Manusia Serakah, Alam Marah

Oleh: Muhammad Rizki Tenaga Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku
Samsul
1.232 view
Manusia Serakah, Alam Marah
Muhammad Rizki.
ROHIL, datariau.com- Ada yang bertanya, kenapa alam yang dulu ramah, semarah ini? Alam tidak marah karena kebetulan. Marahnya adalah akumulasi. Tetesan demi tetesan kelalaian manusia yang akhirnya berubah menjadi badai, banjir, dan longsor yang meluluhlantakkan kawasan bumi.

Kini, banjir dan longsor bukan lagi cerita lokal. Bukan hanya Indonesia yang merasakannya - negara-negara di Asia, Eropa, Amerika, bahkan kawasan gurun yang dulu hampir tak mengenal hujan ekstrem pun kini mulai tenggelam oleh air.

Longsor terjadi didaerah pegunungan dunia, banjir bandang melanda kota-kota modern yang dianggap kuat dan siap menghadapi apa pun. Fenomena ini bukan kebetulan, ini adalah tanda bahwa alam sedang berubah, dan perubahan itu bukan tanpa sebab.

Kerusakan hutan di satu wilayah dapat memicu perubahan iklim yang efeknya merambat ke seluruh dunia. Ketika hutan Amazon dibabat, ketika hutan Kalimantan dan Papua terbakar, ketika gunung-gunung di Asia Selatan gundul, ketika hutan di Eropa dan Amerika mengering dan terbakar, semuanya saling terhubung. Bumi ini satu tubuh, dan luka di satu bagian akan terasa di seluruh bagian.

Maka ketika banjir besar terjadi di Jerman, ketika hujan ekstrem menghancurkan kota-kota di Cina, ketika longsor meratakan desa-desa di Nepal, ketika gelombang panas ekstrem melanda Kanada, ketika Indonesia tenggelam oleh banjir dari Sumatra hingga Papua, itu bukan sekadar rangkaian bencana alam. Itu adalah pesan global bahwa sistem kehidupan bumi sedang retak.

Bencana yang kita lihat hari ini bukan hasil dari satu kesalahan, tetapi rangkaian panjang kelalaian. Perizinan yang longgar, penegakan hukum yang lemah, ekonomi yang menuntut eksploitasi cepat, dan budaya yang memprioritaskan keuntungan jangka pendek. Sistem yang memberi ruang pada penjarahan hutan akhirnya menempatkan masyarakat sebagai korban paling depan.

Kerusakan lingkungan bukan hanya tragedi material, tetapi juga tragedi moral. Ketika rumah hilang, sawah rusak, atau korban jiwa muncul, kita sering hanya menghitung angka. Namun di balik angka-angka itu ada keluarga yang runtuh, mata pencaharian yang terhapus, dan masa depan generasi muda yang terguncang. Ini bukan lagi persoalan lingkungan semata, tetapi persoalan keadilan sosial dan kemanusiaan.

Kita bisa terus menyebut badai dan banjir ini sebagai “musibah” seolah datang tanpa sebab. Namun, semakin lama kita menyangkal, semakin jelas cermin yang ditunjukkan alam. Kerusakan yang kita tuai adalah hasil dari yang kita tanam.

Sekali lagi, alam marah bukan karena ia ingin marah. Ia marah karena keseimbangannya dirusak. Jika kita ingin meredakan amarah itu, langkahnya bukan sekadar doa ketika hujan reda, melainkan tindakan nyata, kebijakan yang berani, dan perubahan perilaku yang konsisten.

Sebelum itu terjadi, amarah alam akan terus menjadi peringatan keras yang tidak bisa lagi kita abaikan, ia tak akan pernah seramah dulu. Salam sehat, sehat dimulai dari pikiran dan polapikirsehat.*