Menyikapi Kondisi Sungai Rokan, PWI Rohil Sapa Tokoh Pakar Lingkungan Hidup Riau

Samsul
726 view
Menyikapi Kondisi Sungai Rokan, PWI Rohil Sapa Tokoh Pakar Lingkungan Hidup Riau

ROHIL, datariau.com - "Simpan Sungai Rokan..." Itulah yang diserukan Pakar Lingkungan Hidup Riau, Dr Elviriadi menyikapi kondisi sungai terbentang di wilayah Rokan Hulu dan Rokan Hilir tersebut, pada saat diskusi via Zoom bertajuk "Sungai Rokan Riwayatmu Kini.." yang digelar PWI Rohil, Selasa (9/11/2021).

Mengapa demikian? lanjut Elviriadi, tidak terlepas dari fakta bahwa kondisi sungai Rokan perlu segera direhabilitasi atau restorasi. Perlu dibuat langkah pemulihan lingkungan.

Ia mengungkapkan telah beberapa kali melakukan survei, kajian sungai Rokan dan pada saat ini terjadi deforestasi atau pengundulan hutan sehingga diketahui hasil tangkapan air (Cathcment Area) yang mempengaruhi debit udara menjadi hilang.

"Selain itu terjadi pengundulan hutan alam di kiri-kanan sungai baik di hulu maupun hilir, baik di Wilayah Rohul maupun Rohil yang mengakibatkan jumlah fauna, flora berkurang," katanya.

Dengan kondisi itu aliran air cenderung cepat atau deras, yang akan menghantam tebing-tebing di sepanjang bantaran sungai. Hal ini lah yang kepemimpinan jamak terjadi di Rohul atau Rohil dimana ada sebagian tempat yang dulunya merupakan lahan, lokasi rumah warga telah hilang karena pengaruh abrasi.

Namun sebaliknya, kenyataan itu membuat di daerah aliran cenderung menjadi estuari, daerah yang kaya dengan nutrisi makanan, karena tidak tersimpan dengan baik di daerah hulu. Ini mempengaruhi keberadaan habitat buaya yang banyak di daerah hilir sungai Rokan.

"Selain deforestasi, ancaman lain adanya pembangunan PKS yang ada kurang mematuhi aturan tentang pembuangan limbah, padahal menurut aturan ada delapan tempat standar, pada beberapa kasus di Rohul ada tim dari DLH yang ternyata terjadi sedimentasi, dimana lumpur mengendap, tempat penampungan dangkal limbah melimpah ke kebun warga dan akses ke parit, terhubung ke sungai sehingga terjadi kasus ikan mati di aliran sungai," katanya.

Ancaman bahaya yang nyata terangnya harus disikapi dengan adanya tindakan yang signifikan dari pihak terkait. Elviriadi juga khawatir tentang habitat buaya di Rohil pada saat ini diperkirakan berkembang biakan buaya yang berkembang cepat di daerah hilir sungai Rokan. Hal itu rawan mengakibatkan serangan terhadap manusia terutama nelayan yang beraktivitas di sungai Rokan.

"Menurut saya sungai Rokan itu kondisinya darurat, andai manusia yang pandai bercakap sudah teriak minta tolong. Ada ancaman buruk, kehilangan flora fauna, nelayan tak aman lagi menangkap ikan. Karena itu perlu ada langkah pemulihan, misalnya penanaman di bantaran sungai," katanya.

"Menurut aturan sesuai dengan PP 38 untuk pemulihan dengan penanaman pohon, dimana paling kurang 50 meter dari bantaran harus dikosongkan dari tanaman sawit, yang diganti dengan tanaman yang memiliki daya serap air bagus," lanjut Dr Elviriadi.

Kegiatan diskusi dimoderatori penasehat PWI Rohil Jonathan Surbakti SSos dan Ketua PWI Rohil Noprio Sandi ST MIKom serta notulen Zulfadhli. Puluhan peserta mengikuti diskusi dari kalangan mahasiswa, umum dan kalangan wartawan.

Ketua PWI Rohil Noprio Sandi ST MIKom menyampaikan apresiasi atas kesediaan narasumber memberikan ilmu yang berharga sesuai dengan kapasitasnya sebagai lingkungan hidup yang terkenal secara internasional.

"Kami menyampaikan terimakasih yang setinggi-tingginya kepada pak Elviriadi, semoga ini memberikan masukan, informasi yang berharga bagi kita semua dan semoga bermanfaat seperti ini juga," katanya. (rls)

JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)