DATARIAU.COM - Jepang telah menghadapi tantangan inflasi yang berkelanjutan selama beberapa dekade terakhir. Namun, anggota Dewan Bank Sentral Jepang, Asahi Noguchi, percaya bahwa peningkatan pertumbuhan upah dapat menjadi solusi untuk mengatasi masalah ini. Dalam artikel ini, kami akan mengeksplorasi mengapa fokus pada peningkatan pertumbuhan upah penting bagi Jepang dan mengapa Bank Sentral Jepang harus mempertahankan kebijakan pelonggaran moneternya saat ini.
Peningkatan pertumbuhan upah di Jepang telah menjadi isu yang penting dalam beberapa tahun terakhir. Setelah tiga dekade pertumbuhan upah yang datar, Jepang perlu mengambil langkah-langkah untuk mengatasi masalah ini. Bank Sentral Jepang (BOJ) telah menekankan bahwa kenaikan gaji yang berkelanjutan merupakan prasyarat untuk menghentikan stimulus moneter besar-besaran. Dalam hal ini, kenaikan gaji lebih dari tiga persen yang disepakati awal tahun ini dianggap sebagai langkah yang signifikan. Namun, pertanyaannya adalah apakah momentum pertumbuhan upah ini akan dipertahankan atau tidak.
Menurut Asahi Noguchi, misi BOJ saat ini adalah mewujudkan pertumbuhan upah melalui kebijakan pelonggaran moneternya yang sabar. Para analis mengatakan bahwa komentarnya tidak bersifat dovish atau hawkish, melainkan mengikuti pandangan konsensus di antara anggota dewan. Penekanannya pada pertumbuhan upah menunjukkan bahwa BOJ mungkin akan mempertahankan kebijakan longgarnya sampai kenaikan upah dilakukan setelah pembicaraan perburuhan Maret 2024. Hal ini menunjukkan bahwa BOJ menyadari pentingnya peningkatan pertumbuhan upah dalam mencapai inflasi yang berkelanjutan.
Tren upah di Jepang telah tetap datar selama tiga dekade terakhir. Hal ini menjadi perhatian pasar keuangan global karena BOJ menekankan bahwa kenaikan gaji yang berkelanjutan merupakan prasyarat untuk menghentikan stimulus moneter besar-besaran. rendahnya pertumbuhan upah ketimbang inflasi membuat konsumen mengurangi pengeluaran mereka. Oleh karena itu, peningkatan pertumbuhan upah menjadi penting untuk mendorong konsumsi dan mengatasi masalah deflasi yang telah lama melanda Jepang.
Asahi Noguchi juga mengatakan bahwa inflasi konsumen di Jepang akan melambat menjelang paruh kedua tahun fiskal ini. Hal ini sejalan dengan memudarnya dampak tagihan impor yang tinggi. BOJ telah menetapkan target minus 0,1 persen untuk suku bunga jangka pendek dan membatasi imbal hasil obligasi 10 tahun sekitar nol persen untuk mencerminkan pertumbuhan dan inflasi. Namun, dengan inflasi yang melampaui targetnya selama lebih dari satu tahun, spekulasi pasar tersebar luas bahwa BOJ mungkin akan mengubah kebijakan pengendalian kurva imbal hasil (YCC). BOJ akan mengadakan pertemuan kebijakan pada Oktober 2023, di mana mereka akan mengeluarkan proyeksi pertumbuhan triwulanan dan inflasi baru.
Peningkatan pertumbuhan upah di Jepang menjadi kunci untuk mencapai inflasi yang berkelanjutan. Bank Sentral Jepang harus mempertahankan kebijakan pelonggaran moneternya saat ini untuk mendorong pertumbuhan upah yang lebih tinggi. Dengan meningkatnya pertumbuhan upah, diharapkan konsumsi akan meningkat dan masalah deflasi yang telah lama melanda Jepang dapat diatasi. Oleh karena itu, fokus pada peningkatan pertumbuhan upah harus menjadi prioritas bagi Jepang dalam mencapai inflasi yang berkelanjutan.
Pertumbuhan upah yang rendah telah menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan deflasi yang berkepanjangan di Jepang. Upah yang stagnan telah menghambat konsumsi dan investasi, yang pada gilirannya memperlambat pertumbuhan ekonomi. Untuk mengatasi masalah ini, Bank Sentral Jepang telah mengadopsi kebijakan pelonggaran moneternya untuk mendorong pertumbuhan upah yang lebih tinggi.
Dengan mempertahankan kebijakan pelonggaran moneternya saat ini, Bank Sentral Jepang dapat terus mendorong pertumbuhan upah yang lebih tinggi. Kebijakan ini melibatkan pembelian obligasi pemerintah dan aset keuangan lainnya, yang bertujuan untuk meningkatkan likuiditas di pasar dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Dengan meningkatnya pertumbuhan upah, diharapkan konsumsi akan meningkat karena masyarakat memiliki lebih banyak uang untuk dibelanjakan.
Peningkatan konsumsi akan membantu mengatasi masalah deflasi yang telah lama melanda Jepang. Deflasi telah menyebabkan penurunan harga barang dan jasa secara terus-menerus, yang menghambat pertumbuhan ekonomi. Dengan meningkatnya pertumbuhan upah, harga barang dan jasa diharapkan akan naik, mendorong inflasi yang berkelanjutan.