PEKANBARU, datariau.com - Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Pekanbaru membantah persediaan gas elpiji subsidi tiga kilogram sempat langka terutama di tingkat pangkalan resmi dan pedagang pengecer.
"Hasil dari pengecekan di lapangan, tidak didapati adanya kelangkaan. Bahkan ada pangkalan yang stoknya masih berlebih karena tidak habis terjual," ujar Kepala Bidang Perdagangan Disperindag Kota Pekanbaru Mas Irba Sulaiman di Pekanbaru.
Menurut dia, masyarakat yang tinggal di daerah tersebut bisa melaporkan secara resmi kepada pihaknya, apabila terjadi kelangkaan atau kesulitan dalam mendapatkan gas elpiji subsidi tiga kilogram terutama di pangkalan resmi dan pedagang pengecer.
Laporan tersebut akan ditindaklanjuti pihaknya dengan melakukan pengecekan langsung di wilayah yang disebutkan terutama dengan melihat pasokan di tingkat agen serta pangkalan resmi yang memasok kebutuhan bahan bakar gas elpiji subsidi.
"Tunjuk saja di mana yang langka atau tidak ada gas elpiji. Kita akan langsung turun memastikan hal tersebut. Soalnya para agen bilang, tidak ada kelangkaan di Pekanbaru dan semuanya dalam kondisi yang aman," katanya.
Rizal Harahap (37), warga Purwodadi, Kecamatan Tampan, Panam, Kota Pekanbaru, mengaku ia kesulitan untuk mendapatkan gas elpiji subsidi tiga kilogram --yang menjadi bahan bakar dalam memasak berbagai kebutuhan yang dikonsumsi anggota keluarganya.
"Lebih dari tiga warung yang saya datangi di sekitar tempat tinggal dan saya menanyakan ketersediaan gas elpiji, tapi dijawab kosong. Walau akhirnya saya dapatkan, tapi dengan harga yang tinggi sebesar Rp17.000 per tabung elpiji tiga kilogram," katanya.
Erni (40), seorang pedagang pengecer di Jalan Dahlia, Kelurahan Delima, Panam, mengatakan dalam tiga hari secara berturut-turut pasokan gas elpiji subsidi tiga kilogram tidak masuk di warung tempatnya berjualan.
Kelangkaan juga diduga karena adanya pengaruh dari kenaikkan harga elpiji 12 Kg. Namun dibantah oleh PT Pertamina (Persero) Perwakilan Pemasaran Riau-Sumbar. Menurut Pertamina, tidak terjadi migrasi pengguna gas elpiji nonsubsidi 12 kilogram menjadi elpiji subsidi 3 kilogram tiga pekan setelah kenaikan elpiji nonsubsidi 12 kilogram sebesar Rp1.500 per kilogram.
"Dari pengguna gas elpiji 3 kilogram ke gas elpiji nonsubsidi 12 kilogram, ini tidak kita tambahkan 3 kilogramnya, jadi secara otomatis untuk bermigrasi sangat sulit dilakukan," ujar Kepala Pertamina Perwakilan Pemasaran Riau-Sumbar Ardyan Adhitia di Pekanbaru, Rabu (1/10/2014).
Pihaknya telah mengunci pemakaian gas elpiji subsidi 3 kilogram di Riau sebesar 3 juta tabung per bulan atau sekitar 100 ribu tabung per hari dan konsumsi gas elpiji non subsidi 12 kilogram sebesar 210.000 tabung per bulan atau sekitar 7.000 tabung per hari.
Selain itu, menurut dia, pihaknya juga telah memberitahu ke tingkat agen dan pangkalan resmi di provinsi tersebut yang berjumlah sebanyak 65 agen gas elpiji subsidi 3 kilogram dengan sekitar 2.200 pangkalan resmi.
Sedangkan untuk agen gas elpiji nonsubsidi 12 kilogram di Riau berjumlah sebanyak 18 agen dengan sekitar 100 sub agen sebelum pemberlakuan harga baru pada 10 September 2014 dan tidak terjadi migrasi besar-besaran menjelang kenaikan harga tersebut.
"Untuk bermigrasi, sangat sulit dilakukan karena tidak ada tabung yang beredar di masyarakat. Kita juga ingatkan ke agen dan pangkalan resmi di Riau, tidak boleh menjual tabung kerjanya kepada masyarakat atau pengguna elpiji 12 kilogram," katanya.
PT Pertamina (Persero) Marketing Operation Region I Sumatera Bagian Utara setelah menaikan harga elpiji nonsubsidi memperkirakan, potensi terjadinya migrasi dari penggunan elpiji nonsubsidi 12 kilogram beralih menggunakan elpiji subsidi 3 kilogram sangat kecil di Riau.
"Untuk migrasi, potensinya kecil karena berdasarkan kejadian kenaikan awal tahun lalu hanya 3 persen sampai 5 persen," ujar Senior Supervisor External Relation Pertamina Marketing Operation Region I Sumbagut, Fitri Erika. (*)
antara