TAMBANG, datariau.com - Hari Pendidikan Nasional baru beberapa hari yang lalu diperingati serentak oleh insan pendidikan di seluruh Indonesia, namun potret dunia pendidikan pada sebuah sekolah dasar (SD) tepatnya SD Negeri 032 Kualu kecamatan Tambang, sungguh memprihatinkan.
Sebahagian siswanya masih belajar dengan beralaskan tanah dan berdinding kayu seberan yang kondisinya sebagian sudah mulai lapuk dimakan usia.
Lokasi SD Negeri 032 bukanlah di pelosok desa terpencil, tapi berada di pemukiman padat penduduk, dikelilingi oleh beberapa perumahan yang dibangun oleh pengembang (developer), dan akses jalan menuju sekolah yang sudah beraspal.
Saat datariau.com mencoba mengkomfirmasi pada kepala sekolah Hasan Basri di ruang kerjanya, beliau dalam keadaan sakit. Namun Fahrurrozi, salah seorang guru yang juga merupakan wakil kepala sekolah mengatakan siswanya saat ini berkisar lebih 700 orang.
Dikatakan Fahrurrozi, kelas darurat itu sudah tujuh tahun ditempati siswa untuk belajar yaitu sekitar tahun 2008 yang lalu, karena daya tampung sekolah ini tidak mencukupi sementara penambahan ruang kelas tidak ada, sehingga dibangunlah ruang kelas darurat tersebut sebanyak 6 lokal dari swadaya masyarakat.
Menurutnya, saat ini ruang kelas tersebut dipakai oleh siswa kelas 1 sebanyak 6 kelas dan siswa kelas III satu kelas. Diakui Fahrurrozi setelah dibangunnya ruang kelas darurat itu, sekolahnya juga mendapatkan tambahan ruang kelas baru bertingkat, namun keberadaan ruang kelas darurat tersebut tetap dipertahankan dan dimanfaatkan sebagai ruang kelas seperti ruang kelas lainnya.
Disebutkan Fahrurrozi, sekolahnya sudah beberapa kali mengajukan penambahan ruang kelas baru kepada pemerintah, baik pemerintah kabupaten maupun pemerintah propinsi, dan saat ini juga sudah mengajukan proposal kepada Kementerian Pendidikan di Jakarta.
Pantauan
datariau.com, enam ruang kelas darurat beralaskan tanah dan berdinding sebahagian papan itu, bagian atasnya sebahagian dibiarkan terbuka. Ruangan antar kelas disekat dengan dinding papan, dan ruangan kelas yang diperkirakan berukuran sekitar 6 x 6 meter itu dengan jumlah siswa sekitar 30 orang tampak semakin penuh sesak dengan meja belajar siswa dan lemari buku. Ruangan itu terasa sempit untuk kegiatan belajar. Bahkan pembatas (sekat) ruangan antar ruang kelas ada yang lepas atau tanggal.
Seorang murid mengintip murid kelas sebelah dari dinding kayu yang bolong.Sari (9) salah seorang siswa mengatakan bahwa ruangan kelasnya tidak nyaman karena kelasnya sempit dan berdebu.
"Ruang kelasnya sangat sempit, untuk berjalan saja susah, dan berdebu karena kawan-kawan sering bermain dan menggesekkan kakinya ke tanah," sebutnya dengan lugu.
Rahman (42) salah seorang warga menyatakan keprihatinannya terhadap bangunan darurat sekolah tersebut. Menurutnya saat ini pemerintah telah mengalokasikan anggaran pendidikan yang cukup signifikan, 20 persen yang diamanatkan oleh undang-undang. Namun kenyataannya masih ada sekolah yang ruang kelasnya "darurat".

Kondisi bangunan sekolah di Desa Kualu yang sangat memprihatinkan.Dikatakan Rahman, sarana dan prasarana adalah aspek penting yang berpengaruh dalam meningkatkan mutu pendidikan. "Seberapa tinggi pun dedikasi guru atau semangat belajar siswa, tapi kalau sarana dan prasarana tidak memadai, sulit diharapkan dapat menghasilkan pendidikan yang bermutu, karena sarana yang baik, bersih, sehat dan nyaman pastilah membuat anak didik lebih semangat belajar," ujarnya.
Jangan ketinggalan berita terbaru:
Ikuti halaman facebook kami klik (Facebook)
Ikuti twitter kami klik (Twitter)
(nov)