DATARIAU.COM - Tak terasa umat muslim seluruh dunia merayakan Idul Adha yang mana identik dengan haji dan berkurban. Perlu kita ketahui bersama bahwa Kiswah ( kain kelambu) Ka'bah dicuci setahun sekali. Setiap 1 Dzulhijjah. Jika kiswah sudah dicuci maka 10 hari kedepan kita Idul Adha.
Khusus Idul Adha, penetapannya diserahkan Baginda Rasulullah kepada gubernur Mekkah. 10 tahun Rosulullah memimpin negara tidak pernah Rosulullah yang menetapkan Idul Adha. Ini merupakan dalil bagi kaum muslim. Sehingganya kaum muslim tidak perlu bingung dan galau kapan Idul Adha. Jika sudah ada penetapan dari Amir Mekkah maka kaum muslimin seluruh dunia wajib mengikuti. Alhamdulillah Idul Adha tahun ini serentak di seluruh penjuru dunia.
Idul Adha tahun ini memang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Adanya pandemi virus corona yang melanda bumi Allah. Namun tak menghalangi kita untuk mengambil keteladanan dari Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail ?alaihissalam. Bahkan nilai-nilai tarbiyah dari keduanya semakin relevan di tengah pandemi corona.
Dengan adanya Pandemi ini tawakkal kita semakin teruji. Dalam menghadapi masalah apa pun, kita harus memperbanyak doa kepada Allah Subhanahu wa Ta?ala. Dalam menghadapi persoalan apa pun, kita harus memperkuat doa kepada-Nya. Karena hanya Allah Yang Kuasa melindungi kita. Karena hanya Allah Yang Kuasa menjaga iman dan kesabaran kita.
Nabi Ibrahim mengajarkan kepada kita bagaimana tawakkal kepada Allah saat meninggalkan Bunda Hajar. Dan Bunda Hajar pun tawakkalnya luar biasa setelah tahu bahwa itu adalah perintah dari Allah.
Namun tawakkal bukanlah sikap statis dan menyerah tanpa ikhtiar. Justru saat tawakkal menghunjam di hati, anggota badan mengoptimalkan ikhtiar. Dan itulah yang dilakukan Bunda Hajar saat Ismail lapar dan kehausan. Bunda Hajar berlari-lari kecil dari bukit Shafa ke Marwa dalam rangka mencari air. Memandangi lembah sejauh-jauhnya, barang kali terlihat sumber air atau datangnya musafir.
Yang kemudian terjadi adalah keajaiban. Dari bawah kaki Nabi Ismail yang menghentakkan kakinya ke tanah, memancar sumber mata air yang hingga kini tak pernah kering. Zamzam.
Kita senantiasa bertawakkal kepada Allah sebab virus yang kita hadapi ini tak terlihat. Dan hanya Allah yang Kuasa menjadikan kita tetap sehat. Namun kita juga mengoptimalkan ikhtiar dengan menggunakan masker saat keluar rumah, menjaga jarak (physical distancing), sering mencuci tangan dengan sabun, menjaga kesehatan dan meningkatkan imun.
Demikian pula dalam hal ekonomi. Kita mengoptimalkan ikhtiar dengan lebih kreatif mencari nafkah halal di tengah keterbatasan. Sedangkan jiwa kita senantiasa bertawakkal karena Allah-lah yang Maha Pemberi rezeki.
Pengorbanan nabi Ibrahim as dan Ismail as dapat kita petik 2 hikmah :
1. Pembelajaran tentang keimanan.
Keteladanan Nabi Ibrahim dalam menanamkan aqidah sebagai pondasi. Pondasi karakter anak, pondasi keyakinannya, pondasi pola pikirnya (aqliyah), pola sikapnya (nafsiyah). Jika anak memiliki aqidah yang kokoh orangtua tenang. Sebab imanlah yang menjadi kunci utama masuk surga.
???????'?? ????? ????'???????? ??????? ??????'????? ??? ???????' ?????' ?????'?? ???'?????? ?????? ?????'??? ????? ??????????' ?????'? ??????'????' ????'???????
Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya?qub. (Ibrahim berkata): ?Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam.? (QS. Al-Baqarah: 132)
Bunda Hajar sendiri benar-benar fokus mendidik putranya. Menguatkan keimanan, mencintai ibadah, meneladankan akhlakul karimah. Tumbuhlah Nabi Ismail menjadi anak shalih.
Ketika mendapat perintah melalui mimpi untuk menyembelih Ismail, putra yang sangat dicintainya, Nabi Ibrahim tidak menolak perintah itu. Nabi Ibrahim tidak mencari-cari alasan untuk melalaikan perintah itu. Tidak juga menundanya. Perintah yang sangat berat bagi manusia. Bayangkan, anak pertama dan satu-satunya. Anak yang kelahirannya ditunggu puluhan tahun.
Ia sama sekali tidak menolak perintah itu. Ia sama sekali tidak ragu untuk taat kepada Allah Subhanahu wa Ta?ala. Apa pun perintah-Nya. Allah mengabadikan jawaban Ismail dalam lanjutan ayat yang sama.
????? ??? ?????? ???'????' ??? ????'???? ??????????? ????' ????? ?????'?? ???? ?????'????????
Ia (Ismail) menjawab: ?Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar?. (QS. Ash Shaffat: 102)
Inilah yang harus kita teladani. Ketaatan kepada Allah dengan taat tanpa tapi. Dan ketaatan itu selalu berbuah manis. Ismail tidak jadi disembelih karena Allah menggantinya dengan domba sebagai sembelihan, yang dari peristiwa ini kemudian Allah turunkan syariat qurban. Demikian pula ketika kita selalu taat kepada Allah Subhanahu wa Ta?ala, niscaya ketaatan itu akan menuntun kita ke surga-Nya.
Ketaatan kepada Allah harus totalitas. Baik di masa normal maupun di masa pandemi. Baik saat bersama orang lain maupun tatkala sendiri.
2. Pembelajaran tentang Mahabbah (cinta)
Mengutip tulisan DR. Rahmat Kurnia dalam buku &Inspiring Love&, bahwa cinta yang hakiki adalah cinta pada Allah dan rasul-nya. Cinta berlandaskan akidah, mengharapkan Ridho dari sang maha cinta yaitu Allah SWT. Nabi Ibrahim as begitu besar cinta terhadap Allah SWT rela berkorban untuk menyembelih putranya ketika mencapai usia remaja. Tak tampak sedikit pun keraguan yang menyelimuti Nabi Ibrahim as dan ikhlas menunaikan perintah Allah SWT. Meskipun mengorbankan putra yang cintai dan kedatangannya sangat ditunggu-tunggu oleh nabi Ibrahim as. Begitu pula Nabi Ismail As pun tidak keberatan atas perintah Allah SWT.
Dari kecintaannya kepada Allah lahirlah ketaatan. Ketaatan itu adalah wujud dari rasa cinta. Cinta harus selalu diperjuangkan, oleh karenanya cinta selalu membutuhkan pengorbanan. Sebesar apa pengorbanan yang kita berikan, sebesar itulah cinta yang kita miliki.
Keimanan dan kecintaan pada syariat Allah harus segera diwujudkan secara nyata di tengah??"tengah kehidupan. Seluruh hukum-hukum Allah harus diterapkan diatas bumi Allah. Sehingga dengan penerapan hukum-hukum Allah mendatangkan rahmat untuk manusia dan alam semesta.
Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu. (Q.S Al ??" Baqarah : 208)
?Kami tidak mengutus engkau, Wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh manusia? (QS. Al Anbiya: 107).
Wallahu ?alam bish showab
Ditulis oleh Devi Novianti seorang Pengisi Kajian Mar'atusholeha IDARI Riau dan Pemerhati Generasi.