DATARIAU.COM - Hiruk pikuk para ambisius kekuasaan terdengar di masa-masa Pemilu atau Pemilihan Umum. Namun cara yang ditempuh adalah berpolitik tidak bersih. Mereka saling menjatuhkan satu dan lainnya. Saling menjatuhkan satu dan lain. Saling membeberkan aib saudaranya sesama muslim.
Intinya dalam politik saling menjatuhkan karena gila kekuasaan. Bahkan dahulu itu kawan, sekarang bisa jadi musuh. Kita pun sebagai rakyat biasa terbuai dengan isu-isu berita semacam itu, mudah percaya. Padahal nyatanya itu adalah cara berpolitik kotor.
Padahal sesama muslim itu adalah bersaudara, harusnya saling mendukung, bukan saling menjatuhkan. Dari Abu Hurairah berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Seorang mukmin adalah cermin bagi saudaranya. Jika dia melihat suatu aib pada diri saudaranya, maka dia memperbaikinya.” (Disebutkan oleh Imam Bukhari dalam Al Adabul Mufrod, hasan secara sanad)
Juga dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seorang mukmin adalah cermin bagi saudaranya. Seorang mukmin adalah saudara bagi mukmin yang lain. Dia tidak merusak harta miliknya dan menjaga kehormatannya (sesuai kemampuan).” (HR. Abu Daud no. 4918, hasan)
Dari Abu Musa, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya orang mukmin satu dan lainnya bagaikan suatu bangunan yang saling menguatkan satu dan lainnya” (HR. Bukhari no. 6026 dan Muslim no. 2585).
Dari An Nu’man bin Basyir, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perumpamaan kaum mukminin dalam kecintaan dan kasih sayang mereka adalah bagaikan satu jasad, apabila satu anggota tubuh sakit maka seluruh badan akan susah tidur dan terasa panas” (HR. Muslim no. 2586).
Ancaman bagi Orang yang Gila Kekuasaan
Itulah cara politik kotor yang dilakukan karena gila kekuasaan. Padahal gila kekuasaan ini sudah diwanti-wanti oleh uswah kita, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Siapa saja yang rakus kekuasaan, ia pasti akan menuai penyesalan di hari kiamat.
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Nanti engkau akan begitu tamak pada kekuasaan. Namun kelak di hari kiamat, engkau akan benar-benar menyesal” (HR. Bukhari no. 7148).
Badaruddin Al ‘Aini, penulis kitab ‘Umdatul Qori, “Siapa saja yang tamak pada kekuasaan, maka umumnya ia tidak bisa menjalankan amanah dengan baik.”
Imam Bukhari rahimahullah membawakan hadits di atas dalam Bab “Terlarang tamak pada kekuasaan.”
Kata Imam Ibnu Batthol bahwa ketamakan manusia pada kepemimpinan begitu nyata. Itulah yang membuat adanya pertumpahan darah, menginjak kehormatan yang lain, terjadinya kerusakan sampai kekuasaan itu diraih. Gara-gara rakusnya pada kekuasaan inilah yang membuat keadaan menjadi jelek. Karena merebut kekuasaan terjadi pembunuhan, saling meninggalkan, saling merendahkan, atau mati karenanya, itulah yang menjadi penyesalan pada hari kiamat. (Syarh Al Bukhari karya Ibnu Batthol).
Sadarlah wahai para ambisius kekuasaan. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel Muslim.Or.Id