Dugaan Pelecehan Seksual di Unri Naik Tahap Penyidikan

Kakak Indra Purnama
178 view
Dugaan Pelecehan Seksual di Unri Naik Tahap Penyidikan
Gambar: Screenshot Video Viral

PEKANBARU, datariau.com- Kepolisian menaikkan status kasus dugaan pelecehan seksual mahasiswi Universitas Riau (Unri) oleh dosen ke tahap penyidikan.

Kabid Humas Polda Riau Kombes Sunarto menyebut dalam kasus ini, penyidik telah memeriksa saksi-saksi dan pihak korban, termasuk terduga pelaku seorang dosen yang menjabat Dekan FISIP UNRI Syafri Harto.

"Saksi-saksi sudah diperiksa, korban juga sudah diperiksa. Maka hari ini kasus telah ditingkatkan ke penyidikan," kata Sunarto, Kamis (11/11/2021).

Selain itu, penyidik dari Ditreskrimum juga telah menggelar prarekonstruksi di ruang dekan FISIP Unri yang menjadi tempat kejadian perkara (TKP).

"Tadi malam kita prarekonstruksi di ruang dekan. Ada korban, saksi staf dekan sama dekan, tapi tidak dijumpakan," imbuhnya.

Sunarto belum menjelaskan apakah sudah ada tersangka setelah kasus itu naik ke tahap penyidikan.

Kasus ini mencuat setelah sebuah video pengakuan seorang mahasiswi soal pelecehan seksual di kampus Unri viral. Mahasiswi itu mengaku menjadi korban pelecehan yang diduga dilakukan Dekan FISIP Unri, Syafri Harto saat tengah melakukan bimbingan untuk tugas akhir.

Kasus ini telah dilaporkan ke polisi. Di sisi lain Syafri telah membantah tudungan itu. Saat buka suara, dia bahkan menyatakan akan melaporkan balik mahasiswi itu ke Polda Riau dengan alasan nama baiknya telah tercemar. Ia juga mengancam akan menuntut Rp10 miliar ke mahasiswi itu.

Kini, Universitas Riau telah membentuk tim pencari fakta independen guna mengetahui kejadian yang sesungguhnya pelecehan seksual terhadap mahasiswi itu.

Wakil Rektor II Universitas Riau Profesor Sujianto menerangkan tim independen itu tidak melibatkan senat universitas, senat fakultas, pimpinan universitas ataupun pimpinan fakultas. Sujianto mengatakan tim pencari fakta mulai bekerja pada Senin (8/11/2021) untuk melakukan investigasi pada pihak-pihak terkait.

"Semua kami cari yang independen yang memahami terhadap Peraturan Kemendiktiristekdikti Nomor 30 Tahun 2021 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Lingkungan Perguruan Tinggi," katanya seperti dikutip dari Antara, Sabtu (6/11/2021). (*)

Source: cnnindonesia.com

Kirim berita, hak jawab, laporan: 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)