Pekan Ke-22 Tahun 2016, Tercatat 661 Kasus DBD di Kota Pekanbaru

datariau.com
1.177 view
Pekan Ke-22 Tahun 2016, Tercatat 661 Kasus DBD di Kota Pekanbaru
ilustrasi

PEKANBARU, datariau.com - Hingga pekan ke-22 tahun 2016, Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru sudah mencatat jumlah Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Pekanbaru sebanyak 661 kasus.

Kepala Bidang Pengendalian Kesehatan Diskes Pekanbaru, Gustiyanti mengatakan bahwa tingginya kasus DBD ini disebabkan perubahan cuaca yang tidak menentu dan sangat sangat rentan.

"Untuk itu, kita ingat masyarakat untuk tetap menjaga lingkungannya. Lebih-lebih saat ini bulan suci Ramadhan, dan perbanyak makan buah, sayuran serta minum air putih ketika buka puasa. Sehingga kondisi tubuh baik dan tidak mudah jatuh sakit," ujarnya, Senin (13/6/2016).

Dikatakan Yanti, kasus tertinggi masih berada di Payung Sekaki, Marpoyan Damai dan Tampan. Dirinya menyebut tingginya angka DBD disebabkan cuaca yang tidak seperti biasa.

"Untuk kasus terbanyak berada di Kecamatan Payung Sekaki dengan 113 Kasus, Marpoyan Damai 88 Kasus dan Tampan 77 Kasus," ujarnya.

Ketika ditanya soal langkah fogging, Gustiyanti mengatakan, jika saat ini Diskes terkendala keterbatasan obat fogging.

"Kita kan sudah bahas juga dengan Buk Kadis dalam setiap rapat evaluasi, supaya bisa diupayakan penambahan. Karena obat yang kita miliki terbatas," terangnya.

Dengan banyaknya kasus DBD di Pekanbaru, ia berharap masyarakat bisa membantu dengan rutin melakukan kebersihan lingkungan. Sebab dengan rutin membersihkan pekarangan atau mengubur barang bekas dapat mencegah berkembang biaknya nyamuk demam berdarah.

"Harus mengedepankan 3M plus, jangan biarkan ada barang-barang yang bisa jadi tempat tergenang air menjadi sarang nyamuk DBD," pintanya.

Dijelaskan lagi, dirinya telah mengintruksikan agar kader jumantik juga melakukan sosialisasi pentingnya menjaga kebersihan lingkungan serta membunuh jentik nyamuk. Memang untuk fogging pihaknya belum bisa optimal selain obat, mesin foggingnya juga terbatas. Sebab ada yang rusak sehingga tidak bisa digunakan.

"Kader jumantik harus tetap mensosialisasikan meskipun sedang ramadan. Kalau dibiarkan, takutnya jumlah korban dan kasus akan semakin meningkat." katanya mengakhiri.

Penulis
: Rina
Editor
: Riki
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)