Letak Kesempurnaan Iman dalam Akhlak terhadap Istri

Datariau.com
235 view
Letak Kesempurnaan Iman dalam Akhlak terhadap Istri

DATARIAU.COM - Artikel ini akan mencoba menelaah keterkaitan antara kesempurnaan iman dengan akhlak terhadap istri. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam suatu hadits telah mensejajarkan antara kesempurnaan iman dan akhlak terhadap istri untuk menjadi manusia terbaik di antara umatnya.

Betapa banyak saat ini rumah tangga yang sedang diguncang oleh permasalahan yang beraneka ragam. Mulai dari hal-hal yang terkesan sepele seperti perbedaan pendapat dalam mengambil suatu keputusan, salah pengertian dengan sikap pasangan, persoalan lauk pauk, warna pakaian, tipe kendaraan, hingga permasalahan besar seperti pengkhianatan dan perselingkuhan, -wal iyadzubillah- dan sebagainya.

Perceraian, Pilihan Tunggal Tawaran Iblis


Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air (laut), kemudian mengutus bala tentaranya. Maka yang paling dekat dengannya adalah yang paling besar fitnahnya. Datanglah salah seorang dari bala tentaranya dan berkata, “Aku telah melakukan begini dan begitu.” Iblis berkata, “Engkau sama sekali tidak melakukan sesuatu pun.” Kemudian datang yang lain lagi dan berkata, “Aku tidak meninggalkannya (untuk digoda), hingga aku berhasil memisahkan antara dia dan istrinya. Maka Iblis pun mendekatinya dan berkata, “Sungguh hebat (setan) seperti Engkau.” (HR. Muslim no. 2813)

Hadits ini menjadi bukti bahwa setan sangat menyukai permasalahan dalam rumah tangga yang berujung pada perpisahan atau perceraian. Apabila kita tidak dapat membentengi diri -dengan memohon pertolongan kepada Allah Ta’ala-, maka kita akan sangat rentan menjadi korban bala tentara Iblis yang senantiasa membisikkan keputusan perceraian kepada para suami yang sedang dalam keadaan emosinal tingkat tinggi.

Akhlak dalam Kebaikan terhadap Istri


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya. Dan orang yang paling baik di antara kalian adalah orang yang paling baik kepada istrinya.” (HR. At-Tirmidzi, 3: 466; Ahmad, 2: 250 dan Ibnu Hibban, 9: 483)

Secara umum diketahui bahwa pengertian iman adalah sebagaimana hadits Jibril, dimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab pertanyaan Jibril tetang iman, yaitu beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan beriman kepada takdir yang Allah Ta’ala tetapkan.

Lalu, bagaimana mengaitkan kesempurnaan iman yang dimaksud dalam hadits di atas kepada pengertian enam rukun iman ini?

Mari kita perhatikan ayat berikut,

“Dan pergaulilah istrimu dengan (akhlak yang) baik. Kemudian jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah), karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allâh menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An-Nisâ’: 19)

Sebagai orang yang beriman kepada Allah Ta’ala, ketika membaca kalimat (padahal Allâh menjadikan padanya kebaikan yang banyak), maka seharusnya yang terlintas dalam pikiran kita adalah pertanyaan tentang apa yang dimaksud dengan “kebaikan yang banyak”?

Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah menafsirkan makna “kebaikan yang banyak” dalam ayat tersebut, yaitu:

“Bahwa pemaksaan dirinya (suami) untuk bertahan, padahal ia membencinya adalah sebuah perjuangan melawan hawa nafsu dan menghiasi diri dengan akhlak yang luhur. Mungkin saja kebencian itu akan lenyap dan akan diganti dengan kecintaan sebagaimana yang nyata terjadi. Dan mungkin juga darinya ia akan diberikan rizki, yaitu anak yang shalih yang berguna bagi kedua orang tuanya di dunia dan akhirat.”

Oleh karenaya, semestinya kita merenungi setiap hal yang menjadikan hati kita keruh khususnya permasalahan dengan istri/suami. Ketika kesabaran kita diuji dengan suatu sikap yang menimbulkan rasa benci kepada pasangan, hendaklah merenungi sejenak makna ayat di atas.

Mencari Kebaikan yang “Tersembunyi”


Ada sesuatu yang kadang tidak terlihat secara kasat mata, tersimpan dan akan sulit kita buktikan apabila hati ini selalu tertutupi dengan rasa benci yang notabene dihiasi oleh bisikan-bisikan setan yang senantiasa menginginkan keretakan dalam rumah tangga anak Adam.

Sikap-sikap yang mungkin kita tidak sukai seperti cemburu, over-protective, banyaknya permintaan, manja, suka berkeluh-kesah, dan berbagai hal yang selalu menimbulkan amarah; bisa jadi berangkat dari diri kita sendiri. Sebagaimana ungkapan seorang ulama,

إن عصيت الله رأيت ذلك في خلق زوجتي و أهلي و دابتي

“Sungguh, ketika bermaksiat kepada Allah, aku mengetahui dampak buruknya ada pada perilaku istriku, keluargaku dan hewan tungganganku.”

Bisa jadi sumber dari sikap-sikap pasangan yang tidak kita sukai itu merupakan dampak dari perbuatan maksiat yang kita lakukan. Jangan dulu salahkan istri/suami yang sikapnya berubah menjadi hal dibenci. Lihatlah diri sendiri, apa yang telah dilakukan oleh mata, telinga, tangan, kaki, hingga hari sedari pagi. Betapa banyak batasan-batasan syar’i yang telah kita kangkangi.

Karena betapa banyak kalimat perceraian yang telah terlanjur terucap ingin kembali diralat sebab begitu sangat disesali. Tapi hukum tetaplah hukum. Istri yang tadinya sah sebagai seorang pendamping hidup, yang sejatinya siap sedia untuk dituntun ke surga, kini tidak lagi bisa disentuh karena statusnya sebagai istri telah lepas sebab ucapan talak.

Oleh karenanya, kembali kepada kalimat “kebaikan yang banyak” pada diri istri/suami yang tidak kita ketahui saat tidak mampu mengendalikan diri ketika menghadapi sikap-sikap mereka yang tidak sesuai keinginan hati.

Allah yang Menyatukan Kita


Carilah kebaikan yang banyak sebagaimana Allah terangkan itu. Lihatlah istri, wanita yang sebelumnya tidak Engkau kenal kini telah menjadi istri yang setia mendampingi hidup-mati dimana kematian terasa sangat dekat ketika dia melahirkan anak-anakmu. Wanita yang dulunya dididik dan dibesarkan oleh kedua orang tuanya, kini mengabdikan diri kepadamu dengan sepenuh jiwa dan raga.

Lihatlah suami, lelaki yang dulu tidak pernah Engkau tau siapa. Kini telah menjadi tulang punggung rumah tanggamu dan ayah dari anak-anakmu. Lelaki yang menjadi tumpuan harapan ayah dan bundanya, kini sedang menghidupimu dengan hasil jerih payahnya meskipun nyawa menjadi taruhan.

Allah telah menyatukan hati antara seorang suami dengan istri. Segenap perbedaan dan warna yang dimiliki oleh masing-masing pasangan kini telah menyatu menjadi kesatuan yang semestinya harus utuh dalam rangka menggapai ridha-Nya.
Kesmpurnaan Iman dalam Akhlak terhadap Istri

Demikianlah secuil potret dari “kebaikan yang banyak” yang saat ini jelas terlihat secara kasat mata kita terhadap pasangan yang kini berada seatap dengan kita. Sayangi dan lindungilah dirinya sebagaimana Engkau menyayangi dirimu sendiri dengan niat ingin mendapatkan predikat akhlak terpuji sebagaimana Allah Ta’ala dan Rasul-Nya telah janjikan.

Inilah keterkaitan antara kesempurnaan iman dengan akhlak terhadap istri/suami. Akhlak terpuji kepada istri/suami menjadi bagian indikator kesempurnaan akhlak dan kesempurnaan iman. Perbuatan baik kepada mereka bukan sekedar menjadi ajang balas budi karena ketaatan dan kepatuhan mereka kepada kita. Tapi perbuatan dan akhlak yang terpuji itu sejatinya menjadi manifestasi dari keinginan menjadi hamba Allah dengan kesempurnaan iman. Wallahu Ta’ala A’lam.

***

Penulis: Fauzan Hidayat
Artikel: Muslim.or.id