DATARIAU.COM - Curah hujan yang cukup tinggi belakangan ini telah menyebabkan beberapa desa di Kabupaten Rokan Hilir terendam air. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Riau menyatakan bahwa sebanyak 4.052 jiwa warga setempat terpaksa mengungsi akibat luapan air banjir yang melanda empat desa di Kecamatan Pekaitan, Kabupaten Rokan Hilir (GORiau.com).
Kepala Bidang Kedaruratan BPBD Provinsi Riau, Jim Gafur kepada Antara mengatakan bahwa sejumlah fasilitas umum dan tempat ibadah terendam. Aktivitas belajar mengajar juga belum dapat dilaksanakan karena empat sekolah terendam banjir. Sejumlah ruas jalan dilaporkan putus hingga 800 meter.
Memperjelas Fakta Banjir
Menurut Kepala BPBD Riau, Edwar Sanger banjir di Rokan Hilir akibat tingginya curah hujan beberapa hari terakhir. Selain itu, banjir diperparah dengan naiknya air laut atau banjir rob sehingga banjir sulit untuk turun dalam waktu singkat.
Secara geografis, kondisi wilayah Kabupaten Rokan Hilir memiliki sungai dan payau. Sungai Rokan merupakan sungai terbesar yang melintas sejauh 350 km dari muaranya di Rokan Hilir hingga ke hulunya di Rokan Hulu. Sebagian besar wilayah Kabupaten Rokan Hilir terdiri dari dataran rendah dan rawa-rawa, terutama di sepanjang Sungai Rokan hingga ke muaranya (riau.go.id). Dengan kondisi geografis yang demikian, praktis jika curah hujan tinggi, banjirpun tak terelakkan lagi. Jadilah Rokan Hilir menjadi langganan banjir tahunan.
Bercermin pada Kota Bebas Banjir
Kalau dikatakan letak geografis Rokan Hilir lebih rendah dari muka air laut pasang, maka Amsterdam di Belanda sebenarnya lebih rendah lagi, yakni rata-rata tujuh meter di bawah muka laut, tetapi kota itu sudah sekian puluh tahun tidak pernah kebanjiran.
Kuncinya pada usaha tak pernah henti untuk merencanakan wilayah dengan baik, melaksanakan wilayah dan mengawasinya supaya tidak ada pelanggaran. Ada banyak teknologi yang dapat dilibatkan agar penataan wilayah itu berjalan optimal. Dan ini pernah dilakukan di kota-kota besar Negara Islam seribu tahun yang lalu.
Menurut para sejarahwan perkotaan Modelski maupun Chandler, Baghdad di Irak memegang rekor kota terbesar di dunia dari abad-8 M sampai abad-13 M. Peringkat kedua diduduki oleh Cordova di Spanyol dan peringkat ketiga diduduki Konstantinopel yang saat itu masih ibu kota Romawi-Byzantium.
Baik Baghdad maupun Cordova adalah kota-kota yang tertata rapi, dengan saluran sanitasi pembuang najis di bawah tanah serta jalan-jalan luas yang bersih dan diberi penerangan pada malam hari. Kota Baghdad dibangun dalam dua semi lingkaran dengan diameter sekitar 19 kilometer. Dua astronom, Naubakht Ahvaz dan Masyallah menjadikan bulan Juli sebagai waktu dimulainya pembangunan kota, karena air sungai Tigris sedang tinggi, sehingga kota dijamin aman dari banjir.
Demikianlah hendaknya pemangku kebijakan di negeri ini menyikapi daerah-daerah yang berpotensi banjir seperti di Kabupaten Rokan Hilir. Perlu ada penataan pemukiman penduduk yang terencana dan terintegrasi. Langkah-langkah kuratif dengan memberikan bantuan kepada korban banjir memang baik dan harus dilakukan tapi yang lebih penting dari itu adalah bagaimana agar banjir tidak terulang lagi. Ini tentu membutuhkan peran yang serius dan sungguh-sungguh dari pemangku kebijakan di negeri ini. (*)
* Penulis merupakan Pemerhati Sosial, Politik dan Ekonomi Islam.