PEKANBARU, datariau.com - Jelang penggusuran pedagang kaki lima Pasar Pagi Arengka yang akan dilakukan Dinas Pasar pada hari ini, Rabu (15/10/2014), petugas sejak pagi tadi sudah bersiaga di lokasi pasar.
Tampak beberapa petugas berpakaian Dinas Pasar, berjaga di lokasi pasar Jalan Soekarno Hatta ini. Suasana jual beli di pasar tepatnya di badan jalan tetap berjalan sebagaimana biasanya.
Meskipun ada ancaman akan rusuh oleh pedagang, namun pagi menjelang siang tadi belum ada personil dari Satpol PP atau kepolisian di lokasi.
Sebagaimana diketahui, bahwa pedagang mengaku akan melawan jika tetap digusur oleh pemerintah karena penggusuran itu dinilai tidak merata. PKL kecewa dengan kebijakan sepihak Walikota Pekanbaru.
"Kebijakan pemerintah dalam menertibkan PKL sangat tebang pilih. Sebab PKL yang ditertibkan hanya sebagian saja, sementara jika mengikut aturan yang benar-benar seharusnya pedagang dan bangunan di median jalan juga harus digusur. Ini Kebijakan yang tidak populis dan keliru," ujar Ketua Aliansi Pedagang Kaki Lima Pasar Pagi Arengka Harianto.
Menurut Harianto pihaknya bakal mengerahkan PKL untuk melakukan perlawanan jika situasi memang harus demikian. Penggusuran PKL Pasar Pagi Arengka tanpa solusi dinilai para pedagang sebagai sebuah aksi tanpa mencarikan solusi, melainkan arogansi seorang pemimpin.
"Kami sebagian PKL disuruh berjualan di dalam pasar, sementara sebagian lagi tidak. Terlebih harga lapak di dalam pasar permeternya dihargai 3 juta pertahun. Ini jelas tidak sesuai dengan kemampuan kami, yang rata-rata hanya berdagang sayuran," tegas Harianto.
Pedagang lainnya Ratna mengaku kecewa dengan walikota Pekanbaru yang telah menggantung kehidupan mereka secara tidak jelas. "Dulu saat kampanye, Wako Firdaus datang ke PKL meminta dukungan untuk memilihnya. Setelah dipilih ternyata janjinya meleset," katanya.
Ratna pun berharap anggota DPRD yang baru dilantik untuk memperjuangkan hak-hak rakyat kecil. Jangan sudah dilantik terus duduk enak dan lupa terhadap pemilihnya.
"Kemana ini anggota dewan yang terhormat, besok kami bakal digusur. Apa kalian tidak prihatin dengan kami yang butuh uang untuk mengisi perut. Kami berjualan di sini bukan untuk mencari kaya tapi hanya untuk mengisi perut sehari-hari," keluh Ratna. (*)