DATARIAU.COM - Literasi digital, kemampuan untuk menggunakan dan memahami teknologi digital, adalah keterampilan yang sangat penting di era modern ini. Namun, di Provinsi Riau, terdapat tren yang mengkhawatirkan, yakni rendahnya tingkat literasi digital. Hal ini menjadi isu serius yang perlu diperhatikan oleh masyarakat dan pemerintah.
Berdasarkan data Status Literasi Digital tahun 2022 yang diluncurkan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) sebenarnya secara nasional hasil survei indeks literasi digital di Indonesia meningkat dari 3,49 menjadi 3,54. Sialnya, Indeks Litrasi Digital Provinsi Riau yang pada tahun 2021 memiliki indeks 3,35 menjadi 3,33 pada tahun 2022. Bukannya mengalami kemajuan, justru mengalami kemunduran. Salah siapa? Tanggung jawab siapa?
Rendahnya literasi digital di Riau memiliki konsekuensi yang serius, termasuk kesenjangan digital antara mereka yang memiliki akses dan keterampilan digital dengan mereka yang tidak. Dalam era informasi dan teknologi yang terus berkembang, literasi digital bukanlah sekadar kemampuan tambahan, tetapi menjadi kebutuhan esensial untuk berpartisipasi secara penuh dalam masyarakat yang didorong oleh teknologi.
Sejumlah dampak negatif dari kurangnya literasi digital muncul, seperti maraknya penyebaran berita bohong (hoax), penipuan daring, perundungan siber, ujaran kebencian, dan radikalisme perlu diwaspadai karena mengancam persatuan dan kesatuan bangsa.
Tidak dapat dipungkiri bahwa rendahnya literasi digital di Riau adalah masalah multifaktor. Berbagai pihak memiliki tanggung jawab dalam hal ini.
Pertama, pemerintah harus mengakui peran penting literasi digital dan memprioritaskannya dalam kebijakan pendidikan dan pengembangan masyarakat. Pemerintah daerah, dalam hal ini Pemerintah Provinsi Riau dan pemerintah kabupaten/kota di Riau, harus bekerja sama untuk menciptakan program-program yang meningkatkan literasi digital di seluruh wilayah provinsi, termasuk pendekatan yang berfokus pada desa-desa dan daerah terpencil.
Kedua, sekolah dan lembaga pendidikan juga memainkan peran penting dalam meningkatkan literasi digital di Riau. Sekolah-sekolah di Riau harus mengintegrasikan pendidikan teknologi informasi dan komunikasi secara efektif dalam kurikulum mereka, serta menyediakan akses yang memadai ke fasilitas teknologi dan internet. Guru juga harus diberdayakan dengan pelatihan yang diperlukan untuk mengajar literasi digital kepada siswa mereka.
Selain itu, masyarakat juga memiliki tanggung jawab untuk meningkatkan literasi digital mereka sendiri dan mendorong anggota masyarakat lainnya untuk melek literasi digital. Masyarakat harus berpartisipasi aktif dalam program-program literasi digital yang diselenggarakan oleh pemerintah, sekolah, dan lembaga swadaya masyarakat. Peningkatan kesadaran tentang pentingnya literasi digital dan manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari juga harus didorong melalui sosialisasi dan kampanye.
Namun, tanggung jawab tidak hanya berada pada pemerintah, sekolah, dan masyarakat saja. Industri dan sektor swasta juga memiliki peran penting dalam meningkatkan literasi digital di Riau. Perusahaan dan lembaga swasta harus berperan dalam memberikan pelatihan dan dukungan teknis kepada karyawan mereka, serta berkontribusi dalam program-program literasi digital yang ada di masyarakat.
Terakhir, kita secara individu juga harus bertanggung jawab atas keterampilan literasi digital diri sendiri. Setiap individu harus aktif dalam mempelajari dan meningkatkan keterampilan digital sendiri. Kita harus memiliki kesadaran akan pentingnya literasi digital dalam menghadapi tantangan dan peluang di era digital.
Secara keseluruhan, rendahnya literasi digital di Riau adalah masalah yang kompleks dan memerlukan kerjasama antara pemerintah, sekolah, masyarakat, industri, dan individu. Semua pihak memiliki tanggung jawab untuk berkontribusi dalam meningkatkan literasi digital di Riau.