Menepis Terjangan "Tsunami Informasi"

datariau.com
1.358 view
Menepis Terjangan "Tsunami Informasi"
Ilustrasi (Foto: Internet)
DATARIAU.COM - Tak sengaja ketika berkendara sambil mendengarkan sesi Smart Parenting di salah satu channel radio di Pekanbaru, narsum menyampaikan terkait bahaya Sosial Media terhadap anak-anak. Dalam salah satu penjelasannya bahwa anak-anak bisa gundah/gelisah/emosi tidak stabil bahkan ada kasus sampai bunuh diri karena begitu banyaknya "informasi" yang diterima melalui sosial media yang terus bergerak setiap detik maupun menit.

Kenapa disebut "Tsunami Informasi"?

Terlepas dari definisi awalnya terkait tsunami, yang jelas tsunami yang kita bayangkan adalah adanya ombak besar menghantam daratan yang memporak-porandakan setiap apa yang dilewatinya dan membawa serta setiap partikel yang dilewatinya. Sehingga yang tadinya murni berupa terjangan air berubah menjadi air yang bercampur tanah, kayu, sampah, alat rumah tangga, plastik, dan apapun yang bisa terangkat oleh air tersebut.

Demikian juga dengan "Informasi" yang bersliweran melalui media online, media sosial, dan sebagainya. Apakah itu fakta, gosip, fake, iklan, hoax, cyberbullying, pornografi, SARA, maupun ujaran kebencian bergerak silih berganti hingga menjadi tsunami yang menerjang para pengguna internet. Dan tidak jarang ditemukan ada ulasan yang dikemas seolah merupakan hasil investigasi, berisi fakta yang seolah riil, tapi ternyata hanya sebuah kebohongan belaka. Dalam kondisi seperti ini, jika tidak pandai memfilter "informasi" yang sebenarnya bukan sebuah informasi bisa memberikan efek sosial hingga kejiwaan yang mendalam.

Merujuk laporan kemkominfo, hingga tahun 2018 saja jumlah situs yang bermuatan negatif yang "ditangani" mencapai 912.659 situs, 528.262 konten negatif pada media sosial twitter, 2.232 konten pada jejaring facebook, dan 6.123 konten pada instagram. Perlu dicatat angka-angka ini adalah statistik yang telah ditangani oleh pihak kemkominfo, riilnya tentu saja jauh lebih besar dari angka tersebut.

Bagaimana Tsunami Informasi terbentuk

Berbeda dengan tsunami, yang terbentuk karena kehendak yang maha kuasa atau sebagian orang mengatakan karena fenomena alam. Dalam posisi itu manuasia hanya menjadi Objek dari tsunami tersebut, meskipun para ahli bisa membuat perkiraan, tsunami early warning, dan berbagai cara untuk meningkatkan kewaspadaan dalam menghadapi tsunami namun pada akhirnya manusia hanyalah objek yang tidak bisa menolak datangnya tsunami tersebut.

Lain halnya dengan Tsunami Informasi, subjek maupun objeknya adalah Manusia itu sendiri. Pembuatnya adalah manusia, yang menghembuskannya/memviralkannya juga manusia yang ditambah robot-robot buatan manusia, dan objeknya juga manusia. Dan tidak jarang dalam beberapa kasus, sang Objek juga berubah menjadi buzzer yang urun rempug menghembuskan "informasi" tersebut hingga menambah dan memperbesar daya sebarnya hingga jadilah tsunami informasi.

Kebiasaan like and share tanpa proses filterisasi bisa menjadi salah satu pemicu terjadinya gelombang tsunami informasi ini. Satu orang pembuat konten, 10 orang melakukan share di tahap awal, berkembang berikutnya menjadi 100 orang hingga jutaan orang yang membaca, mengomentari, memviralkan hingga sampailah ke gadget bapak, ibu, anak-anak melalui halaman facebook, twitter, instagram maupun saluran online lainnya.

Bagaimana Seharusnya?

Islam demikian lengkap memandu hambanya tidak hanya dalam perihal Hablum Minallah tapi demikian luas mengatur urusan Hablum Minannas salah satunya adalah bab penyebarluasan informasi.

Pertama - Janganlah tergesa-gesa menyebarkanluaskan informasi. Cek and ricek terlebih dahulu. "Cukuplah seseorang dikatakan sebagai pendusta apabila dia mengatakan semua yang didengar." (HR. Muslim no.7)

Kedua - Periksalah Kebenaran sebuah berita dengan cermat."Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu." (QS. Al-Hujuraat [49]: 6)

Ketiga - Bertanyalah, Adakah Manfaat Menyebarkan suatu Berita Tertentu?, "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata yang baik atau diam." (HR. Bukhari no. 6018 dan Muslim no. 74). (*)

Penulis: Dadang Sunandar, SST, MT. (Kasi JRS BPS Provinsi Riau).
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)