Perempuan dalam Cengkraman Vibe Kapitalisme

Admin
645 view
Perempuan dalam Cengkraman Vibe Kapitalisme

DATARIAU.COM - Perempuan dalam cengkraman vibe kapitalisme, disadari atau tidak, kian hilang fitrahnya sebagai perempuan. Perempuan yang lembut perasaannya, senang dinaungi, menaati suami dalam kebaikan, serta betah mengurusi anak dan rumah tangganya, kini berpaling mencari kehidupan di luar rumahnya. Mengapa?

Karena kedamaian tidak lagi tampak di era kapitalisme yang kian hari kian menjerat bangsa di segala lini. Perempuan hadir sebagai wonder women, berbalut feminisme, mengungguli lelaki dari segala bidang. Bukan hal yang asing, ketika banyak lelaki dengan pendapatan minim bahkan nihil karena kerja serabutan, justru dinaungi oleh perempuan. Tak sedikit pula menjadi budak perempuan, walaupun itu pasangannya sendiri, tak berkutik karena butuh kehidupan.

Perempuan dengan fitrahnya yang lemah dalam pandangan agama, harus hadir menguatkan diri tampil di berbagai lini kehidupan publik di luar rumah. Tidak jarang kita lihat membaranya semangat perempuan dalam melawan ketidakadilan sistem kapitalisme yang bobrok ini hingga ia hadir sebagai perempuan perkasa serba bisa.

Yang lazimnya lelaki perkasa memikul, kini pun perempuan tampil memikul bergantang-gantang semen di lokasi proyek demi uang. Namun dalam kelemahannya, ada sisi buruk dalam ia menafkahi dirinya. Tidak semua jenis perempuan mau melakoni pekerjaan kasar lagi berat. Dengan berbagai alibi, sebagiannya malah menjadi penjaja seks komersial dan dilabeli dengan anggun serta dianggap pahlawan keluarga, padahal kegiatan menjual diri adalah kemaksiatan pada Allah Subahanahu wa Ta'ala.

Ketimpangan ini, menjadikan peran ibu kosong, peran pengaturan rumah tangga berpindah ke pundak suami yang notabenenya fitrahnya tidak multitasking. Jika perempuan, sambil masak, bisa melakukan pekerjaan domestik lainnya bersamaan, namun tidak dengan lelaki. Sehingga, walaupun lelaki mampu bertahan di rumah, namun tidak menjadikan perbuatan ini sesuai dengan fitrah penciptaan laki-laki, yang seharusnya lebih kokoh dan kuat menjadi penaung keluarganya.

Dengan terabaikannya jaminan dasar rakyat oleh negara, mulai dari pangan, sandang, papan, kesehatan, pendidikan, dan keamanan, menjadikan rakyat, khususnya kaum perempuan kiat sulit hidup layak. Sudah sangat jelas, keberpihakan negara dengan mengadopsi cara pandang kapitalisme dan terjerat oleh hutang berbasis ribawi, menggiring perlahan tapi pasti ke jurang resesi, sebagaimana Sri Lanka. Walaupun kabarnya status keuangan negara masih aman, tapi bukan jaminan bahwa jebakan hutang kian menjadi-jadi itu tidak membawa ke arah sana.

Bukan saja dari segi ekonomi, di segi pemenuhan kesehatan, rakyat dijerat dengan swastanisasi kesehatan lewat BPJS. Begitu pula pendidikan yang kian hari kian melelahkan tanpa out put yang beradab, produktif dan inovatif. Sistem zonasi yang kian meminggirkan kaum terpinggir. Hingga keamanan yang tak lagi terjamin, hingga berlaku hukum rimba, siapa kuat mereka yang bertahan di ranah publik yang kian hedon, kurang memiliki rasa peduli atas sesamanya.

Kriminalisme meningkat masif. Buronan negara jadi guyonan. Hukum macam apa yang dipertontonkan ke generasi bangsa?

Tak hanya masalah pidana. Budaya pun ikut ternodai. Jiwa ketimuran yang menjunjung tinggi sopan santun dan rasa malu. Kini ikut tergerus dengan lepasnya urat malu. Generasi tak malu-malu lagi unjuk diri dengan gaya selebew-nya. Lelaki hadir dengan gaya manis manja seperti perempuan jadi-jadian, melawan fitrah penciptaannya.

Dan perempuan dengan gaya maskulinnya seperti lelaki jadi-jadian, menunjukkan tarian erotis yang tak lagi ada kemuliaan atas dirinya sebagai perempuan. Menjejaki tren yang merusak bangsa dan agama. Diviralkan pula oleh orang-orang yang memiliki kepentingan bisnis di sana, dan konyolnya lagi diikuti secara bahagia oleh orang-orang yang bekerja untuk menjaga bangsa. Jika yang menjaga saja sudah suka ria mengikuti tren yang rusak, lantas apa yang tersisa untuk mereka jaga?

Para ibu berbondong-bondong keluar ke ranah publik dengan alasan dan slogan mencari sesuap nasi dan sebongkah berlian, padahal perbendaharaan harta Indonesia menyebar merata dari dalam tanah-tanah yang digali dan dikeruk pihak asing, miris. Dan dari fenomena ini, banyak lembaga bermunculan menggantikan peran ibu yang bekerja dengan label seakan sayang anak, namun anak dititipkan tanpa memiliki kedekatan yang intens dengan ibu kandungnya. Padahal ada hak pengasuhan ibu kepada anak selama anak belum berusia 14 tahun.

Perempuan-perempuan yang lelah bekerja akhirnya memilih menjadi single parent melihat minimnya peran ayah sebagai pemimpin dan penaung. Pasalnya sekedar menafkahi diri sendiri saja mereka mampu, untuk apa membebani diri menafkahi suami? Hingga berdampak pada hilangnya sosok ayah dalam kacamata anak-anak, dan turut hilang pula sosok ibu karena tuntutan pekerjaan.

Dalam Islam, 6 kebutuhan dasar masyarakat mulai dari pangan, sandang, papan, pendidikan, kesehatan, dan keamanan dalam porsi selayaknya dijamin. Sehingga ayah tidak lagi risau memenuhi hak wilayah domestiknya dan memiliki banyak waktu luang mendidik anak-anaknya. Menjadikan ia pemimpin sejati dalam mengayomi dan mendidik pasangannya pula.

Sehingga tekanan ke pihak perempuan yang kian hari kian sulit dapat di minimalisir. Perempuan boleh berkiprah di ranah publik, namun ranah domestik adalah yang paling utama bagi kemuliaan dirinya dan keselamatannya dari pengaruh buruk lingkungan luar.

Sungguh nampak jelas, begitu menderitanya perempuan dalam tekanan kapitalisme daripada kehidupan aman damai perempuan di bawah naungan Islam. Benar, Allah pencipta manusia, dan hanya Dia yang berhak mengatur kehidupan manusia. Namun, ketika manusia lari dari aturanNya, telah nyata tampak kerusakan baik di wilayah domestik rumah tangga muslim hingga ke wilayah publik negeri-negeri muslim.

Selayaknya kita berpikir untuk kembali ke sistem Islam, demi terwujudnya kehidupan yang damai lagi sejahtera sebagaimana yang semua orang harapkan dalam hidup dan kehidupannya. Hingga pada akhirnya, sejahtera pula ia berpulang untuk akhiratnya kelak. Wallahu a'lam bishshowaf. (*)

Oleh: Yenni Sarinah, S.Pd (Penulis, Pegiat Literasi Islam, FLP Pekanbaru Riau)

JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)