Saat Ini, Deklarasi Perang dengan China Adalah Bunuh Diri

datariau.com
4.603 view
Saat Ini, Deklarasi Perang dengan China Adalah Bunuh Diri
Ilustrasi (Foto: Internet)
DATARIAU.COM - Perairan yang terletak di kabupaten Natuna Provinsi Kepulauan Riau adalah tetorial Indonesia dalam membuktikan kaya akan sumber daya, sudah sepantasnya perairan dijaga dan dilindungi. China yang mengklaim laut Natuna tidak berdasarkan di Indonesia. Justru provokasi dalam perpolotikan negara luar untuk memperkeruh negara Indonesia secara internal. Mendeklarasikan perang dengan China adalah bunuh diri, apalagi gagah-gagahan dalam berbicara.

Faktanya, kualitas segi armada laut Indoneisa masih jauh dari kesempurnaan dibanding armada China. Dikutip Tempo.co bahwa China memiliki 2 kapal induk yang membawa puluhan jet tempur, 75 kapal selam, 32 kapal penghancur dan 3000 pesawat militer yang 1700 diantaranya adalah jet tempur. Sementara Indonesia hanya memiliki 214 pesawat militer dengan 39 diantaranya adalah jet tempur dan di segi ukuran kualitas pun seperti frigte dan korvette.

Menyalakan Menhan Prabowo yang terlalu lemah dalam mencari solusi Natuna ini tidak benar, karena kondisi kualitas armada masih rendah dan tidak harus gegabah dalam mengambil keputusan, karena menyangkut dengan keadaan negara. Semua akibat terlalu dekat dengan China, tidak membatasi investasi China di Indonesia, tanpa sadar China sudah jauh berkembang dalam negara Indonesia.

Yang diragukan justru masyarakat yang tidak pernah mengerti apa saja yang menjadi persoalan dalam negeri sekarang ini. Jurnalisme sekarang pun banyak dibungkam dengan cara tidak memberitakan isu China yang dipropagandakan dengan isu banjir ibu kota, dan pemerintahan klaim kesalahan Anis dalam bencana banjir ibu kota.

Padahal jika kita kaji ulang visi pertama bapak Presiden adalah memberantas banjir ibukota bukan pindah ibukota, karena pemerintah Indonesia itu sendiri lupa akan apa yang sebenarya menjadi dasar sebuah negara yang diantaranya adalah dengan mencerdaskan kehidupan bangsa dan memelihara fakir miskin.

Hal inilah yang justru merujuk pada kesejahteraan yang tertunda dan memicu pada keadilan yang tak kunjung tiba, sengketa Natuna musibah baru masyarakat sengsara, kembalikan nilai-nilai dalam republik dengan kembalikan komik, agar supaya bangsa dapat lebih membangun dan mencari solusi alternatif dalam pencegahan bukan mengobati. (*)

Ditulis Oleh Sukma Nadya Syafitri
Mahasiswi Keperawatan Universitas Muhammadiyah Riau.
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)