DATARIAU.COM - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati tak menampik perubahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang meningkat bisa mempengaruhi pertumbuhan ekonomi negara.
Musababnya hulu persoalan pelemahan mata uang rupiah bersinggungan langsung dengan faktor eksternal seperti perang dagang dan kembalinya aliran modal ke Amerika Serikat yang memasuki periode moneter ketat setahun terakhir (Tempo.com/17 okt 2018).
Dollar memang sedang naik daun saat ini, hingga mampu membuat masyarakat kewalahan. Beberapa bulan terakhir menembus Rp 15.000 bahkan lebih. Dengan terus merosotnya nilai rupiah terhadap dolar ini, membuat ekonomi terseok-seok. Harga-harga kebutuhan pokok menjadi melangit harganya. Karena perekonomian kita sangat bergantung pada import. Selain itu, hutang yang harus dibayar pemerintah juga bertambah besar nilainya karena bayarnya dengan dollar. Akhirnya inflasi menjadi sesuatu yang tidak bisa dielakkan lagi.
Inilah salah satu efek dari penggunaan mata uang kertas yang tidak ditopang oleh komoditas berharga seperti emas. Sebenarnya kemunculan uang kertas awalnya adalah sebagai representasi dari komoditas emas yang menjadi backup nya. Hal ini dilakukan akibat sulitnya untuk melakukan transaksi dengan membawa emas khususnya pada barang-barang yang bernilai tinggi. Orang akan menerima uang representasi emas tersebut, sebab ada jaminan dari pihak yang mengeluarkan kertas tersebut dalam hal ini pemerintah bahwa uang kertas tersebut dapat ditukar emas senilai dengan yang dinyatakan dalam kertas tersebut. Pemegangnya dapat menukar uang kertas itu kapanpun dan berapapun yang ia inginkan. Namun perlahan-lahan negara justru mengeluarkan uang kertas jauh lebih banyak dari emas yang mereka miliki. Akibatnya uang-uang kertas tersebut tak lagi cukup untuk dikonversi dengan emas. Akhirnya masyarakat dipaksa untuk menggunakan uang kertas tersebut sebagai alat transaksi.
Dalam sejarah moneter dunia dijumpai bahwa penggunaan mata uang kertas yang tidak ditopang (backed) oleh komoditas seperti emas menyebabkan sejumlah masalah yang sangat serius dalam perekonomian. Devaluasi adalah salah satunya. Devaluasi adalah menurunnya nilai mata uang dalam negeri terhadap mata uang luar negeri. Keadaan tersebut akan menyebabkan nilai tukar mata uang lokal menjadi lebih kecil. Kondisi ini dapat mempengaruhi kondisi perekonomian nasional dalam jangka pendek, menengah maupun jangka panjang.
Devaluasi sendiri sangat dipengaruhi oleh perilaku masyarakat dimana kegiatan import menjadi faktor utama penyebabnya. Volume impor yang tinggi terhadap barang-barang dari luar negeri, terutama apabila tidak diimbangi dengan kegiatan ekspor yang cukup akan mengakibatkan semakin meningkatnya permintaan konversi nilai mata uang lokal menjadi mata uang asing, dari rupiah ke dollar misalnya.
Inilah salah satu bahaya mata uang kertas yang tidak di back-up oleh emas. Krisis finansial saat ini dan sejumlah krisis sebelumnya semakin memperjelas bahwa sistem moneter saat ini yang menggunakan mata uang kertas (fiat money) sangat rapuh dan tidak layak diadopsi.
Saat ini kita butuh sistem moneter yang mampu mengeluarkan kita dari krisis ini. Sistem keuangan islam adalah solusi terbaik yang sudah terbukti pada masa cemerlangnya peradaban islam. Dimana sistem keuangan islam berpijak pada emas dan perak.
Emas dan perak, merupakan komoditas yang secara intrinsik mempunyai nilai tinggi dan bisa diterima oleh seluruh manusia di dunia. Maka jika emas dan perak dijadikan sebagai mata uang, devaluasi yang berujung pada inflasi tidak akan terjadi.
Adapun diantara keunggulan mata uang emas dan perak adalah:
Pertama: emas dan perak adalah komoditi, sebagaimana komoditi lainnya, semisal unta, kambing, besi, atau tembaga. Untuk mengadakannya perlu ongkos eksplorasi dan produksi. Komoditi ini dapat diperjualbelikan apabila ia tidak digunakan sebagai uang. Jadi, emas dan perak termasuk uang komoditi/uang barang.
Kedua: sistem emas dan perak akan menjamin kestabilan moneter. Tidak seperti sistem uang kertas yang cenderung membawa instabilitas dunia karena penambahan uang kertas yang beredar secara tiba-tiba. Emas biasanya tidak mudah ditemukan dalam jumlah berlimpah. Dalam perkiraan terbaik, persediaan emas global dalam 300 tahun terakhir hanya bertambah rata-rata 2% pertahun. Tingkat pertumbuhan ini jauh di bawah pertumbuhan uang beredar berdasarkan perbankan modern yang menggunakan uang kertas. (El-Diwany, 2003: 93).
Dalam sistem emas dan perak, negara tidak mungkin mencetak uang lagi, selama uang yang beredar dapat ditukar dengan emas dan perak pada tingkat harga tertentu. Sebab, negara khawatir tidak akan mampu melayani penukaran tersebut. Hal yang sama tidak dapat dilakukan untuk sistem uang kertas. Jika negara mencetak semakin banyak uang kertas, daya beli uang itu akan turun dan terjadilah inflasi. Jelaslah, sistem emas dan perak akan menghapuskan inflasi. Sebaliknya, sistem uang kertas akan menyuburkan inflasi.
Ketiga: sistem emas dan perak cenderung mempunyai kurs yang stabil antar negara. Ini karena mata uang masing-masing negara akan mengambil posisi tertentu terhadap emas atau perak. Dengan demikian, di seluruh dunia hakikatnya hanya terdapat satu mata uang, yaitu emas atau perak, meski mata uang yang beredar akan bermacam-macam di berbagai negara (Zallum, 2004: 227).
Itulah beberapa keunggulan mata uang emas dan perak dalam sistem keuangan islam. Devaluasi dan inflasi tidak akam terjadi jika emas dan perak dijadikan mata uang. Berbeda dengan mata uang kertas. Mata uang kertas sangat rapuh sebab ia sama sekali tidak disandarkan pada komoditas yang bernilai seperti emas dan perak. Ia hanya ditopang oleh undang-undang yang dibuat pemerintahan suatu negara. Jika keadaan politik dan ekonomi negara tersebut tidak stabil maka tingkat kepercayaan terhadap mata uangnya juga akan menurun. Para pemilik uang akan beramai-ramai beralih ke mata uang lain atau komoditas yang dianggap bernilai sehingga nilai uang tersebut terpuruk. (*)
Wallahua'lam bishshowab