Brimob Polda Riau yang tiba sektiar pukul 17.00 WIB melakukan pengamanan berlapis.
Situasi kondusif ini juga tak lepas dari adanya kesepakatan antara kepolisian dan tokoh masyarakat Selatpanjang mengenai pembebasan empat warga. Semula dalam akasi penyerang ke Mapolres, polisi menahan empat warga, namun demi meredakan emosi warga, keempatnya lalu dibebaskan.
Kejadian 2001 di Selatpanjang, Kepulauam Meranti ditakutkan terualang kembali. Bentrok tak terelakkan ketika ribuan massa yang masuk dan sempat membakar asrama berhadapan polisi.
Karena sebelum suasana kondusif ini, bentrok antara warga dan polisi tak terelakkan saat polisi menghadang ribuan warga yang marah dan mendekati asrama polisi.
Warga tampaknya ingin mengulang tragedi tahun 2001. Dimana bentrok warga dengan polisi dan mengakibatkan asrama polisi terbakar. Dan sebelumnya siang tadi ribuan massa tampak semakin beringas dan sempat masuk dan membakar sebagian asrama.

Asap mengepul ke udara di depan Mapolres Meranti karena warga membakar ban dan beberapa unit kendaraan polisi. (foto: riauterkini.com)
Pihak Kepolisian berjaga-jaga. Menghadang warga yang memaksa masuk asrama. Sebagai antisipasi, asrama juga sempat dikosongkan.
Upaya pembubaran warga yang dilakukan polisi yang mendatangi Mapolres Meranti dengan tembakan gas air mata dan kekerasan justru membuat warga semakin emosi dan marah. Ribuan warga menyerang dari berbagai arah ke arah Mapolres.
Bentrok saling serang hingga terus terjadi. Pihak kepolisian melakukan penjagaan di beberapa jalan dan mengejar masa dan dipukuli satu persatu, tak sedikit juga motor warga yang parkir di pinggir jalan diterjunkan polisi ke dalam parit.

Tampak motor warga ditumbagkan masuk ke parit. (foto: riauterkini.com)
Bahkan ada salah seorang warga bersama istrinya yang melintasi jalan tersebut menjadi bulan-bulanan polisi. Sebaliknya, ribuan warga yang menyerang dari berbagai arah dikabarkan berhasil membakar lima motor pihak kepolisian. Tampak warga juga membakar ban di lokasi kejadian.
Aksi saling serang ini membuat daerah itu mencekam di sekitaran Jalan Kartini-Pembangunan.
Kerusuhan ini menyusul tewasnya Apri Adi Pratama atau yang biasa dipanggil Adi (24), tersangka pembunuh Brigadir Adil S Tambunan yang tewas ditusuk di parkiran Hotel Furama Selatpanjang dini hari.
Masyarakat yang menilai tindakan polisi terhadap Adi tak manusiawi, warga marah dan kemudian menyerang Mapolres. Asrama polisi sempat dibakar, meskipun kemudian berhasil cepat dipadamkan apinya. Akibat dari bentrok tersebut seoang warga bernama Isnadi tewas di depan Mapolres Meranti diduga akibat kepala tertembak.