DATARIAU.COM - Pandemi masih menemani kita di hari raya Idul Adha 1441H ini, suasana yang berbeda tentunya kita rasakan dalam menikmati hari raya. Merayakannya dengan tetap memperhatikan protokoler kesehatan, termasuk menjaga jarak dan tidak berkumpul. Jamaah haji yang diizinkan ke Baitullah dipangkas habis, hanya 10.000. Meski begitu, banyak pelajaran yang dapat kita ambil agar menjadi lebih baik dalam kehidupan kita dimasa depan termasuk kebaikan untuk semua manusia.
Sulit dipungkiri bahwa pandemi ini menghasilkan banyak krisis ikutan semisal di bidang kesehatan, ekonomi dan social, meski setelah penerapan New Normal - yang dianggap sebagai solusi untuk antisipasi penanganan serta pengurangan dampak buruk pandemi- di tengah masyarakat. Kita menjadi butuh lebih banyak fasilitas kesehatan, butuh vaksin dan lainnya, sementara itu resesi ekonomi terus memperburuk kondisi masyarakat hingga menimbulkan pilu pada keadaan social termasuk sulitnya mengikuti pendidikan saat pandemi. Sungguh ironis ketika kita mendapati kasus semisal siswi yang rela menjual diri demi membeli handphone untuk belajar daring, termasuk kasus orang tua yang mencuri laptop untuk belajar anaknya. Kasus lain pun menunjukkan bahwa kapitalis dengan sistemnya itu lemah dan gagal dalam menangani problematika umat, termasuk pandemic yang masih terus berlanjut.
Pandemi dan krisis ikutan yang sedang kita hadapi ini hendaknya membawa kita pada perenungan hakiki bahwa kita adalah mahluk yang lemah dihadapan Pencipta, Tuhan semesta alam. Saat solusi yang dibuat manusia ini tidak menjadi solusi bagi permasalahan kehidupan termasuk dalam masyarakat dan Negara, hendaknya dapat menegaskan bahwa kita butuh arahan dan aturan-Nya, bukan justru terus berpaling.
Jika mereka berpaling (dari syariah-Nya), ketahuilah bahwa Allah bermaksud menimpakan musibah kepada mereka akibat sebagian dosa-dosa mereka& (TQS al-Maidah [5]: 49)
Pencipta manusia dan alam inilah yang memiliki kuasa dan hak membuat aturan kehidupan agar mengantarkan kebaikan bagi semua mahluk. Kita butuh segera kembali pada system Illahi yang menjadikan penerapan seluruh syariah sebagai solusi, dan meninggalkan system yang menjauhkan agama dari kehidupan.
Rasulullah bersabda:
?Wahai manusia, sesungguhnya telah aku tinggalkan untuk kalian dua perkara, yang menjadikan kalian tidak akan tersesat selama-lama jika kalian berpegang teguh pada keduanya. Itulah Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya...? (HR Ibnu Khuzaimah).
Demi mewujudkannya kita harus memiliki ketaatan sempurna dan kesiapan berkorban meninggalkan seluruh orientasi individual dan materialistik menuju keinginan meraih ridla ilahi rabbi. Ketaatan pada titah Allahu rabbi tanpa tebang pilih, syariah untuk kehidupan pribadi maupun negeri, syariah yang mengatur urusan domestik hingga publik, syariah muamalah dan siyasyah. Kehidupan hanya sementara terhenti oleh kematian yang bisa datang kapan saja,semestinyalah orientasi hidup kita berdimensi akhirat. Walau tidak mudah menjadi hamba yang taat apalagi di zaman ini, namun pasti kita bisa melakukannya.
Ingatlah kisah ketaatan sempurna dan pengorbanan Nabi Ibrahim alaihisalam ketika turun perintah Allah untuk menyembelih buah hati yang dicintainya Nabi Ismail ?alaihisalam , keduanya sungguh menunjukkan kepada kita bahwa iman dibuktikan dengan taat dan ketaatan juga butuh pengorbanan dan kesabaran. Diabadikan dalam Quran : &Ayah, laksanakanlah apa yang telah diperintahkan kepada engkau. Insya Allah engkau akan mendapati aku termasuk orang-orang yang sabar (TQS ash-shaffat [37]: 206).
Maka, semoga renungan Idul Adha 1441H ditengah kebutuhan kita untuk mendapatkan solusi atas krisis akibat pandemi semakin menguatkan kesadaran agar taat sempurna pada seluruh aturan Sang Pengatur Allah swt dan menguatkan tekad untuk berkorban dengan seluruh daya upaya untuk menegakkan aturan Allah dalam kehidupan. Kita dan seluruh komponen umat siap kembali pada system hidup dari Illahi rabbi, mewujudkan makna takbir, tasbih dan tahmid kita. (*)
Penulis: Riska Andayani