DATARIAU.COM - Pandemi covid-19 belum jua menunjukkan tanda-tanda usai. Alih-alih usai, pandemi justru makin menjadi-jadi. Lonjakan kasus infeksi tiap hari bertambah dan terus melonjak. Bahkan kabarnya terdapat banyak yang terinfeksi namun tanpa gejala yang sering disebut dengan istilah OTG yakni orang tanpa gejala. Mengerikan bukan?
Dilansir dari CNN Indonesia (12/7/2020) Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19, Achmad Yurianto menyatakan sebagian besar kasus pasien positif virus corona (Covid-19) yang baru ditemukan hari ini kebanyakan berstatus sebagai orang tanpa gejala (OTG). Pasien dengan status OTG sama sekali tak merasakan keluhan dan tak merasakan sakit apapun meski sudah dinyatakan positif Covid-19.
Kemudian, World Health Organization (WHO) pun kembali memperbarui terkait ringkasan ilmiah Transmisi SARS-CoV-2 yang diterbitkan sejak 29 Maret 2020. Isinya terkait, covid-19 bisa menular melalui udara dan pola pencegahannya. Sebelumnya, 239 ilmuwan dari beragam negara mendapati hal yang sangat mencengangkan bahwa, Virus Corona bisa menular melalui udara. Sangat mengkhawatirkan bukan? Hal itu berdasarkan riset mereka yang bertajuk: It is Time to Address Airborne Transmission of Covid-19.
Sungguh mengerikan jika benar covid-19 bisa menular melalui udara. Siapa saja bisa terkena bukan? Terlebih jika berada diluar rumah. Namun yang terjadi saat ini adalah kebijakan new normal tetap saja berlanjut. Padahal korban sudah banyak yang berjatuhan. Setiap hari kasus terinfeksi terus bertambah.
Angka kasus lonjakan covid-19 bisa terlihat dari Update Perkembangan Kementrian Kesehatan RI, per tanggal 26/7/2020 pukul 12.00 WIB. Jumlah kasus terkonfirmasi positif covid-19 di Indonesia menjadi 98.778 kasus dengan 56.655 sembuh 4.781 meninggal.
Lonjakan kasus per hari di atas 1000 bahkan menyentuh angka 2000. Kondisi ini menunjukkan bahwa, Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Indonesia sedang menghadapi problem yang tak kunjung usai. Bagaimana tidak? Temuan-temuan baru terhadap sebaran virus covid-19 semestinya diiringi tindakan nyata pemerintah untuk memastikan putus rantai penularan.
Namun yang terjadi jumlah kasus terinfeksi covid-19 justru meningkat bukan? Katakan saja per tanggal 9/7/2020, Jumlah kasus Covid-19 menyentuh angka 2.657 kasus dalam 24 jam terahir. Artinya dalam sehari penambahan kasus sungguh melonjak tak karuan.
Terlebih pemerintah mengonfirmasi temuan PBB bahwa ada peluang sebaran melalui udara (airborne), ini sungguh mengerikan. Namun, tidak ada kebijakan antisipas terhadap pekerja kantoran, pegawai BUMN bahkan PNS. Semua rekomendasi berpulang pada kesadaran dan kehati-hatian individu.
Maka, sudah sepantasnya pemerintah membuat langkah antisipasi yang jitu, karena ledakan bisa terjadi dan makin terus menjadi. Terlebih kaum milenial kembali melakukan aktivitasnya. Semisal berkumpul dengan jumlah yang banyak. Bepergian dengan bebas karna menganggap kondisi sudah normal dengan diterapkannya kebijakan new normal.
Dan masyarakat pun pemerintah juga jangan sampai menganggap biasa kasus orang tanpa gejala (OTG). OTG terutama dari kalangan milenial di era pelonggaran bisa menjadi sumber ledakan baru.
Lantas, faktor apa saja yang menyebabkan kasus harian Covid-19 meninggi? Menurut pakar Epidemiolog Universitas Gadjah Mada (UGM) Riris Andono Ahmad menilai, penyebab utama tingginya kasus Covid-19 dalam sehari di Indonesia dikarenakan mobilitas masyarakat yang juga tinggi (Kompas.com, 10/7/2020)
Nah, mobilitas tersebut, diakibatkan oleh penerapan normal baru setelah Hari Raya Idul Fitri lalu, sampai saat ini. Apabila belum ditemukan vaksin atau obat yang bisa mengendalikan penularan Covid-19, maka kasus akan kembali seperti semula. Itu artinya covid masih betah lama-lama di Indonesia?
Lonjakan yang terus terjadi seharusnya menyadarkan pemerintah akan kebijakan antipasi yang jitu yang harus dipersiapkan jauh-jauh hari. Pemerintah bisa juga membuat perombakan kebijakan mengingat kebijakan new normal bukanlah solusi untuk negeri di dimana pandemi terus menjadi-jadi.
Pemimpin negeri ini harus cermat dan tepat dalam pengambilan kebijakan. Jika sudah terbukti kebijakan new normal justru menaikkan angka kasus infeksi, harusnya kebijakan tersebut dihentikan kemudian kebijakan baru yang lebih jitu diterapkan. Jangan sampai karna mengutamakan pemulihan ekonomi nyawa rakyatnya terabaikan.
Buktinya sudah jelas-jelas banyak yang sudah menjadi korban atas kebijakan new normal, namun mengapa masih saja dipertahan? Beginilah jika negeri dengan sistem kapitalis yang berada dibelakangnya, nyawa rakyat tidak jadi prioritas utama melainkan kapital yang berbicara.
Berbeda dengan sistem Islam yang lebih mengutamakan keselamatan dan keamanan rakyatnya. Sehingga nyawa rakyat adalah prioritas utama yang dijamin negara. Karna pemimpin-pemimpin dalam Islam adalah pemimpin-pemimpin yang terjaga ketaatannya pada Allah, sehingga ia akan menjalankan amanah dengan tanggungjawab penuh tanpa bisa tenang setelah memastikan rakyatnya dalam kondisi baik-baik saja. Wallahu'alam-bishoab.
Penulis: Alfira Khairunnisa (Pemerhati Kebijakan Publik)