Medan Magnet di Aceh Besar, Begini Penjelasan Pakar Unsyiah

Mahdi Andela
337 view
Medan Magnet di Aceh Besar, Begini Penjelasan Pakar Unsyiah

Banda Aceh, Datariau.com - Fenomena medan magnet di kawasan Blangbintang, Kabupaten Aceh Besar yang viral sejak Minggu (5/1/2020) bukan hanya menyedot perhatian masyarakat tetapi juga 'menggelitik' para pakar untuk pembuktian secara ilmiah.

Adalah Dr Nazli Ismail, Peneliti Geofisika pada Laboratoorium Geofisika dan Ketua Program Studi S2 Ilmu Kebencanaan Universitas Syiah Kuala yang secara khusus mengirimkan tanggapan kepada Serambinews.com.

Menurut Nazli, fenomena gunung magnet seperti yang ditemukan di kawasan Blang Bintang sebenarnya bukan hal yang pertama terjadi di dunia. Masih banyak simpang-siur penyebab kejadian tersebut. Terjadi berbagai pemahaman masyarakat, tetapi pada kondisi yang sangat berbahaya ketika peristiwa tersebut dikaitkan dengan hal-hal yang mistis.

Oleh karena, katanya, perlu diberikan penjelasan secara ilmiah tentang fenomena yang viral tersebut. Untuk memastikan penyebab utamanya maka perlu dilakukan observasi di lapangan secara geofisika, misalnya dengan melakukan pengukuran elevasi, baik secara sederhana menggunakan waterpass, theodolite, maupun peralatan GPS geodetik.

Peralatan semacam ini diperlukan jika diduga bahwa peristiwa pergerakan kendaraan yang seolah-olah melawan arah gravitasi tersebut terjadi karena faktor perubahan ketinggian. Dugaan yang paling mudah diprediksi terhadap fenomena tersebut adalah karena pengaruh perbedaan ketinggian, sehingga terjadi gaya tarik gravitasi.

Di kalangan masyarakat, fenomena ini dikenal dengan istilah gravity hill. Fenomena gravity hill adalah tempat yang hakikatnya merupakan daerah penurunan tetapi seolah-olah terlihat seperti tanjakan karena adanya ilusi optik di sekitar lokasi.

Ini, katanya bisa terjadi pada alam yang terbuka dengan intensitas cahaya matahari cukup tinggi. Pada kondisi seperti ini orang akan terkecoh melihat lintasan yang berupa turunan seolah-olah berupa tanjakan.

Pada kasus yang lebih ekstrem, tidak hanya mobil yang seolah-olah bergerak ke arah tanjakan (melawan arah gravitasi) tetapi juga dapat terlihat seolah-olah air mengalir ke tempat yang lebih tinggi.

"Di kalangan masyarakat awam istilah gravity hill ini juga dikenal dengan nama magnetic hill atau yang dikenal luas sekarang dengan jabal magnet," kata Nazli yang juga unsur Dewan Pakar Forum Pengurangan Risiko Bencana (Forum PRB) Aceh.

Memang pada hakikatnya magnet dapat menarik benda-benda yang terbuat dari atau bahan magnetik seperti logam. Sebagian besar material perakit mobil terbuat dari logam, oleh karena itu pada fenomena 'jabal magnet' ini dipercaya karena ada tarikan magnet bumi yang kuat.

"Akan tetapi, jika benda-benda lain seperti botol plastik juga dapat bergulir, maka dapat dipastikan bahwa fenomena ini bukan disebabkan oleh tarikan medan magnetik," ujar peneliti tersebut.

Akan tetapi lebih kuat oleh adanya tarikan gravitasi bumi yang terjadi karena adanya perbedaan ketinggian atau daerah turunan (meskipun seolah-olah terlihat seperti tanjakan). Akibat ilusi optik, kadang-kadang bukan hanya dapat memperlihatkan daerah turunan seperti tanjakan, tetapi pada areal yang luas juga kadang-kadang bisa terlihat batang pohon tegak yang bengkok, seperti fenomena ketika dimasukkan sebagian pensil ke dalam air dan sebagian lagi di udara di dalam akuarium.

Pensil tersebut seolah-olah kelihatan bengkok karena adanya perbedaan kerapatan yang sangat mencolok antara air dengan udara. Untuk membuktikan benar tidaknya fenomena tersebut diakibatkan oleh pengaruh medan magnet, maka dapat dilakukan pengukuran medan magnet bumi dengan menggunakan magnetometer.

Peralatan tersebut dapat mengukur perbedaan medan magnet bumi dalam skala nanotesla terhadap variasi jarak. Oleh karena itu, jika dilakukan pengukuran berbentuk lintasan yang memotong lokasi yang diduga sebagai 'jabal magnet' makan akan diketahui ada atau tidaknya perubahan yang mencolok intensitas medan magnet bumi pada kawasan tersebut dibandingkan dengan daerah sekitarnya.

Pengukuran ini dapat dilakukan secara cepat, dalam satu hari sudah dapat diketahui hasilnya. Menurut Nazli, untuk keperluan tersebut, Laboratorium Geofisika pada Program Studi Fisika dan Program Studi Teknik Geofisika Universitas Syiah Kuala memiliki pakar dan peralatan yang handal.

Demikian juga untuk peralatan yang mampu mengukur variasi perubahan percepatan gravitas terhadap jarak, Universitas Syiah Kuala juga memiliki perlatan gravitymeter yang sangat canggih dengan skala pengukuran sampai pada satuan milliGal.

Kedua perlatan ini mampu mendeteksi perubahan medan dalam jumlah yang sangat kecil secara akurat. Selama ini peralatan tersebut digunakan untuk eksplorasi sumber daya alam dan mitigasi bencana. Di bagian akhir penjelasannya, Nazli menyarankan fenomena ini perlu diberdayakan, supaya dapat mengangkat industri pariwisata di Aceh Besar.

"Jangan sampai mengarah ke mistis tetapi fenomena alam yang sangat langka ini mesti diberdayakan," demikian Nazli Ismail. (*)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: https://unsyiah.ac.id/
Tag: