INHU, datariau.com - Memperingati tragedi berdarah dan penuh sejarah pada 5 Januari 1949 yang menewaskan ribuan pejuang di Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), diperingati dengan cara dzikir dan doa bersama di Pendopo Junjungan depan Rumah Dinas Bupati Inhu, Ahad (4/1/2015) malam tadi.
Hadir dalam acara tersebut cucu Bupati Inhu bernama Tulus yang gugur pada agresi militer, Dwiyana, Ketua LVRI Riau H Himrom Suherman serta juga hadir Forkominda, SKPD, PNS serta pengurus masjid, mushala, tokoh masyarakat, guru, mahasiwa, pelajar, seluruh camat dan kades serta undangan lainnya.
Dalam sambutannya, Dwiyana mengucapkan ribuan terima kasih atas penghargaan yang telah diberikan atas undangan ini. Bupati Tulus merupakan korban bersama ribuan masyarakat Kota Rengat pada Agresi Militer II tahun 1949.
"Saya mewakili ibunda saya Nini yang seharusnya hadir di sini, tapi karena kondisi kesehatan beliau yang tidak memungkinkan maka sebagai pihak keluarga saya memenuhi undangan yang diberikan kepada keluarga kami. Kami mensyukuri dan mengucapkan ribuan terimakasih kepada Pemkab Inhu serta seluruh masyarakat inhu, karna dengan acara peringatan ini bukan hanya mengingat jasa Almarhum Kakek kami saja tapi seluruh pejuang yang telah mengorbankan jiwa dan raga demi membela negara umunya dan Kota Rengat khususnya," ungkap Dwiyana dengan uraian air mata.
Ketua LVRI Propinsi Riau H Himron Suherman dalam acara tersebut mengucapan terima kasih yang tak terhingga atas perhatian Pemerintah Daerah Kabupaten Inhu dan seluruh masyarakat Inhu. Himron Suherman juga salah satu saksi yang masih ada saat terjadi tragedi 5 Januari 1949 tersebut.
Sementara itu Bupati Inhu Yopi Arianto SE mengharapkan agar kegiatan peringatan peristiwa sejarah 5 Januari akan terus dilaksanakan agar bisa membangkitkan semangat juang genarasi dalam bentuk menjaga dan ikut serta dalam pembangunan.
"Saya sangat mengharapkan agar peristiwa besar ini tidak terlupakan, sangat besar apa yang telah diperjuangkan oleh para pejuang sehingga Kota Rengat dan Kabupaten Inhu bisa menjadi seperti sekarang ini. Dengan terus mengingat dan mengenang maka diharapkan generasi penerus bisa mengerti dan memahami arti sebuah perjuangan dan bisa membangkitkan semangat generasi muda untuk ikut berjuang tidak dengan berperang lagi tapi dengan mengisi pembangunan untuk jadi lebih baik," ungkap Yopi. (her)